
"Makasi Dhino," ucapku, sedikitnya aku mendengar Dhino berbisik di balik ponselnya, "Kamu ngomong apa barusan?" tanyaku kepada Dhino karena penasaran dengan pendengaranku barusan.
"Gak dengar yah?" jawab Dhino,
"Iyahlah ngomongnya bisik - bisik mana aku dengar," protesku sambil cemberut di balik gagang telpon yang aku pegang.
"Yah udah kalau gak dengar, besok atau lusa aku ngomong ke kamu yah" jawab Dhino,
"Okay" jawabku, setelah sama - sama berpamitan kami pun mengakhiri telpon kami, dan ketika aku memutuskan sambungan ponsel ini, aku melihat ada pesan yang sudah masuk dari tadi, nafasku berat seberat niatku untuk membaca pesan ini, namun rindu ku lebih berat dari yang lainnya.
Akhirnya aku memutuskan untuk membuka pesan dari Nio,
"*Indah.., kamu lagi ngapain? dari tadi aku telpon tapi ponselmu nadanya sibuk terus" *isi pesan pada ponsel ini membuatku mengharuskan untuk membalasnya,
"Tadi temanku telpon aku, kamu kemana saja Nio? aku kangen sama kamu" balasku jujur,
"*Aku lagi ada kerjaan sama Jimmi, jadi mungkin dalam sebulan ini Aku tidak bisa rutin ke rumahmu, waktu kita juga mungkin akan tersita dengan semua kegiatan yang ada" *Jawab Nio,
Ragu - ragu aku membalas pesan singkat yang Nio sampaikan, ada rasa curiga yang sangat besar di dalam hatiku, apakah benar? memang benar Nio kerja sambilan di EO yang dibuat dengan Jimmi, semua pikiran itu semakin menorehkan perasaan yang membuatku meragukan segala alasan Nio, namun aku mencoba untuk tenang, tapi sisi egoku atau bisa di katakan sisi gelap ku saat ini mulai merasuki, tapi aku mencoba untuk mengabaikannya, aku takut untuk melakukan apa yang sekarang sedang aku pikirkan.
Terlalu banyak berpikir membuatku sangat mengantuk, hingga rasanya pikiranku sudah menguasai ku bahkan di alam bawah sadar ku, Bahkan keesokkan harinya aku bangun dengan kondisi badan yang pegal - pegal luar biasa, tanpa semangat seperti yang aku harapkan setiap harinya.
Hari ini aku melanjutkan aktivitasku seperti biasanya, namun hari ini aku tidak ke kampus, dan ketika hampir sore hari, aku menerima pesan singkat lagi dari Nio, yang memintaku untuk datang kerumahnya, entahlah untuk apa aku tidak tau, tapi Nio meminta agar aku datang cepat - cepat, Aku bergegas siap - siap ke rumah Nio dan tanpa perlu pamit siapa - siapa aku segera pergi ke rumah Nio.
Sesampai di rumahnya aku juga tidak mendapati siapa - siapa di rumah itu, lalu aku mengetuk pintu kamar Nio dan terdengar suara Nio memanggilku untuk masuk, lalu masuk ke kamar Nio setelah dipersilahkan oleh si pemilik kamar,
"Hai... apa kabar?" Tanya Nio basa basi,
__ADS_1
"Ada apa Nio? kamu kok manggil aku suruh cepat - cepat datang kesini?" tanyaku,
"Yah mumpung nggak ada orang di rumah" jawab Nio sambil beranjak mendekati arah aku berdiri, lalu memegang pinggangku dan tanpa menunggu dengan rakus Nio mencium bibirku, aku terengah - engah di buatnya, perasaanku sangat berbeda saat ini, Ciuman ini juga terasa berbeda, tidak dengan kasih sayang, ada rasa kecewa di dadaku, aku merasa seperti perempuan panggilan, lalu aku sedikit mendorong tubuh Nio dengan lembut agar tidak membuatnya tersinggung.
