
Harapan adalah sebuah motivasi hidup bagi Indah, namun sayang dalam kehidupaan Indah, sebuah harapan saja rasanya tidak cukup untuk membuat hidupnya berjalan lebih baik, terlihat secuil asa ketika akhirnya Indah dapat berbicara dengan normal, seolah terkena awan panas yang turun dari gunung ke egoisan masing – masing membuat harapan itu menguap dan hilang begitu saja.
Rasa emosi yang tidak dapat di tahannya kala mendengar kelakar tak sopan dari teman anah buah mamanya, membuat Indah tidak lagi dapat menguasai dirinya, sebuah umpatan kasar akhirnya meluncur begitu saja dari bibir tipis Indah.
“Heh!! Bangsat!!! Jangan ngawur kamu kalau ngomong yah! Saya anaknya Bos, tidak mungkin saya sudi dengan anak buah mama saya sendiri, dan Kamu!!! Kurang ajar!! Malah ketawa – ketawa, Pergi Kamu!!!” Dewa yang mendapat umpatan kasar dari Indah langsung menundukkan kepalanya menahan malu karena Indah membuat keributan di tengah perkampungan tempat tinggalnya.
Indah tetap saja tidak peduli meski banyak pasang mata melihat kejadian tersebut bahkan berbisik – bisik seperti suara dengungan tawon, hingga suara dengungan itu terpecah kala suara Bos Besar mereka menggelegar di balik punggung Indah.
“INDAH!! Apa – apaan ini?!!!” tatapan tajam bagai pedang bermata dua sama – sama terpancar di sorot mata Ibu dan anak ini, membuat siapa saja merinding ngeri, Indah ingin menjawab tapi Indah ingat aakan posisinya sebagai seorang anak, tidak mungkin Indah berani dan mau melawan mamanya di hadapan umum, apa kata dunia nantinya pikir Indah mengurungkan niat untuk membanting lidahnya demi membela diri.
“Kamu kenapa ribut – ribut?! Bikin malu saja!! Kalau ada yang kurang ajar bukan teriak – teriak disini tapi langsung lapor mama!! Kamu paham?!” lagi suara Mama meninggi delapan oktaf sangat melengking dan memekikkan gendang telinga orang disekitarnya.
“Iyah ma.. maaf..” jawab Indah singkat tak ingin membantah,
“Kalian disini kalau ada yang berani mengganggu anak saya, kalian tidak akan saya kasih pekerjaan lagi!!” ancaman sang Bos rupanya manjur, beberapa laki – laki yang tadi sempat membuat Indah geram langsung menghampiri Indah dan meminta maaf kepada Indah maupun Bos mereka yang tak lain adalah mamanya Indah.
Namun rasa curiga tetap membuat Indah muak berada di lingkaran kemunafikan itu, “Ma.. Indah mau pulang saja, mama mau ikut atau masih disini?” tanya Indah berusaha menahan getaran suara di setiap ucapannya.
“Yah sudah kamu pulang saja, mama masih mau disini nanti mama akan telpon supir jemput mama..” sahut mama terdengar biasa, ketika Indah berjalan menuju keparkiran mobilnya, mama mengikuti langkah Indah dari belakang, hingga Indah masuk ke mobil dan duduk di balik setir bundar miliknya.
“Kamu kenapa to? Buat malu mama saja!” ucap mama menahan suaranya yang penuh dengan emosi.
“Apa maksud mama meninggalkan Indah sama anak buah mama itu, dan mana es teh yang mama beli kok nggak ada?” tanya Indah penuh selidik.
__ADS_1
“Kamu kan disini baru, makanya mama suruh Dewa nemani kamu, apa mama salah kalau mama khawatir kamu sendiri disini? Dan Es Teh sampai ketinggalan di warung gara – gara mama dengar suara kamu teriak – teriak.” Jawab mama tetap santai tapi seolah menyembunyikan sesuatu, Indah paham betul sifat wanita yang melahirkannya itu.
“Ma.. tadi ada pas Indah teriak – teriak semua orang takut dengar suara mama, lantas apa alasan sebenarnya mama ninggalin Indah berdua sama anak buah mama itu? Dan warung? Warung yang mana ma? Disini hanya ada lima warung dan Indah cari mama, tidak satupun Indah melihat mama di sana.” Jawab Indah dengan jengah atas tingkah dan kebohongan mamanya, selalu saja mama suka membuat drama untuk menutupi niatnya jika sudah seperti sekarang.
“Tapi kan mereka nggak kenal sama kamu! Sudah jangan kamu ajak mama berdebaat disini! Pulang sana, tunggu mama di ruang tamu kalo kamu masih nggak terima sama kejadian barusan!” usir mama yang sudah gerah dengan beberapa pasang mata yang terus saja penasaran dengan apa yang akan terjadi antara Ibu dan anak ini.
