
Acara nonton bareng bersama Ros di rumah benar - benar sukses di temani oleh keripik pisang kesukaan Ros, dan Indah memilih menonton dengan khidmat sambil berbaring di atas tikar, rasanya kali ini Indah menonton dengan sepenuh hati, seolah terbawa dengan jalan cerita Jang Gem, Air mata Indah jatuh melesat cepat dan deras di sisi pipi kiri dan kanannya,
Ketika Serial tersebut sudah habis, baru saja Indah menyeka air matanya dan mengambil ponsel yang di biarkan bergetar selama satu jam lebih tadi tiba - tiba suara telepon rumah terdengar.
Kring .. kring... kring..., Ros yang akhirnya buru - buru mengangkat telpon tersebut, Sedangkan Indah memeriksa ponselnya, ternyata ada dua puluh panggilan tak terjawab dari Nio, Indah bingung dan kembali memeriksa pesan masuk, tapi pesan masuk tersebut hanyalah pesan dari Dhino dan teman - teman lainnya.
Tiba - tiba Ros memanggil Indah "Kak.. ini telpon dari Kak Oni" kata Ros sambil memberikan gagang telponnya kepada Indah.
"Ada Apa Ros?" tanya Indah sudah dengan perasaan yang tidak enak, apakah masalah ini akan menjadi masalah yang sangat besar? batin Indah khawatir.
"Tidak tau Kak Indah.. hanya saja ada suara - suara juga di belakang Kak Oni, uda kakak angkat saja" pinta Ros sambil menutup gagang bawah telpon agar suaranya tidak terdengar dari seberang.
Sambil melangkah ragu akhirnya Indah mengambil gagang telepon tersebut dari tangannya Ros.
Kak Oni adalah kakak kandung Nio, tepat di atas Nio, "Halo kak..." jawab Indah dengan suara parau dan sengau,
"Indah... Indah.. Papa sudah tidak ada Indah... Papa sudah meninggal..." Kak Oni menyampaikan berita duka yang membuat Indah terhenyak saat itu.
"Kok.. bisa kak? bukannya tadi pagi baru masuk Rumah Sakit kak? Papa kan selama ini sehat kak... kenapa bisa begitu.." Tangis Indah pecah saat itu juga,
"Nanti ada yang jemput kamu di rumah, Indah nyusul ke rumah sakit yah.. sebagai anak mantu kamu harus ikut iring - iringan kami, itu permintaan terakhir Papa... dan Papa selalu tanya kamu Indah.." sahut Kak Oni dari seberang sana,
Rasa penyesalan menyeruak di relung hati terdalam, harusnya pada saat Richi dan Saga memintanya ke rumah sakit Indah langsung pergi tanpa harus menolak, toh masalah Indah selama ini hanya dengan Nio bukan dengan papanya bukan? Hatinya kembali bergemuruh sedih dan penuh penyesalan.
__ADS_1
"I... Iyah kak.. Indah siap - siap sekarang" jawab Indah sambil terbata - bata,
Setelah Indah siap memakai pakaian serba hitam tidak lama kemudian datang sepeda motor yang dibawa oleh sepupunya Nio, ternyata dia di tugaskan untuk menjemput Indah
"Ros.. kalau mama pulang, bilang aku pergi ke tempat Nio yah.. sampaikan kalau Papanya Nio baru saja meninggal dunia yah Ros" pesan Indah kepada Rose,
"Baik Kak Indah, hati - hati di jalan yah..."
Indah langsung pergi ke rumah sakit, air matanya terus terjatuh, sesekali Indah menyeka air mata tersebut, dan sesampainya di rumah sakit, tubuh kaku Papanya Nio terlihat terbujur di atas tempat tidur, Indah ingin mendekat tapi di sisi kepala sebelah kanannya ada Nio yang menangis dan meraung - raung tiada henti membuat Indah membatalkan niatnya.
Lalu Indah mendekat kepada mamanya Nio, dan saat mamanya Nio sadar jika ada Indah, beliau langsung memeluk Indah menangis dan meminta minta maaf kepada Indah, lagi - lagi rasa bersalah kembali menguasai Indah.
