
"Aku akan lebih bahagia jika pikiranku ini benar, dibandingkan hubunganmu dengan pacar play boy mu yang cap sandal jepit itu" ucap Nita,
"Aku sudah tidak ada hubungan apapun dengan dia" jawabku singkat,
"Benarkah itu Indah? aku tau itu tidak benar Indah." bisik Nita dengan dingin,
"Mengapa kamu bisa berbicara begitu?" tanyaku,
"Karena beberapa hari yang lalu, mama kamu ngundang aku dan Ami untuk hadir di acara makan malam ulang tahun pernikahan orang tuamu, dan mamamu bilang Nio juga akan ada di sana." bisik Nita,
"Sudahlah mau sampai kapan kamu menutupinya denganku Indah?" sambung Nita dengan menatap kesal.
Bagaikan ke sambar petir di siang bolong, aku seolah lupa jika kami adalah mahasiswa di universitas yang sama, namun ego ku lebih besar dari rasa takutku, tanpa peduli ucapan Nita aku berpikir bagaimana caranya agar rahasia busukku ini tidak terbongkar oleh siapapun, terutama tidak di ketahui Dhino dan tentu saja Nio, sebenci - benci nya aku dengan Nio namun aku masih belum siap harus di campakkan atau mencampakkan satu sama lain, aku benar - benar bingung harus bagaimana, seolah aku merasa terjebak dengan permainan ku sendiri, otakku terus berputar bagaimana agar semua dapat berjalan beriringan dan jangan dulu ada diantara kami yang tersakiti .
Melihat aku yang sedang membeku dengan pikiranku sendiri, Nita kembali berbisik kepadaku "Aku tidak akan membongkar apa - apa, tapi kumohon jangan menyakiti Dhino, dia terlalu baik untuk harus menjadi orang yang disakiti Indah" ucapan Nita seolah tusukkan telak di bilik jantungku yang tidak baik - baik saja.
Aku tidak lagi menjawab Nita, aku hanya melihatnya dengan tatapan yang sulit di artikan namun aku tau Nita memahami arti tatapan ku kepadanya, banyak hal yang aku lalui, mulai dari hubunganku dengan Mathew aku sudah cukup menderita, apakah kini aku juga harus menderita? Jika Dengan Mathew aku menghabiskan waktuku tiga tahun lebih, dengan Nio rasanya aku tidak tahan jika harus bertahan selama itu, kami sudah satu tahun lebih bersama namun aku tetap saja merasa seperti orang asing baginya.
Apakah aku juga akan menyesal seperti aku menyesal melepaskan kesempatan emas ku saat aku memiliki kesempatan memilih antara Mathew dengan Roy dan Jhon? Apakah aku juga harus menyesal dengan langkah aku ambil saat ini. Hubunganku dengan Nio sudah terlalu jauh, jika hubungan ini harus berakhir lagi maka aku akan menjadikan diriku wanita paling murahan di muka bumi ini.
Namun Jika aku yang di campakkan bukankah aku akan menjadi wanita murahan yang sangat menyedihkan? Lalu kata - kata Nio dulu yang pernah mengatakan "Jangan Tinggalkan aku" apakah itu hanyalah emosi atau perasaan sesaat saja??? Jika memang Nio serius dengan apa yang di katakannya, maka sikap Nio tidak akan seperti ini. Bahkan sekarang Nio memang sudah selingkuh di belakangku sebelum aku membalasnya dengan menjalin hubungan dengan Dhino. Ketika semuanya semakin kacau di pikiranku kembali hatiku berkeras "Aku tetap akan berdiri pada apa yang menjadi pilihanku saat ini" gumanku dalam hati,
Sejenak aku memandang Wajah ceria Dhino, ada rasa tercubit di dadaku, aku tidak tega melihat Dhino namun keras kepala ini mengalahkan rasa iba ku, aku berubah menjadi sosok wanita yang mulai egois, yang biasanya aku tidak dapat menyembunyikan perasaanku, tidak dapat berbohong, dan tidak dapat munafik tapi kini aku berubah dan mampu melakukan apa yang selama ini tidak dapat aku lakukan.
