
"Aman!!!" ucapku
Kak Ayi hanya menunjukkan jempolnya kepadaku, aku pun membalas senyuman kepadanya, setelah sekian lama kami saling berkelakar, satu persatu tamu berpamitan pulang, juga beberapa keluargaku, termasuk mamaku yang pulang duluan saat itu, dan menyisahkan aku, kak Path, dan kak Ayi juga para lelaki kami,
"Kenapa tadi lama?" bisik Nio,
"Lama yang apa?" tanyaku tidak mengerti maksud ucapan Nio,
"Pas tadi ambil kue.." tanya Nio,
"oh.. aku di cegat Putri.., dia mengirimkan salam termanis untuk kamu" ucapku sambil sedikit terkekeh berusaha untuk menyembunyikan perasaanku,
Nio hanya menatap lekat padaku, "apa lagi yang dia ucapkan?" tanya Nio
"Apakah kalian benar pernah pacaran?" tanyaku pada Nio, dan menatap lekat mata Nio,
"TIDAK" singkat, padat dan jelas,
"Baiklah.. kalau begitu, maka kamu tidak perlu tau apa yang dia ucapkan lagi kepadaku" jawabku,
Dan Nio bertingkah seolah tidak mendengar ucapanku, dan aku pun bertingkah seperti tidak terjadi apa - apa, ternyata percakapan kami di dengar jelas oleh Kak Paty yang duduk membelakangiku dan Nio,
Senyuman Kak Paty pada Nio menyiratkan sesuatu yang sedikit aku mengerti, "Kamu jangan macam - macam loh Nio sama adikku yang satu ini" ucap Kak Paty dengan Nada mengancam,
"Yang kali ini aku yang menyatakan cinta Paty, bukan sebaliknya" jawab Nio enteng,
Aku tetap bertingkah seolah tidak ada yang kudengar sama sekali, karena Kak Ayi sudah mengingatkanku untuk mengabaikan masa lalu Nio, walaupun aku sangat penasaran di buatnya, sedangkan Kak Paty tertawa mendengar jawaban Nio,
Entahlah Nio seolah membuat semuanya menjadi lebih misterius, dan aku merasa bahwa aku tidak akan benar - benar memahami sifat Nio, karena seolah Nio ingin menutup sebagian dirinya yang membuat siapa saja tidak bisa dekat dengannya bila tidak di ijinkan olehnya.
********-------********
"Apakah besok kita bisa bertemu lagi?" tanya Nio kepadaku dalam perjalanan pulang ke rumahku, mendengar ajakkannya aku tersenyum,
__ADS_1
"maaf...aku tidak bisa.. karena besok aku akan ke luar kota bersama papaku untuk mengerjakan proyek" jawabku, "minggu depan kalau aku pulang baru kita ketemu yah.." sambungku,
"Hmmm... kemana perginya?" tanya Nio dengan suara sedikit antusias,
"Ke kabupaten S, lain kali jika kamu sudah akrab dengan papaku, aku akan mengajakmu ikut" jawabku, dan mendengar ajakkanku Nio tersenyum,
"Heemmm..., baiklah..., kita sudah sampai" ucap Nio, kami pun berpamitan satu sama lain, dan sebelum Nio meninggalkanku, tidak lupa dia mengecup pipiku,
--*--*--*--
Keesokkan harinya aku mempersiapkan segala berkas - berkas proyek yang sudah aku kerjakan beberapa hari ini, harapanku adalah semoga papa bisa menang tender proyek ini, dan aku lah yang kini menggantikan posisi papa untuk membuat berkas - berkas yang berhubungan dengan segala pekerjaan keluargaku, tidak mengeluh sama sekali walau aku tidak mendapatkan imbalan, pikirku "bukankah aku bekerja membantu papa untuk menafkahi semua anggota keluargaku, lalu untuk apa aku meminta imbalan kepada kedua orang tuaku.."
