
Semua nasihat Nita kepada Indah sungguh masuk ke dalam relung hati Indah yang paling dalam, Indah tidak ingin lagi menjadi manusia yang plin plan dan suka mempermainkan perasaan orang, namun rasa penasaran masih saja mengganggu pikirannya.
Indah sangat penasaran dengan reaksi Nio jika Indah mengaku jika dirinya hamil, Indah kembali berpikir akan rencana yang seharusnya tidak di lakukannya atas permintaan Nita.
Sesampai di rumah dan terus saja berulang - ulang kali menimbang langkah apa yang harus di ambilnya, tiba - tiba Nio mengirimkan pesan kepada Indah dan menanyakan apakah Indah sudah tau hasil test kehamilan yang sempat di bicarakan oleh Nio saat makan malam bersama, 'Kesempatan' pikir Indah dan tidak lagi memperdulikan nasehat Nita, yang ada di otaknya hanya rasa penasaran saja.
Hati Indah mulai panas atas jawaban - jawaban Nio yang sebenarnya sudah di duganya, tapi rasanya begitu sulit untuk menerima kenyataan yang terpampang nyata di layar ponselnya, dengan menahan rasa emosi yang memuncak sampai ke ubun - ubun Indah tidak lagi mau berhenti sampai puas mendapatkan hasil akhir dari pembicaraan dia dan Nio.
"Lantas sekarang apakah kita bukan beban mereka? atau kamu tidak ingin masa muda mu yang terbuang sia - sia? Kamu masih ada keinginan Nongkrong atau Dugem atau Tebar pesona bareng teman - teman kamu?" Indah sudah tau bagaimana endingnya hubungan mereka, harapan mempertahankan Nio kini tinggallah harapan yang pupus hilang akibat sikap pengecut lelaki pujaan hatinya, sungguh Indah merasa mempermainkan oleh Nio bukan main.
"Jujur!! Iyah.. aku masih ingin bebas, aku masih belum bisa terikat dengan yang namanya pernikahan, aku juga belum bisa terikat dengan tanggung jawab menafkahi anak, aku belum bisa Indah, maafkan aku.." jawaban Nio memang sudah di duga oleh Indah tapi ketika membacanya dan tau itu adalah pesan singkat dari Nio dan benar - benar Nio orang yang Indah kenal, tentu saja itu semakin membuat dada Indah bergemuruh bagaikan suara ombak tsunami yang siap memporak - porandakan apapun yang ada di hadapannya.
"Terus bagaimana kita harus hadapin ini semua?" balas Indah dengan pertanyaan bodohnya.
"GUGURKAN." Satu kata dari balasan Nio ini membuatnya semakin geram, 'Untung aku tidak hamil betulan kalau aku hamil betulan jadi apa hidupku saat ini, dasar Bajingan!' guman Indah dalam hati.
"Aku tidak mau!!" balas Indah,
"Aku juga tidak mau memiliki anak saat ini, maaf!" kembali Nio menekankan jika Nio tidak ingin apapun itu namanya.
"Kalau kamu tidak mau aku akan laporkan kamu kepolisi Nio!" ancam Indah kepada Nio,
"Silahkan kamu laporkan, aku tetap tidak mau apapun yang terjadi! silahkan!!!" lagi Nio memberikan sebuah jawaban menohok, jawaban yang di kira dan di harap adalah Nio akan takut atau Nio akan meminta maaf kepada Indah, tapi nyatanya sebuah tantangan malah terlontar keras lewat pesan singkat.
"Kamu menantang aku?!" Indah semakin Panas hati.
"Kamu mengancam aku??!! apa kamu tidak mengerti maksudku di atas hah?! Aku sudah jelaskan bagaimana keadaan kita bukan?!" balas Nio,
"Apa semua ini karena Risa bajingan itu?! sampai kamu menyuruh aku menggugurkan anak kandung kamu sendiri?!!" kembali Indah mencari gara - gara,
"Ini semua bukan urusan kamu! jika kamu masih mau hubungan kita berlanjut GUGURKAN anak itu! Aku tidak akan pernah mempertaruhkan masa depanku dan masa muda ku untuk sebuah tanggung jawab yang belum siap aku emban." Wah bukan main... jawaban seorang cover boy cap sandal jepit ini, (Author nulis juga ikut geram dong...)