"Nio.., apakah kamu benar - benar sayang sama aku?" tanyaku dengan suara bergetar,
"Kenapa tanya kayak gitu," jawab Nio sambil terus berusaha agar aku mau memberikan apa yang sangat sedang diharapkannya,
"Nio.., aku serius, ada yang ingin aku tanyakan sama kamu" Aku mempertegas suaraku agar mendapat perhatian dari Nio.
"Nanti saja, setelah kita melakukannya" ucap Nio dengan penuh nafsu yang sudah sangat menggebu - gebu, Kabut di matanya menunjukkan semua hasrat yang ada tidak lagi dapat di bendung, sampai akhirnya kami kembali melakukannya lagi, ada ngilu dan sakit di dada, seperti teriris - iris hatiku, bagaimana tidak?! Aku bagaikan perempuan panggilan setelah habis di pakai, Nio langsung saja mengabaikan ku, dan sibuk dengan ponselnya, dia buru - buru beranjak ke kamar mandi untuk membersikan diri, sedangkan posisiku masih kelelahan penuh keringat dan terbaring tanpa sehelai benangpun.
Melihat Nio meninggalkan kamarnya dengan memegang ponselnya sambil mengabaikan diriku membuatku tidak karuan kacau, hingga akhirnya niat burukku semalam kembali ada di otakku, aku buru - buru mengenakan kembali pakaianku lalu duduk di tempat tidurnya dan memilih untuk menunggu Nio hanya untuk sekedar tau apa yang akan dia katakan lagi kepadaku setelah ini.
Nio kembali kekamar sudah dengan pakaiannya, kembali aku penasaran dengan pakaian yang di gunakan oleh Nio, "Baju baru?" tanyaku,
"oh ini? iyah " jawabnya sambil tersenyum lalu dia menggunakan pelembab wajahnya, sepertinya dia akan keluar,
"Bukan kok, aku di belikan sama teman" jawab Nio,
"Oh.., teman kamu yang kerja di Bank itu? yang adiknya selingkuhannya di Saga?" tanyaku culas,
"Kamu kenapa sih?!" Nio bertanya dengan Gusar,
"Sebenarnya kamu ada hubungan apa Nio sama Kakaknya Dara itu? dan Dia itu memangnya teman seakrab apa sama kamu? sampai - sampai kamu dibelikan baju kayak gitu? bahkan kamu tidak pernah mengenalkanku sama dia." aku sudah tidak mampu membendung perasaanku,
"Dia hanya teman! kamu nggak percaya sama aku?!" jawab Nio dengan suara yang agak tinggi, aku masih merasa sangat kesal kali ini,
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak mengenalkan aku sama dia?" tanyaku lagi mendesak Nio,
"Nanti suatu saat pasti aku kenalkan Indah!" jawab Nio, aku merasa bosan dengan semua teka teki sikap Nio yang tidak bisa aku baca, kemana arah pikiran Nio, bahkan aku menjadi sadar bahwa aku tidak pernah menjadi diriku sendiri ketika aku bersama dengan Nio.
"Aku mau pulang" jawabku,
"Iyah aku antar habis ini, aku juga mau pergi ada rapat sama Jimmi" jawab Nio,
"Nggak usah antar aku, nanti kamu repot, biar aku pulang sendiri saja" jawabku,
"Yah sudah kalau itu mau mu, hati - hati di jalan" sahut Nio, tanpa mau memperpanjang kata, bahkan aku tidak mau melihat mukanya, aku memilih keluar dari kamar Nio, dengan Niat balas dendam kepada Nio, aku tau Nio banyak sekali membohongi aku, semua sikap Nio benar - benar tidak bisa di percaya sama sekali.
Sesampai di rumahku, aku mandi membersihkan diriku dalam diam, airmataku ikut jatuh bersamaan dengan shower yang mengalir seperti hujan, sambil berpikir "Jika diluar sana Nio bisa mencari kepuasan dan kebahagiaannya sendiri dengan sangat egoisnya, mengapa aku harus menutup hatiku untuk laki - laki lain diluar sana, yang mungkin saja mereka jauh lebih baik dari Nio, atau bahkan justru mereka yang diluar sana itulah pelabuhan terakhir untukku." gumanku dengan egois.
*
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
Bersambung,
jangan lupa like dan coment yah.., biar aku makin semangat nulis teman - teman