Aku Adalah Indah#Part 2

Aku Adalah Indah#Part 2
episode 24


__ADS_3

Hari ini sudah hari ke tiga aku berada di rumah, itu artinya sudah enam hari Nio dan aku tidak ada komunikasi apapun, untukku memulai menghubunginya terlalu gengsi untukku, terserah orang mau menilai apa, tapi aku sangat tau diri, mungkin permintaan Nio agar aku tidak meninggalkannya hanyalah emosi sesaatnya saja.., karena buktinya sampai sekarang tidak ada komunikasi apapun yang terjalin,


Ada perasaan sedih tapi ada juga kelegaan karena belum terlalu jauh, hari kembali berganti hari, dan kini tepat tiga minggu aku tidak ada komunikasi dengan Nio lagi, semuanya terasa Normal sekarang, pikirku..


Apalagi kini aku di sibukkan oleh kuliahku, dan juga semua tugas - tugas yang menumpuk, sesekali aku menatap layar ponselku dan kini aku merasa bodoh masih mengharapkan Nio menghubungi aku,


"Ndah.. mikir apa kamu?" tanya Nita,


"Nggak kok.., cuman mikir tugas aja" elakku,


"Temeni aku ketemu Fachmi yah..., secara bulan lalu kamu janji kerumahku tapi gak jadi datang.. untung aja halangannya karena kerja kalau karna pacaran aku pasti ngambek" ucap Nita,


"Hemmmm... iyah iyah.., Dimana?" tanyaku


"Tuh di sana" jawab Nita.. lalu kami menghampiri Fachmi yang biasa di panggil Ami,dan di sana ada Dhino disana.


Aku mengikuti Nita menghampiri teman - teman Ami, Dhino terlihat cool dan tenang sambil menyesap batang rokok di tangannya, dia tersenyum tanpa mengeluarkan kata - kata apapun, aku pun membalas senyumannya,


Ketika kami berkumpul bersama dan mendengarkan Alan bercerita serta menirukan gaya para dosen yang masuk di kelas, kami tertawa terbahak - bahak termasuk aku dan juga Dhino, di tengah canda tawa kami seorang cover boy melewati kami dengan tatapan agak terkejut melihatku, namun tidak dengan diriku, karena merasa tidak di tegur maka aku pun tidak menegurnya dan aku hanya menundukkan pandanganku ke bawah, ketika semua teman - temanku tidak menyadari apa yang terjadi, Dhino menepuk pundakku, "Kamu baik - baik saja?" tanya nya


"Iyah aku baik - baik saja, terima kasih" jawabku sambil tersenyum, lalu melanjutkan obrolan kami, dan beberapa saat ponselku berbunyi,


"Hai" hanya itu yg tertulis di layar ponselku, aku berdecak kesal, setelah hampir satu bulan dia tidak menghubungi, kini hanya kata 'Hai' yg tertera di layar ponselku,


"Hai Nio.." balasku,


"Kapan pulang? kenapa tidak kasih kabar sama sekali?" balasnya


"Aku di sana hanya tiga hari, dan sudah lebih dari dua minggu pulang" jawabku


"Besok kita ketemuan yah" ajak Nio,


Ada rasa kawatir, kawatir untuk jatuh cinta sama Nio, aku sudah nyaman seperti ini, tanpa harus takut untuk terluka, dan apa yang harus aku lakukan, aku memilih untuk tidak membalas pesannya lagi,


"Ada apa?" tanya Dhino,


"Tidak apa - apa" jawabku, "jadi rencananya gimana?" lanjutku,


"Yah uda besok kita ke rumahmu aja Indah, main di sana" sambung Ami,

__ADS_1


"Yah uda rencananya jam berapa? sekalian bawa Makala Ekonomi Makro, jadi habis kerja tugas baru kita main Remi" sambungku,


"Okaayy siapp bu bos.., Sayang nanti aku jemput yah" ucap Ami sambil menoleh ke Nita,


"Jam empat sore pas, tidak boleh telat!" ancam Nita ke Ami, kami semua tertawa melihat dua sejoli yang baru jadian ini.


