Aku Adalah Indah#Part 2

Aku Adalah Indah#Part 2
AaI#3. BAB.10 – SEMAKIN AKRAB


__ADS_3

Pengalaman tak terlupakan menjadikan lima Desember sebuah kenangan manis, Indah mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan idolanya atas bantuan dari Vano, Acara konser itu selesai hampir jam dua belas malam, setelah konser mereka berdua bahkan masih sempat pergi makan nasi goreng di terminal Bis.


Keakraban antara Indah dan Vano tercinta begitu saja, bercerita tentang banyak hal, mulai dari pandangan politik, kehidupan bahkan sampai musik musik yang mereka sukai, benar - benar sebuah perbincangan yang bersambung sambung terus menerus.


Indah bukanlah orang yang akan berbicara banyak jika tidak merasa nyaman atau cocok dengan lawan bicaranya, perbincangan mereka cukup panjang sampai mereka sendiri tidak sadar jika kini sudah pukul dua subuh.


"Aku tidak menyangka kamu yang berusia sembilan belas tahun bisa memperhatikan dan perduli terhadap politik yang ada di negara kita," Puji Vano sambil meminum Teh panas yang tersedia du mejanya,


Sambil menggendikkan bahunya Indah tersenyum, "Kalau bukan kita lantas siapa lagi? kalau nunggu tua lantas kapan negara ini akan berkembang? terkadang orang - orang tua itu butuh masukkan dari anak - anak muda seperti kita bukan? Negara kita kan bukan hanya miliknya orang paruh baya saja, justru kita generasi muda adalah tonggak dan dasar dari kemajuan Negara ini" lagi Indah memasukkan tahu tek pesanan keduanya setelah menghabiskan satu piring nasi goreng di hadapannya.


Vano melihat bagaimana nafsu makan Indah seketika tertawa tidak tertahankan,


"Kenapa kamu tertawa? kamu merasa lucu dengan pandangan ku yang perduli terhadap politik di negara ini?!" tanya Indah yang mulai kesal,


"Bukan... Bukan itu..." ucap Vano sambil tertawa,


"Terus apa yang lucu?, Aku pulang nih kalo kamu ketawain aku terus." Ancam Indah ketus,


"Maaf...maaf bukan itu maksudku, aku tertawa karena melihat porsi makan mu Indah... aku tidak sangka kamu yang sekecil ini bisa makan sebanyak itu..." ucap Vano sambil terus tertawa,


"Oh.... aku kira kamu mengejekku Vano... kalau soal makanan yah... begitulah aku, kamu tau Lufy One Piece kan? nah perutku juga sama dengan dia .. perut karet, hahahaa!!!" kelakar Indah sontak membuat orang - orang di sebelah mereka juga ikut tertawa.


Sejak malam itu, Vano dan Indah tidak lagi ada jarak mereka bisa dengan luwes bercerita seperti Roni dan Tomy bercerita kepada Indah. Mereka juga jadi lebih sering pergi keluar ramai - ramai, kadang berdua hanya sekedar nonton lomba band dan sebagainya.


---***---


Natal tinggal beberapa hari lagi, saat Itu Vano bersama Roni datang bersama sama ke Kantor Yayasan untuk mulai mendekorasi kantor Yayasan dengan segala pernak pernik Natal, juga tidak tertinggal Pohon Natal yang merupakan icon di setiap Acara Natal juga mereka bawa, Indah yang juga sudah lebih dulu berada di kantor Yayasan ikut membantu mereka berdua.


"Eh .. Indah.. habis ini kita rame - rame ke rumahku mau nggak?" tawar Vano,


"Gimana yah... aku memang lagi nggak ada rencana ke mana - mana sih hari ini..., tapi kok kayaknya lagi malas aja keluar mampir mampir lagi Van..., mungkin lain kali yah .." benar saja Indah memang lagi malas pergi selain berkunjung ke Kantor Yayasan, tadi sebelumnya Ryan juga ngajak jalan - jalan ke rumah temannya juga di tolak oleh Indah.


