
Sebuah ejekan dari Mamanya Indah, yang biasanya berujung pada pertengkaran berubah dikala Indah memilih untuk menyendiri selama satu minggu dari Vano, kini mereka berdua terbahak bersama hingga menciptakan kembali kemistri antara Ibu dan Anak yang telah lama hilang, hingga mereka terbawa pada sebuah percakapan normal yang selama ini tidak pernah terjadi.
“Indah...”
“Iyah ma..?”
“Mama... minta maaf yah.. kalau selama ini mama sering kasar sama kamu..., tapi..., ada alasan yang kuat mama melarang Kamu sama Vano, mama takut kamu hidup susah seperti kita dulu Ndah.., tapi mama tetap akan berkomitmen memberikan waktu untuk kalian, tapi kamu juga harus janji, jika saatnya tiba dan mama yakin Vano tidak akan bisa mengejar waktu yang mama berikan maka kamu harus putuskan dia, nanti mama ajak kamu ke Jawa, kamu lanjutkan sekolahmu di sana yah..” Miris rasanya hati Indah mendengar ucapan mama, dengan air mata yang sudah jatuh di pelupuk matanya Indah tak dapat berkata – kata.
“Jangan minder dengan keadaan kamu Ndah..., jangan...” Kini Indah menatap wajah mamanya, dengan perasaan yang tidak karuan, tentu saja Indah paham maksud dari ucapan sang mama,
“Seburuk – buruknya keadaanmu, kamu tetap tidak pantas mendapatkan laki - laki kayak Vano, bagi mama Vano tidak akan mampu menjadi kepala rumah tangga yang baik untuk kamu, dia..., maaf yah nak.., dia kurang inisyatif, dan tidak pintar..” mama berbicara dengan tenang kali ini, tidak lagi menggebu – gebu seperti biasanya,
“Mama tau dari mana dia nggak pintar ma?” tanya Indah..
“Dari setiap ucapan yang selalu mama dengar, kamu pikir selama ini mama nggak tau apa yang kalian bicarakan? Mama sering nguping Ndah.., dia itu sok pintar.., sudahlah nurut sama mama.., kalo mama sarankan jangan buang – buang waktumu, ini adalah masa emasmu Indah.., kamu akan menemukan lelaki atau bahkan Pria yang tampan, pintar kerja, pintar dalam segala hal dan akan menerima mu apa adanya..” mama kembali meyakinkan Indah dengan harapan pikiran Indah kali ini terbuka.
“Mama???? Selama ini mama sering nguping? My God mama... itu melanggar privasi ma..” Indah antara terkejut dan mengaminkan ucapan mama dalam hatinya, namun Indah tetap menutupi kekurangan Vano di hadapan mama.
“Ndah..., Demi masa depan kamu, mama rela melanggar smua privasi yang ada, mama banyak salah sama kamu, memanfaatkan kamu, mama harus menebusnya dengan cara tidak membiarkan kamu menikah dengan orang yang salah, nanti kedepannya kamu sendiri yang susah Ndah..., bukan mama..” Tegas mama, Indah heran dan sungguh tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
Hubungan yang rumit antara Indah dan Mama Mery bagaikan Laut yang ada di hadapan mereka, selalu saja ada pasang dan surutnya. Walau rasa sayang Indah kepada Mama tidak pernah berubah namun kepercayaan itu telah lama hilang, bahkan dengan sadar mama mengakui pernah memanfaat Indah demi kepentingannya, kenangan akan Mathew membuat Indah sontak berpikiran negatif lagi kepada mamanya.
‘Apakah mama memiliki maksud terselubung dengan sikap manisnya saat ini? Tapi...., bukankah ini semua terjadi spontan karena rasa lucu dan guyonan yang membuatku dan mama tiba – tiba saja akrab..., tapi..., gimana kalau memang mama punya maksud lain..’ kembali hatinya berperang dengan sejenak menatap ngeri kepada wanita yang melahirkannya.
__ADS_1
“Iyah ma.., terima kasih ma..” jawab Indah dengan singkat sambil menutupi gejolak di hatinya. Lalu terdengar langkah seseorang dari belakang, mereka sama – sama menoleh kebelakang, Mama terlihat sumringah menyambut kedatangan laki – laki tersebut.
“Nah.. Indah.. kenalkan ini Dewa.., dia Kapten Kapal mama.., dia yang menyelam mengambil teripang mama..., kenalkan Wa.., ini anak saya yang pertama..., cantik kan? Sini sini..” ucap mama seraya menarik tangan Dewa, dan melihat tingkah Mama, Indah langsung saja curiga dengan sikap mama dan sikap laki – laki di hadapannya ini.