Padahal dari awal Nita sudah mengingatkan agar Indah tidak melanjutkan rencana bodohnya ini, tapi dengan keras kepala Indah malah mengambil kesempatan untuk mencari tau sikap Nio saat Nio menanyakan soal test kehamilan.
Harusnya saat itu Indah katakan saja tidak hamil dan meminta putus secara normal saja, dengan alasan sudah mengumpulkan segala bukti tentang Nio dan Risa! lagi - lagi Indah merasa bersalah, dan Indah juga semakin menyalahkan perempuan bernama Risa yang bisa - bisanya datang ke rumah Nio dengan mengaku ngaku jika berpacaran dengan Nio.
"ma... sudah ma... jangan minta maaf sama Indah ma... harusnya Indah yang minta maaf.." lirih Indah kepada mamanya Nio, mereka berdua menangis sambil berpelukan, entah apa yang ada di dalam isi hati mamanya Nio saat itu.
"Mama minta maaf karena tidak bisa mendidik Nio dengan baik, sampai buat Papa marah dan Papa sampai anfal begini Indah... Papa sudah tidak ada lagi... mama bagaimana kalau sudah begini, Aduhhh Tuhan... bebanku terlalu berat, Tuhan... Tolong aku Tuhan... Tolong...." mamanya Nio kembali berteriak-teriak histeris sambil terus memeluk Indah,
Kejadian itu semua tidak luput dari penglihatan teman - teman Nik yang hadir di rumah sakit, teman - teman yang mengenal Indah maupun yang tidak kenal dengan Indah, beberapa dari mereka terlihat sedang berbisik-bisik sambil melihat Indah, dan Indah secara tidak sengaja melihat itu semua.
"Mah... sudah ma.. sini Indah lap air matanya, mama harus kuat yah ma.., kasihan Papa kalau lihat mama begini.. ayok.. mama minum air dulu." bujuk Indah sambil mengambil air mineral di gelas dan sedotan yang berada di meja dekat mereka duduk,
__ADS_1
Mamanya Nio lalu mengambil dan meminum dengan derai air mata sambil menatap tubuh kaku suaminya, sampai akhirnya Ambulans telah siap dan beberapa perawat juga oara mantri ikut mengangkat jenazah Papanya Nio ke dalam ambulans.
Tubuh beliau sudah di bersihkan, sebuah pakaian putih dan jas putih di pakaikan oleh keluarga kepada jenazah beliau, terlihat penyesalan yang begitu besar di wajah Nio, dan Nio tidak sekalipun mau berpisah dari jenazah Papanya,
"Silahkan pihak keluarga bisa empat orang di mobil ambulans, dan satu orang boleh duduk di depan" panggil petugas rumah sakitnya.
"Mah.. Indah sama motor saja yah.. kalau di mobil bersama Nio, nanti suasana semakin runyam ma.. mama sama kakak Claudia saja yah..." bisik Indah kepada mamanya Nio.
Suasana duka membuat beliau tidak lagi ingin membantah walaupun dari awal mamanya Nio meminta agar Indah masuk di mobil bersama mereka.
"Oni, kamu gonceng Indah dengan motor, mama dengan Claudia di mobil dan Sarah" perintah mamanya Nio kepada anak mantunya, "yang paling depan biar suamimu Sarah" lanjut beliau.
Semua langsung menempati posisi masing - masing, seperti enggan memanggil Nio, mamanya hanya terus saja berjalan lurus tanpa mau mengalihkan pandangannya kepada anak bungsunya, seolah beliau menyimpan amarah yang begitu besar.
"Ayo Indah.." panggil kak Oni, dan Indah segera bergegas menuju motornya Kak Oni, mereka berjalan beriringan di belakang mobil jenazah, sungguh ramai suasana jalanan malam itu terlihat padat dengan adanya para pelayat yang juga berpartisipasi dalam kedukaan yang di alami keluarga Nio. Suara klakson motor dan deru mesin motor memekakkan telinga dan semakin membuat Indah ingin menangis berteriak karena merasa begitu bodoh, tindakannya sangatlah Bodoh!
*
*
*
*
__ADS_1
*
Bersambung