
Hari Senin kembali menyambut pagiku yang sedikit mendung, dan sebentar lagi hujan akan mulai membasahi tanah yang penuh dengan debu ini, satu notifikasi pagi ini sudah menghiasi layar ponselku,
"Selamat pagi sayang.., sampai jumpa di kampus" seolah pesan singkat yang dikirimkan oleh Dhino menjadi vitamin baru untuk hari - hariku kedepannya, aku sangat membutuhkan Dhino saat ini, dan jujur aku merasa bahagia pagi itu.
"Sampai jumpa juga sayang" jawabku, dengan tergesa aku berlari memasuki area kampus, rambutku sedikit basah akibat hujan yang juga ikut berpartisipasi mengisi pagiku,
Kami bersikap normal layaknya sahabat sepertia sebelumnya di muka umum, karena itulah kesepakatan kami tadi malam,
FLASH BACK:
""Apakah aku boleh menjawabnya sekarang?" tanyaku kepada Dhino,
"Apakah kamu sudah siap menjawabnya? tidakkah kamu membutuhkan waktu untuk berpikir?" suara ragu terdengar di seberang sana,
"Tidak aku tidak membutuhkan waktu untuk memikirkan perasaanku yang juga merasakan hal yang sama denganmu Dhino" jawabku dengan pasti,
Hingga sejenak Dhino terdiam hanya terdengar suara nafas yang beraturan namun berat di seberang sana,
"Apa kamu yakin?" lagi tanya Dhino,
"Aku tidak bisa mengatakan kalau ini cinta Dhino.., namun aku merasa sayang denganmu, semoga dengan berjalannya waktu aku bisa yakin kalau perasaan ini adalah perasaan cinta Dhino, namun untuk saat ini aku tidak dapat mendefinisikan arti dari rasa yang ada" jawabku dengan frustasi,
"Ini sudah cukup Indah.., aku tidak butuh cinta dari bibirmu, aku hanya butuh kita dapat menjalani hubungan ini, dengan sendirinya kita akan sama - sama tau akan sampai di mana hubungan kita, dan apakah ini yang akan kamu sebut cinta" terang Dhino dengan lembut juga dengan suara yang tak dapat aku jelaskan, ada sedikit perasaan sakit namun aku tidak tau mengapa suara Dhino terdengar seperti orang yang sedang menahan sakit di hatinya, namun juga menggebu mungkin takut aku berubah pikiran.
__ADS_1
"Terima kasih Dhino.., sudah hadir untukku" ucapku tulus,
"Terima Kasih juga sudah membuatku dapat merasakan perasaan seperti ini Indah" jawab Dhino dengan tulus.
"Aku tau kamu pasti belum nyaman jika tiba - tiba semua orang tau mengenai hubungan kita kedepannya, aku tidak memaksamu untuk harus bersikap berbeda Indah, kita akan menjalani ini perlahan - lahan yah.." sungguh manis mendengar apa yang baru dikatakan oleh Dhino,
"Iyah.., terima kasih Dhino, terima kasih untuk pengertiannya dan untuk segalanya" jawabku dengan tulus,
"Baiklah aku rasa malam ini aku dapat tidur dengan bahagia, kamu tidur yah.., ini sudah malam"
"Baiklah sampai jumpa hari senin yah Dhin" pamitku, Lalu kami menutup percakapan kami dengan manis malam itu.
-FLASH BACK SELESAI-
Kami tidak menyangkal namun juga tidak mengiyakan apa yang dikatakan oleh sepasang lovebird di hadapan kami saat ini, kami hanya tertawa dan seperti biasa kami dapat dengan mudah mengubah topik pembicaraan yang tentu saja akan mengalihkan perhatian Ami, namun tidak Nita, Nita memandangku dengan seksama, ada kecurigaan yang besar di mata Nita, dan tentu saja aku tidak berani menatap Nita dengan seksama seperti biasanya, kini aku menghindari kontak mata dengan Nita.
Terang saja Nita sadar dengan sikapku yang bagai sedang bermain kucing - kucingan, "Indah.., apakah kamu bisa membaca pikiranku saat ini?" ucap Nita penuh dengan intimidasi.
"Aku bukan paranormal Nita, dan apapun yang ada dipikiranmu saat ini lebih baik tidak usah kamu katakan kepadaku jika kamu belum sepenuhnya yakin" jawabku,
"Apakah benar itu Indah?" lagi desak Nita,
"Aku tidak tau apa yang kamu katakan Nita" jawabku, lalu mengambil buku dan berpura - pura sedang sibuk dengan buku yang kupegang, sejenak aku melirik Dhino, dan Dhino menyadari Jika Nita sedang mengintimidasi diriku, Dhino hanya tersenyum seperti biasa, namun aku sungguh mengapresiasi sikap Dhino, Dia bahkan tidak bertindak apa - apa, karena semakin Dhino bereaksi maka semakin Nita akan curiga serta penasaran akan hubungan kami.
__ADS_1
"Aku akan lebih bahagia jika pikiranku ini benar, dibandingkan hubunganmu dengan pacar play boy mu yang cap sandal jepit itu" ucap Nita,
"Aku sudah tidak ada hubungan apapun dengan dia" jawabku singkat,
"Benarkah itu Indah? aku tau itu tidak benar Indah." bisik Nita dengan dingin,
"Mengapa kamu bisa berbicara begitu?" tanyaku,
"Karena beberapa hari yang lalu, mama kamu ngundang aku dan Ami untuk hadir di acara makan malam ulang tahun pernikahan orang tuamu, dan mamamu bilang Nio juga akan ada di sana." bisik Nita,
Bagaikan kesambar petir di siang bolong, aku seolah lupa jika kami adalah mahasiswa di universitas yang sama, namun ego ku lebih besar dari rasa takutku, tanpa peduli ucapan Nita aku berpikir bagaimana caranya agar rahasia busukku ini tidak terbongkar oleh siapapun, terutama tidak di ketahui Dhino dan tentu saja Nio, sebenci - benci nya aku dengan Nio namun aku masih belum siap harus di campakkan atau mencampakkan satu sama lain.
*
BERSAMBUNG
__ADS_1