“Selamat siang Nona Indah.., saya Dewa...,” Ucapnya sembari mengulurkan tangan, Indah yang melihat gelagat tidak pas saat itu, mengabaikan uluran tangan anak buah mamanya dengan tersenyum kecil dan mengangguk kepalanya,
“Iyah..” singkat.., hanya satu kata yang terucap dari bibir Indah, setelahnya Indah melihat mama yang sudah berubah ekspresi, mama lantas saja melengos dan meninggalkan Indah dengan Dewa berdua,
“Mama.., mau beli Es Teh dulu, kamu mau nggak?” tanya mama sambil berjalan,
“Nggak ma.., terima kasih..” jawab Indah, setelah Mamanya hilang dari hadapannya, Indah memilih untuk meninggalkan Dewa yang masih mematung di hadapannya.
“Mau kemana Non?” Tanya Dewa ramah,
“Saya antar Non..” lagi Dewa berusaha untuk mengajak Indah berbicara, Indah merasa risih sangat risih saat itu,
“Nggak usah kamu tunggu mama saja disini..” Indah masih berusaha untuk tenang menjawab Dewa, walau hati kecilnya merasa ada yang tidak beres dengan semua keadaan ini.
“Tapi saya takut di marahi Nyonya Non kalau saya biarkan Nona Indah jalan sendiri..” ucap Dewa sopan,
Indah tetap berjalan menuju ke parkiran mobil miliknya tanpa peduli dengan semua ucapan Dewa, begitu juga dengan Dewa yang tidak peduli dengan ucapan Indah, dia terus saja mengekor di belakang Indah kemanapun Indah pergi.
“Kamu tidak mengerti bahasa Indonesia yah? Saya tidak suka kamu ikuti, kamu paham?!” bentak Indah tak dapat lagi menahan rasa emosinya,
__ADS_1
Dewa tidak menjawab apa – apa, hanyaa diam namun setiap Indah melangkah saat itu dia juga ikut melangkah, rasa geram dan emosi stadium empaat ditahannya, Indah berusaha untuk menenangkan dirinya agar dapat berpikir jernih, kali ini Indah berpikir untuk mencari mamanya saja dari pada harus ke parkiran mobil dan diikuti begini, yang ada nanti orang – orang salah paham dengan pemandangan yang sangat memuakkan di hadapannya.
Berjalan kesana kemari mencari mamanya, Indah tidak juga menemukan mamanya, bukannya tadi pamit beli Es Teh sudah lima warung makan terdekat Indah hampiri, namun tidak juga terlihat batang hidung mamanya, rasa emosi sudah naik ke ubun – ubun dan siap meledak bagaikan Bom Hirosima ketika suara godaan mengganggu pendengarannya.
Bukan di goda layaknya wanita single, Namun Dewa lah yang digoda oleh orang – orang dikampung tersebut,
“Wah Dewa..., akhirnya cita – citamu jadi anak mantu Bos kayaknya sebentar lagi terwujud Dewa..” kelakar salah satu pemuda di sana yang sedang duduk main kartu dengan teman – temannya, Indah melirik Dewa, yang terlihat malah anak buah mamanya ini tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya, tidak ada sangkalan apa – apa dari mulut Dewa membuat Indah semakin berang.
“Heh!! Bangsat!!! Jangan ngawur kamu kalau ngomong yah! Saya anaknya Bos, tidak mungkin saya sudi dengan anak buah mama saya sendiri, dan Kamu!!! Kurang ajar!! Malah ketawa – ketawa, Pergi Kamu!!!” bentak Indah kepada temannya Dewa dan tentu saja kepada Dewa dengan penuh emosi, dadanya sudah kembang kempis tidak karuan, suasana yang tadinya baik – baik saja sontak menjadi kacau, kala beberapa orang mengerumuni Indah yang tengah marah – marah dengan kalap.
Bukannya semakin tenang kala banyak orang bergerombol, Indah semakin emosi, “APA KALIAN LIHAT – LIHAT!!! PERGI!!!” Teriak Indah membuat semua orang jadi takut dan bisik – bisik seperti suara tawon,
“INDAH!! Apa – apaan ini?!!!” Suara Mama tidak kalah menggelegar terdengar di balik punggung Indah, seketika Indah membalikkan badannya, tatapan tajam bagai pedang bermata dua sama – sama terpancar di sorot mata Ibu dan anak ini, membuat siapa saja merinding ngeri.
‘Mama.. you are my real Eternal Enemy..’ lirihnya dalam hati.
Bersambung
halo teman2 mohon saran dan kritik yah jangan lupa like like nya, coment dan vote nya dong teman2 semua..
sambil menunggu update terbaru Aku adalah Indah part 3, kalian bisa baca Novel terbaru aku yang berjudul “STRONG IN BETRAYAL” yang tayang setiap hari pukul 13.00 WIB
makasi sebelumnya,
__ADS_1
jgn lupa Follow IG aku yah @Lizbet.lee