Kami saling berpamitan satu sama lain, juga kepada Ami dan Dhino, aku mengejar jam pulangku harus sebelum pukul 18:00 karena ada film Korea Jang Gem yang selalu ku ikuti akhir- akhir ini, untuk menghilangkan rasa suntukku dan rasa bosanku menunggu kabar dari Nio beberapa minggu yang lalu, dan akhirnya terbentuklah aktivitas- aktivitas baru yang rasanya sulit sekali untuk di rubah.


-----------*****------------


Kini aku telah siap dengan nasi telur dadar dan kecap di depan TV melihat Drama Korea, tentang Jang Gem tapi telpon rumah sedari tadi sungguh mengganggu rutial baruku, aku berdecak kesal dan terpaksa mengangkatnya "Halo?!" sahutku dengan suara agak kesal,


"Galak sekali Ndahh..." suara yang tidak asing dari seberang, membuat semangatku hilang seketika,


"Oh Hai..., maaf aku lagi makan tadi" sahutku,


"Yah sudah makan dulu nanti aku telpon lagi yah..." jawab Nio, karena sudah terlanjur terganggu rasanya tanggung sekali,


"Tidak apa - apa, bicara saja.. ada apa Nio?" tanyaku ramah,


"Kenapa aku sms kamu tidak balas?" tanyanya,


"Maaf pulsa ku habis tadi" bohongku padanya,


'Yang benar saja!! aku bekerja hanya saat pagi sampai siang atau hanya di malam hari, mana mungkin orang menanyakan kabar satu sama lain di katakan mengganggu!!' gerutuku dalam hati,


"Indah... apa kau mendengarku??"


"Iyah..., aku pikir kamu yang sibuk, aku juga jadi tidak enak menghubungimu" elakku,


"Apakah besok kita bisa bertemu? aku sangat merindukanmu"


" Besok aku ada jadwal belajar kelompok dengan teman - temanku"


"Bagaimana kalau malam ini aku ke rumahmu?" tanya Nio,


"Hemmm.. entahlah.. tidak ada orang tuaku di rumah sekarang.. mereka semua ke gereja, mungkin Lusa waktu yang baik untuk bertemu" sambungku,


"Tidak apa aku ke sana sekarang.." jawab Nio lalu mematikan telpon rumah,

__ADS_1


"Shit!!!" pekikku, aku belum mandi dan masih sangat malas bertemu dengannya fisik dan hatiku belum siap dengan drama percintaanku dengan Nio, tapi Nio sudah menuju ke sini, bergegas aku menghabiskan makanku seperti monster kecil yang kelaparan, dan segera mandi, lalu mengganti pakaianku dengan pakaian casual dan kembali duduk di depan TV dengan gelisah.


Selang dua puluh menit terdengar suara motor Nio, aku merasakan sedikit gugup, ada rasa tidak senang namun ada rasa senang, sungguh perasaan ini sulit di deskripsikan,


"Hai.." sapaku kikuk sambil melambaikan tanganku, dan Aroma tubuhnya sudah tercium segar di indera penciumanku membuat jantungku kembali bergetar, tanpa aba - aba Nio memelukku dan mencium puncuk kepalaku,


"Aku Rindu.." katanya,


"Ayo masuk.. tidak enak di luar" sahutku mempersilahkan Nio masuk dengan jantung yang berdetak kencang,


Nio hanya tersenyum simpul, dan mataku rasanya mau meleleh seperti coklat terkena hawa panas, tapi aku menguasai diriku untuk tidak terlihat gugup,


"Aku bikinkan minum, tunggu yah" dengan segera aku berdiri tapi tanganku di tarik oleh Nio dan kini aku kembali terduduk di sofa rumahku,


"Tidak usa ke mana - mana, aku bawa minuman dingin buat kita" Lalu tanpa aba - aba Nio mengecup bibirku, membuat jantungku ingin meledak,


"Kenapa kamu tidak mengabariku sama sekali kalau sudah pulang?"tanya Nio,


"Aku takut mengganggu aktifitasmu" jawabku asal,


"Jam berapa mama papamu pulang?" tanya Nio


"Sekitar tiga puluh menit lagi" sahutku,


"Baiklah kita punya waktu tiga puluh menit melepas rindu, dan selanjutnya aku akan ajak kamu ke rumahku, mamaku sudah sering menanyakanmu" ucap Nio dan langsung memeluk tubuhku, membuatku tak mampu berkata - kata karena terlalu gugup.


*


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


*


bersambung


__ADS_2