Indah tidak ingin banyak bicara lagi, Indah memilih untuk segera menyalahkan mesin mobilnya dan tanpaa pamit pergi begitu saja dari hadapan mama, tentu saja terlihat wajah emosi juga melingkupi seluruh wajah mama.
Sesampainya dirumah Indah menunggu mama pulang sesuai dengan ucapan sang bunda, beberapa jam berlalu hingga suara mobil masuk keparkiran gaarasi rumah mereka, langkah kaki terdengar begitu mengintimidasi telinga Indah yang sudah menebak suara langkah kaki tersebut.
Benar saja ketika pintu di buka suara geram Mama Mery terdengar sangat membabi buta, “Kau!!! Memang anak tidak tau di untung, semenjak kau pacaran sama manusia setengah siluman tuyul itu Kau jadi kurang ajar sama mama!” kini suara mama yang bagaikan suara letusan bom Hiroshima.
“Ma.., mama yang keterlaluan ma..., bisa – bisa mama ninggalin Indah sama anak buah mama, yang mulutnya uda ngomong kemana – mana bakal jadi anak mantu mama, Indah jijik ma.. harga diri Indah serasa di injak – injak ma..” keluh Indah kepada maama tidak mendapatkan respon positif seperti yang diharapkan oleh Indah.
“Bukan ma.. tapi apa Iyah.. Indah ini selevel sama Dewa ma? Indah jijik ma..” ucap Indah kini menggebu – gebu,
“Loh... kok lucu kamu jijik sama Dewa, kamu tau tidak Dewa itu pintar kerja biar gitu – gitu dia sebulan bisa buat mama menghasilkan uang lebih dari dua puluh juta bersih Indah!! Kalo kamu jijik sama Dewa yang masih ada tampangnya, dibandingkan laki – laki unyil yang jadi pacar kamu sekarang, amit – amit!! Cuih!!!” ucapan mama yang Sarkas dan seolah membela Dewa membuat Indah semakin emosi bukan kepalang,
“Loh.. maksud mama ini apa? Mama sengaj jodoh – jodohin Indah sama anak buah mama?” tanya Indah bingung sudah mau nangis lagi – lagi hal tidak masuk diakal kini terjadi pada dirinya.
“Yah lebih baik kamu sama Dewa, gitu – gitu dia masih lebih ganteng, gagah dan pintar dari pada Vano!” Ucapan mama yang sangat tidak masuk diakal membuat Indah ternganga heran dan ingin menjambak dirinya sendiri, berharap tidak ada rasa sakit maka Indah akan lega bahwa apa yang dihadapannya sekarang bukanlah sesuatu yang nyata.
Namun lagi – lagi harapan itu buyar, saat Indah menjambak rambutnya, terasa sangat sakit di bagian kulit kepalanya, dan kini Indah merasa semakin kecewa dengan keadaan dirinya, ternyata semua yang terjadi ini adalah kenyataan,
__ADS_1
“Kamu gila yah?! Jambak – jambak rambut kamu sendiri..?!” tanya Mama dengan penuh emosi melihat tingkah Indah,
“Iyah ma.. Indah gila maa.., bagaimana mungkin mama membandingkan Dewa dengan Vano ma?!! Yah Tuhan..., mati saja Aku kalau begini, ma... mama tidak lihat keluarga Dewa ma?! Maaf yah ma.. mereka nggak sekolah ma... bahkan Dewa apa yah dia lulus SMA ma?!! Vano biar gitu –gitu dia mahasiswa tingkat akhir ma..., Dewa ini apa ma?!! Mama benar – benar hilang akal dengan pikirannya mama seperti ini..” lirih Indah kini sudah menangis,
“Biar nggak sekolah kalau Kamu sama dia tidak akan kekurangan makanan, Kamu bisa memiliki penghasilan, lah kamu sama Vano apa yang dihaaraap hah?! Ujung – ujungnya juga paaling dia kerja sama orang, mentok – mentok paling cuman honor di kantor pemerintah..” ejek Mama Mery.
“Lebih terhormat ma... dari pada Indah sama Dewa, gak sudi Indah ma..”
“Yah sudah silahkan angkaat kakimu dari rumah ini kalau kamu tidak sudi!!” teriak Mama Mery,
“Okay ma...” Balas Indah,
“APA – APAAN INI?!!!” Suara Kepala rumah tangga tiba – tiba saja menggelegar hebat di ruang tamu rumah mereka.
Bersambung
halo teman2 mohon saran dan kritik yah jangan lupa like like nya, coment dan vote nya dong teman2 semua..
sambil menunggu update terbaru Aku adalah Indah part 3, kalian bisa baca Novel terbaru aku yang berjudul “STRONG IN BETRAYAL” yang tayang setiap hari pukul 13.00 WIB
makasi sebelumnya,
jgn lupa Follow IG aku yah @Lizbet.lee
__ADS_1