Vano berpikir sejenak, dan mereka melanjutkan aktifitas menghias pohon Natal, "Mamiku masak makanan banyak sekali, enak - enak, juga ada kue - kue banyak, ada brownies kukus, buatan mamiku sangat enak Indah, apakah kamu tidak mau mencobanya?"


Indah tertawa mendengar tawaran Vano, "Yah ampun Vano... kamu itu kalau ngomong... kamu kira aku ini anak kecil yah? aku memang suka makan Vano... tapi aku tidak akan tergiur kalau lagi tidak mood.., nanti next time kita ke rumah kamu yah..." tolak Indah baik - baik,


"Lalu rencana kamu apa habis ini?" tanya Roni penasaran,


"Aku cuman pengen disini aja... menikmati hasil dekorasi kita sampai bosan, baru aku berencana pulang dan tidur di rumah" kedua laki - laki di hadapannya melongo mendengar rencana Indah yang membosankan,


"Okaylah... kita akan menemani kamu, iyah kan Roni?!" sambil melotot Vano menyenggol siku Roni,


"I..Iyah... kita disini, sama kamu... kita bakar jagung aja... bagaimana? mumpung belum gelap, aku ambil di kebun belakang kantor" tawar Roni,


"Disini ada kebunnya Ron?" tanya Vano heran,


"Iyah... ada sebelum kamu bergabung kami sering menanam, termasuk Indah juga ikut menanam,"


"Okaylah... kalau begitu... " canda tawa mengisi waktu mereka, disaat Indah sedang menikmati gemerlap lampu - lampu natal, Roni dan Vano entah kemana, mungkin mereka lagi mengambil jagung di kebun belakang, pikir Indah.

__ADS_1


Iyah benar..., Roni datang dengan beberapa Jagung muda di tangannya, sedangkan Vano belum muncul, ketika Roni dan Indah sedang menyusun kayu untuk di buat api unggun, Vano datang dengan sepeda motornya, membawa beberapa kantong plastik yang terlihat penuh.


"Kamu dari mana?" tanya Roni sambil membantu Vano,


"Dari rumah, aku bawain makanan, supaya kalian rasa makanan mamiku, kalau ada acara bisa pesan juga di mami, ayo... sini - sini," panggil Vano kepada Indah,


Indah tidak habis pikir, sebegitu niatnya Vano sampai - sampai pulang kerumahnya dan membawa dua susun rantang yang berisi lauk pauk serta sayur mayur berbagai macam, mata Roni berbinar menatap banyaknya makanan dengan berbagai macam menu, Pemandangan yang menggelikan bagi Indah.


"Ayo... kita makan..." ajak Vano, dan tanpa sungkan - sungkan mereka bertiga makan bersama, Indah sesekali manggut - manggut mengakui jika masakan mami Vano memang lezat,


"Mengapa mami kamu tidak buka rumah makan Van?" tanya Indah,


"Mereka tidak ada modal Indah, papiku hanya pensiunan tentara berpangkat rendah, dan menikah di usia sudah tua, jadi yah... mami hanya terima pesanan - pesanan saja," ungkap Vano tidak dengan perasaan canggung,


"Oo... gitu, lalu kalau menjelang natal begini, mami kamu terima pesanan kue nggak?" tanya Indah,


"Iyah.. pesanannya banyak sekali, tapi dia kasih brownies beberapa potong untuk kita bertiga, habis makan ini baru kita coba brownies buatan mamiku yah.." Indah tersenyum mendengar Vani bercerita,


"Keluargaku sederhana Indah... kami hidup apa adanya, kakak laki - lakiku pegawai di salah satu perusahaan BUMN, Sedangkan Kakak perempuan ku masih honor di kantor pemerintahan, dan aku masih kuliah."


"Syukurlah jika kedua kakak mu sudah bekerja Van..., semoga kamu juga segera mendapatkan pekerjaan yah..." dengan tulus Indah mendoakan Vano, karena Indah ingat bahwa Vano pernah minta surat bebas penyakit HIV dan AIDS sebagai salah satu syarat administrasi.