"Nio?!! Kamu tidak mau mengorbankan masa depanmu dan masa muda kamu dengan membunuh satu nyawa?!" kembali Indah berbalas pesan dengan Nio.
"Terserah!!! tapi Iyah itulah keputusan ku!" jawaban Nio yang terakhir ini sudah membuat Indah muak dan tidak ingin lagi melanjutkan percakapan ini, Indah akan menuruti nasehat Nita, pikirnya saat itu.
"Baiklah kalau begitu mau mu, kita putus sampai disini." jawab Indah tanpa mengharapkan jawaban apapun.
"OKAY!" Bajingan tengik itu ternyata membalas dengan cepat, yah tentu saja dia merasa sangat beruntung dengan permintaan putus dari Indah, Nio tidak perlu lagi pusing dengan pikirannya akan kehamilan Indah, justru sang wanita yang memutuskan nya, Indah membayangkan saat Indah meminta putus dari Nio pasti Nio bersorak kegirangan bukan main.
----***----
"Nita... Aku sudah putus dengan Nio... Aku akan menjalani hubungan ku dengan Dhino sekarang, tapi aku berjanji bahwa semua aku jalani dengan sehat, tidak akan ada lagi melakukan hubungan yang belum seharusnya, aku ingin hidupku berubah Nit.." Jawab Indah sembari memeluk Nita karena Nita lah satu - satunya yang mengerti keadaan Indah sekarang.
"Bagus, kamu sudah memilih seperti ini, semua akan baik - baik saja. Ingat Indah ketulusan adalah dasar dari sebuah hubungan setelah kejujuran, dan aku berharap suatu saat kamu akan jujur dengan Dhino, seperti aku yang juga sudah jujur dengan Ami, apakah kamu bisa Indah?" saran Nita yang di sambut anggukan kepala oleh Indah,
"Iyah Aku tidak akan berbohong kepada Dhino, aku akan melakukan pengakuan dosa kepadanya, urusan dia mau menerima aku atau tidak semuanya terserah Dhino, yang jelas aku sudah berusaha dan tentu saja aku sudah terlepas dari hubungan yang toxic dan menjadi budak kebodohan Nio" Jelas Indah kepada Nita,
"Aku bangga kamu berbesar hati Indah... aku yakin semua akan baik - baik saja... kita akan baik - baik saja, kamu dan Dhino juga akan baik - baik saja." mereka saling menguatkan satu sama lain, walaupun sebenarnya saat itu kondisi Nita tidak sedang baik - baik saja setelah mendapatkan telpon dari mama dan adik perempuan Ami yang meminta Nita untuk memutuskan Ami.
Hari ini adalah hari pertama Indah bertemu dengan Dhino dengan kondisi bahwa mereka benar - benar sepasang kekasih yang tidak ada lagi yang namanya cadangan atau ban serep, dan keadaan ini membuat Indah tidak dapat menutupi kebahagiaannya, Indah menjadi lebih ceria dari biasanya.
"Indah...." panggil Dhino saat mereka bertemu di gerbang kampus sore itu, setelah ngobrol dengan Nita, Indah dan Nita memilih untuk ke kantin karena haus, dan pertemuan manis itu tidak terlewatkan di hadapan Nita,
"Hei..., kenapa kamu lari - lari begitu?" tanya Indah kepada Dhino,
"Aku pengen buru - buru ketemu kamu, hehehehe" jawabnya sambil menggaruk kepalanya,
"Ketombe? atau Kutu rambut?" tanya Indah sengaja menggoda Dhino,
__ADS_1
"What?!! Enak saja!! Aku nggk ada ketombe apalagi Kutu, astaga Indah" jawab Dhino panik sambil menepuk jidatnya,
Tawa Indah dan Nita terdengar renyah di telinga, "Iyah sudah ayok ke kantin, sebentar lagi Ami pasti datang ke sini" ajak Nita kepada sepasang love bird di hadapannya.
