Aku Adalah Indah#Part 2

Aku Adalah Indah#Part 2
Episode 50


__ADS_3

"Oalah, aku kira kamu dandan karena memang mau nunggu aku" Goda Dhino kepadaku, hatiku senang dengan percakapan sederhana kami, aku semakin nyaman dengan Dhino, ada rasa egois, ingin menjadi lebih dari sahabat itulah yang ada di otakku sekarang, tapi aku tetap akan menahan keinginan jahatku ini, mengingat aku sudah berbohong tentang keadaanku sekarang sama Dhino, alangkah baiknya Dhino tidak tau kalau aku ada rasa ingin menjadikannya sandaranku untuk sementara.


"Yah udah kalau gitu kita jalan - jalan yukk sekarang" ajak Dhino,


"Serius?" tanyaku kepada Dhino, dan Dhino mengangguk kepalanya sambil berdiri mengambil piring - piring yang ada di meja makan juga gelas yang ada,


"Kamu siap - siap aku taruh piring - piringnya ke belakang yah" ucapnya membuatku kagum dengan sikap Dhino, aku bersorak bahagia, dan segera mengganti bajuku di kamar, lalu kami bersiap - siap untuk jalan - jalan berdua malam itu,


Angin malam ini mampu membuatku semakin dekat denganmu..


Debaran jantungku, tak lagi ramah seperti biasanya,


Aku menemukan sosok yang sedang kubutuhkan saat ini,


Namun, tega kah aku mengelabuhimu?


Sedang hatiku semakin hari semakin egois, untuk menjeratmu dalam pesona semuku,


"Aku bukan tukang ojek yah..." ucap Dhino,


"Hehehe..." tawaku menggema di telinganya sekaligus kukalungkan tanganku di pinggang Dhino malam itu, kami sejenak hanya terdiam tanpa mampu berkata - kata, kami sama - sama menikmati keheningan malam ini, hanya alunan bisikan lembut angin malam yang membuat perjalanan kami semakin intim, Pikiranku semakin egois, aku benar - benar butuh seseorang yang dapat memperlakukan diriku seperti seorang wanita yang memang dicintai oleh seorang pria secara pantas.


"Mau makan lagi?" tanya Dhino memecahkan keheningan kami,


"Nggak.., atau kamu lapar? kalau lapar aku temani makan yukk" ajakku lagi kepada Dhino,

__ADS_1


"Nggak.., aku takutnya kamu yang lapar" aku tersenyum mendengar perhatiannya Dhino kepadaku,


Malam ini kami habiskan hanya dengan mengelilingi kota kecil kami berdua, sedikit bercanda tentu saja menjadi bumbu manis kami malam itu, hingga tiba malam hampir pada puncaknya, kami pun memutuskan untuk pulang, setelah Dhino mengantarkanku dan memastikan aku masuk ke dalam rumah dengan aman barulah Dhino memutar motornya dan juga pulang kerumahnya.


Aku berlari menuju ke kamarku, kembali mengingat moment yang baru saja kami lewati berdua, sungguh malam yang manis, dan perbedaan Dhino sungguh manis, berbeda dengan sikap Nio yang selalu berubah - ubah bagaikan cuaca yang tak menentu, selalu saja membuatku sulit bersikap dengan benar dihadapan Nio, tapi dengan Dhino rasanya aku tak perlu bersikap manis hanya untuk membuatnya senang kepadaku, namun cukup aku menjadi diriku sendiri saja kami merasa sama - sama nyaman dengan keadaan kami.


Kriiingg...Kriiinggg...Kriiinggg


Telpon rumahku berbunyi, segera kuangkat gagang telpon dengan malas, karena aku ingin menghabiskan malamku dengan memikirkan kenangan yang baru saja aku ukir bersama Dhino, Ketika aku mendengar suara di balik gagang telpon ini seolah malamku akan semakin sempurna,


"Belum tidur?" Tanya Dhino, aku tersenyum mendengar basa basi Dhino


"Baru saja aku mau terlelap sudah di ganggu sama suara telpon yang masuk, jadi yah mau nggak mau aku harus menunda waktu tidurku dulu untuk menjawab telpon orang ini" jawabku pura - pura sebal,


Dhino menanggapinya dengan tertawa, "Indah.."


"Hemmm.., bukan hanya kangen.." ucap Dhino,


"Sudahlah stop bercanda Dhino, ayo tidur Dhin.. uda malam" jawabku,


"Serius? mau ngajak tidur bareng?" goda Dhino lagi kepadaku,


"Iyah.. tapi kamu di rumahmu dan aku di rumahku, pikiranmu itu loh" sontak kami tertawa lagi bersama - sama,


"Indah.., aku rasa aku jatuh cinta sama kamu.., aku tidak ingin kamu menjawab perasaanku sekarang Indah.., aku hanya ingin kamu tau, dan ini bukan bercanda yah" ucap Dhino dengan cepat dan tegas, sepertinya dia takut aku memotong kalimat yang dia sampaikan,

__ADS_1


"Apakah aku boleh menjawabnya sekarang?" tanyaku kepada Dhino, perasaanku saat ini sungguh bahagia, namun juga sedih dan ada rasa bersalah tentu saja perasaan ini yang paling kuat, namun keinginan terbesarku saat ini adalah aku memang ingin membalas perasaan Dhino, karena aku juga merasa sayang kepada Dhino,namun aku yakin ini bukan jatuh cinta, tapi ini hanya pelarian yang kejam untuk Dhino.


Tapi aku juga ingin sekali ini menjadi sangat egois karena keadaanku dan aku membutuhkan seseorang yang dapat memulihkan hatiku, walau dengan cara yang salah dan jelas saja mengorbankan Dhino.












__ADS_1



Bersambung


__ADS_2