Aku Adalah Indah#Part 2

Aku Adalah Indah#Part 2
AaI#3. BAB.19 – SEMUA AKAN BAIK BAIK SAJA


__ADS_3

Jika bukan karena Cake Marmer yang tertinggal di kursi tengah mobilnya Indah ini, maka fakta jika Mama dan Papa berbohong tidak akan terungkap, tapi seperti peribahasa bangkai yang di simpan pasti akan tercium baunya di luar.


Yah tapi bangkai kebohongan ini ternyata sangat cepat tercium oleh Indah ibaratnya bangkai segar yang belum terkubur tapi baunya sudah tercium di mana - mana.


Indah bukan tipe anak yang melawan atau bahkan berani memarah - marahi orang tuanya, malah terkesan Indah ini terlalu penurut dengan mamanya, kalau saja dulu Nio tidak menolak untuk menikahi Indah maka sekalipun Indah menolak seribu kali, maka seribu kali mamanya akan tetap memaksanya sampai bendera putih tanda menyerah diangkat oleh Indah.


“Ma..., Indah harus berapa lama buat mama luluh ma?” rasa sesak tak tertahankan akhirnya terucap dalam sebuah pertanyaan yang dianggap sangat konyol oleh mamanya. Mama tertawa sinis dengan tatapan penuh kebencian dan rasa muak yang menyeruak jelas pada wajahnya berkata dengan tegas dengan suara meninggi,


“SAMPAI KAU PUTUS SAMA DIA, BARU MAMA AKAN BERUBAH BAIK SAMA KAMU!”


Rose yang berada di sana tak berani berkata - kata walau hanya menenangkan Indah yang sudah menangis karena tertekan akan sikap Mamanya sendiri, selalu dan selalu seperti ini, dada ini terasa sangat sesak, hatinya berontak ingin sekali berteriak melawan mamanya saat itu juga, tapi di tahannya.


Rasa emosi Indah kalah dengan rasa takut durhaka terhadap orang tuanya, terlebih terhadap mamanya sendiri. Indah lantas tidak lagi mampu mengucapkan sepatah kata apapun itu, dia hanya bisa menangis tanpa suara dengan nafas memburu membuat Rose menatap penuh keprihatinan kepada Indah.


"Indah pergi dulu ma..." akhirnya Indah pamit untuk mengakhiri keberadaannya di rumahnya sendiri, tidak ada jawaban apapun lalu mama menyahut dengan nada sarkas,


"Pergilah, jijik aku ada manusia itu di rumah ini!" Indah langsung berbalik pergi tak bersuara lagi dan segera masuk ke dalam mobilnya, menangis sejadi - jadinya, tanpa sadar kalau Vano sedang melihatnya dengan tatapan sakit tak tertahankan sedang ada disampingnya.


"Indah... ada apa?" tanya Vano sambil memeluk Indah, Tak sanggup menjawab pertanyaan Vano.. hatinya masih sangat sakit dengan ucapan Mamanya, 'emangnya Vano ini apa? kok sampai segitunya mama benci sama Vano, kenal aja belum, kesempatan juga sama sekali enggan di berikan oleh mama..., kenapa aku harus di hadapkan dengan posisi seperti ini Yah Tuhan...' racau Indah dalam hati.


"Enggak Van... Nggak apa - apa..., kita pergi sekarang yah..." Indah berusaha tersenyum setelah membersihkan wajahnya yang penuh dengan air mata, tumpukkan tissue di buangnya asal di garasi melalui jendela, hanya seperti ini bentuk demonstrasi yang paling mentok yang berani Indah lakukan.


"Iyah .. hati - hati... nggak usa ngebut .. kita... ke studio musik tempat aku latihan aja yah... kebetulan hari ini jadwal aku bersih - bersih.." ajak Vano, Indah tau Vano pasti ingin berbicara hanya berdua dengannya, kalau di yayasan maka akan banyak yang melihat dan akan menjadi bahan omongan baru, kalau di rumah maka kedua orang tua Vano akan tau kejadian yang tidak di harapkan ini, satu - satunya tempat yang terpikirkan oleh Vano hanya studio tempatnya latihan.

__ADS_1


"Tapi... aku nggak tau di mana tempatnya" akuh Indah...,


"Belok kanan, nanti aku tunjukkan arah jalannya" jawab Vano,


Sesampainya di Studio musik tempat biasa Vano latihan mereka turun dan Vano langsung saja berinisiatif untuk mulai melakukan kewajibannya dahulu,


"Kamu tunggu disini sebentar yah..., aku bersih - bersih dulu" ucap Vano kepada Indah...