"ayukkk" ajak Indah sambil menggandeng Dhino,
"Kamu kok tumben berani gandeng - gandeng aku di kampus?" tanya Dhino heran kepada Indah,
"Kamu gak suka aku gandeng? atau takut ada wanita idaman lain kamu lihat?" lagi - lagi Indah menggoda Dhino yang sudah jelas bahwa tidak mungkin Indah memiliki wanita idaman lain,
"Mana ada aku takut, apalagi punya wanita idaman lain, wanita idamanku yah cuman satu!" jawab Dhino semangat sambil merangkul mesra pundak Indah sambil berjalan.
"Aku duduk di sebelah Nita seperti biasanya," celetuk Indah sambil tersenyum setelah sampai di meja kantin,
"Oh.. tidak boleh, kamu sudah gandeng - gandeng aku jadi sekarang harus tanggung jawab, kamu harus duduk di sebelah aku." Dhino langsung menggandeng mesra Indah dan menarik sebuah kursi untuk di duduki sang kekasih.
Tidak lama kemudian datanglah Ami bergabung dengan mereka bertiga, juga diikuti oleh rombongan anak - anak fakultas hukum di belakang Ami, dan salah satu teman akrab Nio menghampiri Indah yang sedang bercengkrama dengan teman - temannya.
"Indah apa kabar?" tanya nya,
"Aku baik, mau makan kak Ric?" tanya Indah basa basi,
"Iyah, eh kamu tau Nio ada di mana nggak? dari kemarin aku hubungi Dia tapi gak di balas sama sekali, aku telpon di telpon rumahnya juga kata mamanya Nio pergi, kamu tau Nio di mana nggak?" tanya Kak Richi dengan nada khawatir,
"Maaf kak.. Indah gak tau kak.. Indah juga sudah nggak komunikasi dengan Nio lagi" jawab Indah jujur, Iyah sejak berbalas - balasan kemarin, sampai sekarang Indah tidak ada komunikasi apapun dengan Nio lagi,
"Tapi hubungan kalian masih baik - baik saja kan?" tanya kak Richi kepada Indah, yang sontak membuat Dhino memutar kepalanya sepersekian detik untuk melihat Indah dan Richi,
"Aku sudah putus dengan Nio Kak Richi.." jawab Indah datar,
"Hah??!!! Kok Bisa?! yah Ampun kapan?!" Richi memberondong Indah dengan pertanyaan beruntun,
"Maaf Kak Aku lagi tidak ingin membahasnya di depan teman - temanku apalagi di kantin seperti ini, maaf yah kak" lagi Indah menjawab dengan sopan kepada Richi,
"Maaf Indah apakah Aku bisa berbicara denganmu sebentar? kumohon..." pinta Richi dengan sungguh,
Indah tidak langsung menjawab kepada Richi tapi melihat Dhino dan Nita seakan kode meminta ijin kepada kekasih dan sahabatnya itu, dan keduanya memberikan anggukan kepada Indah tanda setuju,
"Baiklah kak.. yukk... kita ke depan" ajak Indah sambil berjalan,
"Indah.. apa maksud kamu putus dengan Nio?" tanya Richi heran,
"Iyah kak.. aku memang putus dengannya semalam." Jawab Indah,
"Emang kalian ada masalah apa?" Richi semakin penasaran,
"Aku akan memberitahu asal kakak juga harus jujur denganku," Indah memikirkan untuk take and give dengan Richi,
"Kok aku?"
"Iyah jelas, karena kamu salah satu sahabat akrabnya Nio" jawab Indah mantap,
"Baiklah.. apa yang ingin kamu ketahui?"