"Iyah... sebenarnya aku sudah di terima Indah, hanya saja.. kontrak perusahaan itu mengharuskan aku pergi keluar pulau, aku masih mikir - mikir, kan aku belum selesai kuliah, Papiku sekarang sudah berusia tujuh puluh tahun, mamiku berusia enam puluh tahun, kakak laki - laki ku kerja di lombok, sedangkan kakak perempuan ku sering keluar masuk rumah sakit karena sakit kuning, jika aku juga keluar pulau lantas siapa yang menjaga mereka, jadi aku pikir biarlah aku disini saja, dan fokus menyelesaikan kuliahku, aku ingin mendaftar jadi pegawai negeri sipil saja Indah... agar tetap dekat dengan kedua orangtuaku juga kakakku"


Indah membatin ternyata Vano seorang anak yang berbakti, dan juga sangat apa adanya.., "Iyah baguslah semoga kamu mendapatkan apa yang kamu inginkan yah Van..." Indah menyemangati Vano, "Lalu bagaimana denganmu Ron? apa rencanamu kedepan?" tanya Roni,


"Aku mungkin mau pulang kampung sih Indah .. peluang di sana lebih besar, Almarhum papaku juga mantan wakil Bupati di sana.. yah aku rasa peluangku dan Tomy akan lebih besar di sana.."


"Iyah begitulah .. tapi tidak apa - apa..., mamaku juga seorang pegawai negeri sipil, jadi walaupun kami yatim mama masih bisa menghidupi kami..." Ucap Roni sambil memasukkan daging panggang yang di bawa oleh Vano.


"Lalu bagaimana denganmu Ndah? apa rencanamu?" tanya Vano


"Aku? Entahlah .. Aku pernah berambisi tinggi dalam hidupku tapi kalau sekarang rasanya aku pasrah saja, dan aku juga sudah tidak ada semangat untuk kuliah lagi, aku juga sudah kerja, jadi aku pikir aku akan fokus kerja saja, mengumpulkan banyak uang, dan keliling dunia mungkin?, sebelum aku harus memasak di dapur untuk suami dan anak - anakku kelak, hahahaha" ucap Indah sambil berkelakar,


"Heemmm... jadi kamu punya pikiran untuk berkeluarga juga yah Indah? lalu apakah kamu sudah menemukan calon untuk masa depanmu?" tanya Roni,


"Harusnya sudah... tapi sayang kami beda keyakinan, jadi yah sekarang aku jomblo dulu lah... nanti kalau dapat yang pas dan seiman mungkin kamu orang pertama yang akan tau Roni" Indah menjawab sembari memukul lengan Roni,


"Apakah dia harus kaya seperti kriteria mu itu baru kamu mau Indah?" kini giliran Vano yang bertanya,


" Kok kamu tau kalau dia kaya?" Indah bingung bagaimana Vano tau,


"Yah.. aku rasa dia cowok yang beberapa minggu lalu datang kesini dengan mobil silvernya,"


"Kok kamu bisa menduga kalau itu dia?" sambil menunggu jawaban Vano, Roni dan Indah dengan serius menatap Vano sambil memakan terus makanan yang masih terisi di rantang - rantang.


"Pertama, kamu sampai berdandan all out pada hari itu, kamu... terlihat berbeda, wajahmu sumringah, entah pengaruh pemerah pipi atau memang alami saat dia melambaikan tangan denganmu pipimu kayak udang rebus, dan mata kalian... pandangan mata kalian tidak bisa menutupi pancaran cinta yang kalian rasakan saat itu.." Roni langsung bertepuk tangan mendengar penuturan dari Vano, Indah pun ikut bertepuk tangan dan menggelengkan kepalanya karena tidak menyangka jika tebakan Vano sangat jitu.