Indah mengangguk dan memperhatikan bagaimana Vano mulai bekerja, ingin membantu tapi masih kepikiran dengan omongan - omongan mama, akhirnya Indah memutuskan hanya membaca berita di koran - koran yang berserakan di ruang depan studio tersebut.


Sekitar dua puluh menit terdengar suara alunan piano dari speaker, Indah sangat familiar dengan lagu ini... ini adalah lagu berjudul 'Heaven Knows' terdengar juga suara merdu Vano menyanyikan lagu ini dengan suara lembutnya, selembut sikapnya kepada Indah selama ini.


Indah berjalan dan berdiri di depan kaca tembus pandang yang sangat lebar, dan lihatnya jemari Vano mulai berlari lincah nan elok diatas tuts - tuts piano, sesekali Vano memejamkan matanya seolah sangat menghayati setiap lirik lagu yang di nyanyikannya.


Entah sadar atau tak sadar jika sedang dipandang lekat oleh Indah, Vano terus saja menyanyikan dan suara itu... penghayatan itu... membuat Interpretasi lirik lagu tersampaikan dengan baik.


"Nyanyi yukk...." ajak Vano...


"Aku sudah lama nggak nyanyi Van.." akuh Indah, juga malu dan entahlah serasa enggan bernyanyi saja.


"Nggak apa - apa... kita nyanyi lagu When In Fall In Love versinya Gleen Fredly duet sama Dewi Sandra yah... kamu bisa kan? jangan bilang nggak bisa, aku sering dengar kamu nyanyi nyanyi sendiri soalnya"


"Iyah .. okaylah .."

__ADS_1


"Yeeeaaayyyy!!!" Seru Vano dan mulai memainkan dengan alunan piano bergenre Blues, suara beat lagu ini mampu membuat suasana mendung di hati Indah dan Vano berubah,


Ahhh ... ternyata menyalurkan emosi dalam sebuah musik dan nyanyian mampu memperbaiki mood seseorang...


Setelah puas bernyanyi mereka tertawa bersama, sejenak Vano menatap lekat kedua mata Indah sambil tersenyum dan menghela berat nafasnya.


"Terimakasih untuk semuanya..." Vano memecahkan keheningan,


"Ah... sudahlah semua berjalan sesuai dengan apa yang aku bayangkan, bahkan lebih buruk dari apa yang aku perkirakan.." Lirih Indah juga berusaha tersenyum di hadapan Vano...


"Jangan terlalu diambil hati, kita sudah tau konsekuensi dari hubungan kita bukan? yang penting kita harus menjaga agar hubungan ini tidak keluar dari jalurnya, aku akan memegang teguh nasehat dari papamu... dan akan aku buktikan jika aku mampu menjaga anak pertama mereka."


Indah trenyuh dengan ucapan Vano yang sebenarnya juga sedang berusaha terlihat cerah di hadapan Indah.. walaupun Indah tau jika hati pria yang sedang duduk di kursi piano ini sedang berkabut seperti hatinya.


"Sudahlah Indah .. yakinlah... bahwa semua akan baik-baik saja..., kita serahkan semua ini ke tangan Tuhan, Kita berusaha namun Tuhan yang menentukan, jadi kita belajar untuk menerima apapun yang Tuhan gariskan dalam hidup ini yah..."


Seolah menguatkan hatinya sendiri juga hatinya Indah, kata - kata Vano sebenarnya sangat jelas tersirat jika Dia... tidak akan memaksakan keadaan, namun janji untuk berjuang bersama telah terlanjur terucap, maka sekali maju melangkah maka tidak ada kata mundur lagi bukan?


"Iyah Van... semua akan baik-baik saja" jawab Indah meyakinkan dirinya juga.


Bersambung


halo teman2 mohon saran dan kritik yah jangan lupa like like nya, coment dan vote nya dong teman2 semua..

__ADS_1


sambil menunggu update terbaru Aku adalah Indah part 3, kalian bisa baca Novel terbaru aku yang berjudul “STRONG IN BETRAYAL” yang tayang setiap hari pukul 13.00 WIB


makasi sebelumnya, dan jgn lupa Follow IG aku yah @Lizbet.lee


__ADS_2