"Apa hubungan Nio dan Risa pegawai Bank B? yang kantornya di sebelah Radio Indonesia?!" dengan mata yang tajam Indah menelisik Richi, dan terlihat jika Richi agak gugup di hadapan Indah,
"Sudahlah jujur saja kak, toh aku dengan Nio tidak ada hubungan apa - apa lagi, aku hanya minta agar kakak jujur aja kak..." Richi terlihat serba salah, namun satu helaan nafas panjang dari Richi membuat Indah yakin jika kali ini segala rasa penasaran di diri Indah akan terjawabkan,
"Iyah... Risa itu suka sama Nio dan Nio memang mendekati Risa dengan tujuan pinjam Uang Indah..." Richi berbicara sambil menggelengkan kepalanya,
__ADS_1
"Padahal dari awal aku sudah bilang jangan bermain api dengan perempuan itu, dan mempertaruhkan hubungan kalian, tapi Nio tidak menggubris omonganku, maafkan aku Indah.. Aku sudah cukup mencegah Nio untuk tidak berbuat sesuatu yang tidak benar, tapi Nio bukan anak kecil lagi kan?" Richi memandang Indah dengan prihatin,
" Iyah... gak apa - apa kak.. terima kasih karena sudah Jujur sama Indah yah Kak.." jawab Indah tulus,
"Lalu sekarang apa kamu tidak merasa sedih Indah?"
"Tentu saja ada rasa sedih tapi lebih ke rasa bersyukur sih kak.. akhirnya aku tidak lagi bersama dengan seorang manipulator dan pengecut."
"Pengecut?"
"Iyah pengecut kak, untuk yang satu itu sudahlah... aku malas sekali membahasnya, lebih baik kita kembali saja kak... karena rasanya sudah cukup lama kita ngobrol disini, hehehe"
"Baiklah... hati - hati yah... semoga kamu baik - baik saja dan mendapatkan seseorang yang pantas untukmu yah Indah" doa Richi terdengar begitu tulus,
"Terima kasih kak yah.." jawab Indah sambil berpamitan kembali ke meja kantinnya,
"Indah, handphone kamu ketinggalan di rumah yah?" tanya Nita sesampainya Indah di meja mereka,
"Eh??? masa sih? perasaan tadi aku bawa Nit" jawab Indah sambil membuka tas kampusnya dan mencari - cari ponsel miliknya,
"Nggak mungkin ada." jawab Nita memandang khawatir kepada Indah,
"Kok bisa?" tanya Indah melongo, begitu juga dengan Ami dan Dhino,
"Mamamu barusan telpon aku, minta kamu pulang sekarang juga" jawab Nita,
"Lalu apa hubungannya dengan ponselku?" tanya Indah masih tidak paham,
"Mamamu telpon aku pakai nomor ponsel kamu Indah.., dan suaranya terdengar sangat tidak ramah lalu sedikit panik, juga sedikit terisak"
"Hah?! ada masalah apa, yah uda aku pulang yah teman - teman, Dhin Aku balik yah.. nanti baru aku kontak kamu lagi, okay?" pamit Indah buru - buru,
"Aku antar aja!" sahut Nita, dan kali ini Indah tidak menolak karena dari pembicaraan Mama dengan Nita rasanya ada sesuatu yang sangat serius,
Sesampainya di rumah Indah sehabis berkendara motor, Nita memilih untuk langsung pulang tanpa ada niatan untuk mampir, karena merasa bahwa ada masalah besar dalam keluarga Indah,
"Mama.. Indah pulang, ada apa ma? apa mama baik - baik saja?" Tanya Indah penasaran,
Mama sudah terlihat menangis, matanya mama juga terlihat sembab, semakin membuat Indah khawatir bukan main,
"Kenapa?... Ke.. kenapa Indah?" mama berbicara dengan terbata - bata,
"Apanya yang kenapa ma?" jawab Indah masih bingung,
"Kenapa kamu putus dengan Nio? kalau kamu lagi hamil anaknya?" Bagaikan mendengar suara Guntur, pertanyaan mama membuat Indah pucat pasi saat itu juga.
*
*
*
*
*
Bersambung
Author usahakan untuk bisa update setiap hari 2 episode yah..., dan setiap sabtu bakal Author kasih 3 episode buat kalian,
__ADS_1
please coment and like dong... btw jangan lupa follow ig ku yah.. @lizbet.lee
makaci 😁