"Wah.. wah... kamu bisa menjadi psikologi cinta Vano" goda Roni,

__ADS_1


"Wah.. luar biasa... benar sih.. semuanya... tapi pertanyaan kamu sebelumnya, pria yang menjadi pendampingku ku tidak harus kaya, yang penting rajin dan bertanggung jawab, mungkin itu cukup"


"Apakah harus tampan?" tanya Vano,


"Entahlah Vano, lelaki tampan sungguh sulit di jinakkan, aku bosan dengan lelaki tampan, hahahahah!!! mungkin untuk saat ini aku akan mencoba dengan seseorang yang biasa saja... asal dia bisa membuat aku nyaman.. tampan tapi membuat perasaanku was was... rasanya percuma., eh..mana brownies nya" tanya Indah, dan Vano memberikan kue brownies kepada Indah dan Roni, mereka masih melanjutkan sesi tanya jawab atau deep talk malam itu.


"Hemmm... Aku yakin satu hal Indah... ingat ini adalah kata - kata pamungkas ku.."


"Apa itu?"


"Kamu juga dengar Ron! jangan makan terus"


"Iyah..iyah Van.. apaan?"


"Apa yang di sampaikan dari hati dengan tulus akan sampai juga kehati orang yang di sayanginya... dan mencintai tak hanya sebatas mencintai... tapi bagiku.. mencintai itu harus dalam dan terus menggali.." dengab mantap Vano bersyair...


"Wwuuuuuaaaahhhh!!!! ckckckckxk... Gila gila... pantas saya Rika ngejar kamu selama empat tahun" goda Roni,


"Heeemmm... kalau terus terus menggali lantas tidak tau seberapa dalam dong?" tanya Indah,


"Iyah... cinta yang sejati adalah cinta yang tidak bisa diukur Indah, dan Cinta tidak akan abadi jika tidak ada usaha untuk memperdalamnya... karena cinta pasti di uji bukan? Nah cinta yang dalam dan terus menggali adalah cinta yang tidak lekang oleh waktu... sampai kapanpun... Endless Love... thats I mean, dan itulah bagi aku makna dari Endless Love.." sambil mengangguk kan kepala Vano meyakinkan Indah,


"Emang ada cinta yang seperti itu Van?" tanya Indah...


"Tentu saja.. pasti ada di dunia ini walau jarang yah... tapi pasti ada.., kalau aku melihat itu pada sosok papi mamiku, aku yakin cinta mereka adalah Endless Love..."


"Hem... aku mau dong... punya cinta kayak gitu... ahahahhaa!!!" Ucap Roni,


"Kamu bisa kalau kamu memperjuangkan nya Ron... seperti aku yang sekarang sedang berusaha memperjuangkan nya" ucap Vano sambil melirik Indah,


"Oh yah? siapa dia?" tanya Indah...


"Apa yang ku sampaikan dari hati pasti akan sampai ke hatinya juga .. jadi suatu saat kamu pasti tau siapa dia" Vano menjawab Indah dengan senyuman yang teduh.


"Aku tau siapa Dia..." sahut Roni..


"Siapa??" tanya Indah,


Vano langsung melotot kepada Roni, dan Roni yang tidak kuat menahan tawanya langsung berdiri dan hendak berlari sambil berteriak "Itu kamu Indah Ahahahaah!!! itu kamu ahahahahah!!!" teriak Roni dan Vano menundukkan kepalanya dengan wajah memerah serta menggelengkan kepalanya karena malu.


Indah terbahak mendengar Roni yang dengan sengaja menggoda Vano, namun Indah tidak menanggapi perkataan Roni dengan serius, sampai akhirnya mereka hanya saling menggoda hingga perut mereka tak sanggup lagi menampung makanan makanan yang ada, dan keakraban yang terjalin kini lebih jauh lagi satu atau dua atau bahkan tiga langkah kedepan.


---***---


Bersambung


halo teman2 mohon saran dan kritik yah jangan lupa like like nya, coment dan vote nya dong teman2 semua..


sambil menunggu update terbaru Aku adalah Indah part 3, kalian bisa baca Novel terbaru aku yang berjudul “STRONG IN BETRAYAL” yang tayang setiap hari pukul 13.00 WIB

__ADS_1


makasi sebelumnya, dan jgn lupa Follow IG aku yah @Lizbet.lee


__ADS_2