Aku sangat bersyukur semua berkas yang telah ku buat akhirnya sudah masuk pada saat proses lelang proyek keesokkan harinya, dan kami mendapatkan urutan pertama dari semua peserta lelang, sambil menunggu proses selanjutnya yaitu pembuktian kualifikasi aku memutuskan untuk kembali ke hotel, sedangkan papaku lebih memilih bercengkrama dengan para pejabat dan teman - teman sesama kontraktornya,
Sesampainya di hotel, orang pertama yang dipikiranku adalah Nio, sudah dua hari ini Nio tidak mengirimkan pesan singkat kepadaku, begitu pula sebaliknya, ada rasa gengsi untuk memulai percakapan kami, tapi ada rasa rindu dengan percakapan singkat juga, tapi aku memutuskan untuk tidak menghubungi nya lebih dulu, dan memilih mencari informasi siapa sebenarnya Nio, dan bagaimana pergaulannya, pikiran pertamaku adalah Kak Ayi,
"Halo kak.." sapaku lewat ponselku,
"Tumbeeenn..., dimana kamu Ndah? kok gak masuk kampus?" suara kak ayi terdengar penasaran,
"Oaallaah... ada apa telpon? pasti ada sesuatu kan?" tanya kak Ayi,
"Kak.. Nio itu sebenarnya pergaulannya gimana sih kak?" tanyaku,
"Kak Ayi gak terlalu ngerti Ndah.. yang kak Ayi tau, dia anak sanggar, pergaulannya sama anak - anak pejabat dan artis - artis lokal, dia banyak di gilai sama cewek - cewek, tentu saja kamu tau jawabannya, yaitu karena dia ganteng banget, dan setau aku dulu dia anak dance juga model catwalk gitu, juga salah satu pemain sepak bola unggulan di kampus dan cukup terkenal, rasanya itu aja Info yang bisa kakak kasih ke kamu, selanjutnya nanti kakak cari tau lagi," ucap kak Ayi panjang lebar,
"Okay kak..., apakah Indah salah kalau pengen tau deretan para mantannya kak? buat jaga - jaga aja.. Indah takut sakit hati kalo kadung sayang kak.." suaraku terdengar memelas,
"Gak salah kalo tujuanmu untuk itu, nanti kakak cari tau, kebetulan Irfan kan satu sanggar sama Nio mu itu, nanti kak Ayi korek informasi dari Irfan, okay?!" jawab kak Ayi
"Makasi yah kak.." sahutku dan di jawab oleh kak ayi seperti biasa, lalu kami mengakiri sambungan ponsel kami,
Pikiranku melayang, takut untuk kembali mencintai seseorang, tapi rasa penasaran akan sikap unik Nio membuatku seperti terperangkap dengan keingintahuanku akan Nio sebenarnya,
__ADS_1
Hariku berlalu lagi berganti hari baru, hari ini adalah pembuktian kualifikasi untuk lelang proyek yang kemarin ikuti dengan papaku, dan aku bersyukur hari ini berjalan dengan baik, pembuktian kualifikasi kami pun berjalan dengan sangat baik, aku sudah tau bila tender ini sudah pasti kami menangkan, dan benar saja, setelah pembuktian kualifikasi, para panitia lelang memberikan selamat kepada kami juga sedikit menggoda untuk minta di traktir, aku melihat rona bahagia di wajah papaku dan rasa bangga yang sempat terucap "Yang mengerjakan penawarannya adalah Indah" ucap papa dengan bangga,
Sontak aku mendapatkan perhatian khusus dari semua panitia yang ikut bercengkrama dengan kami, aku tidak menanggapi pujian mereka dengan berlebih, hanya sekedar tersenyum, karena semua kemampuanku bukan aku dapatkan dengan sendirinya tapi berkat didikan dan bimbingan papa yang sudah mulai mengajariku sejak aku duduk di bangku SMP.
"Baiklah pak..., nanti jadwal tanda tangan kontrak satu minggu lagi yah.., selama satu minggu ini adalah jadwal sanggahan bila ada pihak kontraktor lainnya yang ingin menyanggah pengumuman lelang ini" ucap ketua panitia tersebut, lalu aku membiarkan papaku bercengkrama dengan mereka sebentar sedangkan aku memilih menunggu di mobil dan berpamitan lebih dulu kepada para pegawai Dinas Kehutanan.
Setelah puas beramah tamah papa segera menyusul di mobil dan kami pun melanjutkan perjalanan pulang ke rumah dengan perasaan yang bahagia, ingin rasanya aku berbagi kebahagiaanku kepada Nio tapi lagi - lagi rasa gengsi lebih besar.
Benar saja ini adalah hari ke tiga Nio tidak mengirimkan pesan kepadaku, begitu pula dengan diriku, ada sedikit kekecewaan, setelah mengingat percakapan terakhir kami "jangan pernah tinggalkan aku" kini ucapan itu seperti uap yang menghilang seketika,
*
*
*
*
*
"Perjuangkanlah seseorang yang pantas untuk diperjuangkan, siapakah orang yang pantas untuk diperjuangkan? Orang yang pantas untuk di perjuangkan adalah orang yang juga memperjuangkan dirimu, mampu menjadikanmu pribadi yang lebih baik tanpa merubah jatidirimu"
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
bersambung