
Setelah beberapa menit aku mengganti bajuku aku keluar dari kamar Dhino, dan sudah mendapati segelas Teh Panas di meja ruang tengahnya,
"Sudah gantinya?" tanya Dhino,
"Iyah sudah" jawabku,
"Yah Sudah kamu minum teh dulu, aku mau sekalian mandi" jawabnya,
"Untung air hujan tadi nggak masuk sampai dalamanku, kalau tidak pasti bisa berabeh aku" batinku sambil menyeruput Teh Panas buatan Dhino, dan aku mengisi waktuku sambil membaca buku - buku di ruang tengah rumah Dhino,
5 Menit berlalu
10 Menit berlalu
15 Menit berlalu
Sampai hampir 20 menit berlalu Dhino baru keluar dari kamarnya, dengan pakaian santai, celana pendek, wangi dan terlihat Tampan!
"Hujan di luar sudah berenti?" tanya Dhino,
"Iyah kayaknya sudah," jawabku,
"Yuukkk...aku antar pulang yah.." Ajak Dhino,
"Ayuk.." jawabku, baru saja berdiri tiba - tiba hujan lebat mengguyur tanpa permisi,
"Sepertinya kamu akan terjebak disini sama aku Ndah.." Ujar Dhino,
Aku hanya tersenyum kecut dan kembali duduk bersama Dhino, Lalu Dhino mengambil gitar dan mulai memetikkan gitar itu dengan jemarinya, hatiku hangat mendengar alunan musik yang dimainkan oleh Dhino, Dia memainkan lagunya Richard Marx yang berjudul Right Here Waiting, lagi itu terasa dalam dan pas dengan suasana malam itu, dengan suara merdu gitar yang dimainkan dengan lihai oleh Dhino, tanpa tersadar aku duduk bersandar di Sofa yang berhadapan dengannya dan tak melepaskan sedikitpun pandanganku dari Dhino, sambil sesekali ikut menyanyi bersama, mendengar aku mulai ikut bernyanyi Dhino menatapku dengan melebarkan senyumannya yang manis.
__ADS_1
"Kamu sebenarnya ada masalah apa?" tanya Dhino setelah kami menyelesaikan nyanyian tadi,
"Aku tidak apa - apa " jawabku sambil tersenyum dan mengambil gelas Teh ku dari meja,
"Tadi di Motor kamu sudah menghindar sekarang kenapa harus bohong? bukankah kita sahabat?" ujar Dhino dengan lembut.
Aku menundukkan kepalaku dan mencerna apa yang disampaikan oleh Dhino, "Iyah.., tapi apa aku akan merasa lebih baik ketika aku bercerita sama kamu?" tanyaku bodoh kepada Dhino,
Lantas Dhino berdiri dan mengampiriku, lalu duduk berlutut di hadapanku, sambil memegang kedua tanganku, "Semua orang akan merasa lebih baik ketika dia bisa membagi bebannya kepada sahabat atau keluarganya, dalam hal ini kamu adalah sahabatku, bukan hanya duduk sendirian di perpustakaan dan membaca karya Plato serta Karl Mask disana, yang ada otakmu akan semakin gila membaca apa yang di katakan oleh para Filsuf itu"
"Kok kamu tau? aku baca karya - karya mereka?" tanyaku heran,
"Iyah sangking setresnya kamu, sampai kamu nggak sadarkan? kalau beberapa bulan ini aku juga selalu masuk ke Perpus untuk menjaga kamu, karena aku tau kalau Nita dan Ami yang datang berusaha menghibur kamu, yang ada kamu akan semakin setres dengan tingkah mereka, jadi aku bilang sama mereka biar aku saja yang menjaga kamu" terang Dhino dan itu membuatku terharu,
"Kamu kok baik banget sih Dhino? aku sampai sedih ini gara - gara kamu!!" rengekku,
Dan Dhino langsung memelukku dengan lembut,
"Sekarang kamu mau cerita ke aku? sebenarnya kamu ada masalah apa?" tanya Dhino sambil mengambil Tisu dan membiarkanku membersihkan air mataku terlebih dahulu,
"Aku di selingkuhi sama pacarku,dan aku tau dari keponakannya yang masih kecil, Lalu pacarku berlagak kalau semua baik - baik saja, aku akan segera mengakhiri hubungan kami, tapi aku takut tidak sanggup sendiri" jawabku jujur sama Dhino,
"Emang kamu ada pacar?" tanya Dhino membuatku jengkel sambil mendelik,
"Dhinoooo!!!" kembali Dhino terkikik melihat tingkahku,
"Dia yang anak hukum itu kan?" tanya nya, dan aku hanya menggangguk tanpa mejawab apapun,
"Hmmm..., bukankah dari awal aku sudah bilang, kalau dia bukan laki - laki yang gentle, aku kan sudah pernah bilang kalau dia tidak pantas di sebut sebagai laki - laki sejati, lalu kenapa kamu mau saja di perlakukan seperti itu?" tanya Dhino kesal kepadaku,
__ADS_1
"Kami sudah sepakat untuk tidak mempublikasikan hubungan kami di depan umum, tapi semua keluarga kami sama - sama saling tau Dhino, itu yang membuatku bingung bersikap" ucapku,
"Lalu kamu juga tau dia selingkuh dari keluarganya?" tanya Dhino,
"Iyah.. keponakannya yang masih kecil" jawabku
"Sungguh konyol, kalau keluarga sudah sama - sama tau mengapa harus merahasiakan hubungan kalian di depan umum? tidak ada alasan yang tepat apapun itu untuk kasus kamu Indah!" Ujar Dhino kesal.
"Lalu aku harus bagaimana?" tanyaku,
"Kamu tau apa yang harus kamu lakukan jika kamu menghargai dirimu sendiri dan jika kamu sanggup!" Dhino selalu saja sukses melontarkan kalimat - kalimat pedas di telingaku.
Aku kembali termenung dengan apa yang dikatakan Dhino, tapi aku merasa sedikit bebanku agaknya berkurang, aku merasa ini yang aku butuhkan yaitu berbicara mencurahkan kesesakkanku kepada seseorang, dan aku tidak menyangka bahwa orang itu adalah Dhino, sahabatku sendiri.
"Dhin... terima kasih banyaknya" ucapku tulus sambil tersenyum dan menggenggam tangannya, mata kami bertemu aku melihat semu merah di pipi Dhino,
"Sama - sama!" jawabnya sambil mengacak - acak rambutku "Ayok aku antar pulang, hujannya sudah berhenti, kamu pakai saja jaketku, aku pakai jaketku yang lain" ajak Dhino sambil beranjak mengambil sepeda motornya.
__ADS_1
BERSAMBUNG