__ADS_1
Setelah melewati siang kami dengan kelas kuliah yang cukup melelahkan, kami berempat menghabiskan waktu duduk di bawah pohon dekat lapangan kampus sambil makan roti yang sudah kami bawa sebelumnya, perhatian kecil mulai di tunjukkan Dhino kepadaku, hal kecil yang manis,
"Ini.." ucap Dhino sambil memberikan botol air mineral yang tutupnya sudah dibuka olehnya, aku menerima botol air mineral itu sambil mengunyah roti yang penuh di mulutku, setelah meminum air tersebut aku mengucapkan terima kasih,
"Makasih.." ucapku sambil sedikit mendesah, dan Dhino tertawa melihat tingkahku yang hampir saja keseretan akibat roti yang penuh di mulutku,
"Kalau makan hati - hati.., rotinya gak bakal lari kemana - mana" ucap Dhino tersenyum sambil mengacak - acak rambutku,
Ami bengong melihat interaksi kami berdua, sesekali melihatku lalu melihat ke arah Dhino lagi dengan wajah yang terus melongo karena masih bingung dengan apa yang ada di depan matanya, Nita ikut tersenyum melihat manisnya interaksi yang terjadi antara aku dan Dhino, untuk mengalihkan kebengongan Ami, Dhino mengambil botol air mineral yang lain lalu memberikan kepada Ami "Ini sayang diminum, jangan bengong gitu, rotinya di kunyah" goda Dhino, sontak membuat Ami merinding juga bergidik ngeri kepada Dhino dan jelas saja itu membuat kami tertawa terbahak - bahak bersama.
Interaksi seperti ini belum pernah aku dapati di dalam hubunganku dengan Nio maupun dengan Mathew, aku kembali menjadi egois untuk berlama - lama menahan Dhino dalam hubungan kami ini, aku tau ini tidak adil bagi Dhino jika dia mengetahui posisinya saat ini, namun aku membutuhkan waktu untuk memutuskan langkah apa yang harus aku ambil setelah semua ini sudah di luar kendaliku.
Dalam diam aku memandang Dhino yang sedang bersenda gurau, sampai akhirnya perhatianku teralihkan dengan datangnya Rheno yang tentu saja membuat perkumpulan kami semakin ramai,
"Iyah sudah kok Ren, tapi senior - senior belum ngajak latihan lagi tuh" ucapku,
"Sore ini mereka latihan, makanya aku kesini lihat kamu jadi sekalian aja aku info, mereka juga soalnya pada sibuk susun skripsi kan Indah" ucap Reno,
"Oh iya.., nanti latihan jam berapa Ren rencananya?" tanyaku,
"Rencananya jam lima sore, kamu bisa kan?" tanya Reno lagi memastikan,
"Bisa lah, nanti aku ke tempat latihan yah" jawabku sama Reno,
__ADS_1
"Okay,, yah uda lanjutlah, aku masih ada kelas ini, see you yah semuanya" pamit Reno.
"Nanti aku antar yah" tawar Dhino kepadaku,
"Nggak usa biar aku pergi sendiri aja yah.., nanti biar pulagnya di antar sama Reno gak apa - apa kan?" tanyaku sama kepada Dhino,
"Nggak apa - apa kok" ucap Dhino "Kabari saja jika sudah pulang sampai di rumah" sambung Dhino.
"Okay" jawabku,
Kami kembali menghabiskan waktu kami berdua, bagaimana tidak lagi - lagi Ami dan Nita pergi dengan mesra nya di hadapan kami berdua, dan bagaimana mungkin kami berdua tidak terjerat hubungan seperti ini jika memang keadaan sering membuat kami bersama dan seolah dipaksa untuk saling mengenal satu sama lain oleh situasi dan kondisi yang selalu saja memberikan kami kesempatan untuk merasakan percikkan - percikkan perasaan.
*
*
*
*
*
*
__ADS_1
BERSAMABUNG