
Kegalauan Indah membawanya terjebak di depan gang masuk rumahnya Vano, Indah merasa jengkel, marah, rindu dan tak karuan karena tidak dapat menghubungi Vano, Bahkan Indah sempat merasa putus asa dan mengumpat tidak karuan di dalam mobil.
Sampai akhirnya Indah menyerah dan hendak pulang, tiba - tiba saja suara ketukan dijendela mobilnya terdengar seraya memanggil namanya "Indah??" suara yang di nanti - nantikannya terdengar di telinganya, seolah merasa tidak nyata Indah masih kebingungan sesaat.
"Indah...?" panggilnya lagi,
"Van... Vano?" sahut Indah seraya membuka pintu mobilnya dan keluar untuk menemui Vano yang sudah turun dari motornya dan berdiri tepat di hadapannya.
"Kamu... kamu ngapain malam - malam begini kesini? Yah Tuhan Indah... bagaimana kalau ada orang jahat mengganggu kamu Hah?! ini bahkan sudah hampir jam satu malam Indah, apakah kedua orangtuamu tidak marah? Yah Ampun Indah .. ayo masuk kerumahku..." cecar Vano seraya menarik tangan Indah untuk mengajak Indah ke rumahnya.
Indah langsung saja melepaskan genggaman tangan Vano dan menahan rasa emosinya,
"Kamu kenapa hah?!" tanya Vano masih khawatir, dan kembali mencoba menarik tangan Indah untuk mengikutinya masuk ke rumahnya, tapi Indah lagi - lagi menarik tangannya, tapi kali ini dilakukannya dengan kasar sampai membuat Vano terheran-heran.
"Ada apa?" tanya Vano dengan nanar menatap Indah,
"Kamu tanya aku ngapain malam - malam kesini???? tentu saja aku kesini untuk bertemu denganmu yang besok akan pergi ke luar pulau, dan kamu tanya lagi bagaimana jika ada orang jahat mengganggu aku kan???! harusnya kamu tanya dirimu sendiri kenapa aku telpon telpon kamu ratusan kali tapi tidak ada jawaban apapun darimu?! Hah?!!!! Kamu tidak angkat telponku, dan kamu sekarang mengkhawatirkan aku Vano?!!! Kamu tanya apakah kedua orang tuaku tidak akan marah jika tau aku kesini tengah malam begini bukan??? tentu saja mereka akan marah!! Mamaku bahkan akan sangat Murka jika tau aku kesini menemui kamu Vano!!!! tapi untunglah mereka berada di luar kota saat ini, bahkan jika mereka ada dirumah sekalipun aku akan tetap datang kesini dan menerima segala resiko kemurkaan kedua orang tuaku, apakah kamu paham?!!! kamu paham sekarang?!!! dan dengan mudahnya kamu menceramahi diriku lalu mengajakku masuk ke rumahmu tanpa rasa bersalah sama sekali?!!!" desis Indah dengan dada kembang kempis karena meluapnya emosi yang tidak terbendung.
Vano yang mendengar perkataan Indah tersenyum teduh, dan langsung memeluk Indah untuk menenangkan Indah yang sedang emosi, "Maafkan aku... handphoneku tertinggal di rumah karena sedang di cas Indah... aku... juga sangat khawatir makanya aku tadi cerewet denganmu, dan tentu saja jika kamu dimarahi mama papamu karena kesini lantas aku harus memiliki rencana untuk bertemu kedua orangtuamu untuk meminta maaf kepada mereka, aku juga mengajakmu ke rumahku agar kamu tidak kedinginan dan tidak di lihat orang diluar sini Indah..., jadi kumohon masuklah kerumahku.." pinta Vano baik - baik kepada Indah.
"Tidak... aku juga sungkan sama orang tuamu dan kakakmu, dan jangan paksa aku Vano. Aku paling benci dipaksa!" Ancam Indah.
"Baiklah... dan mengenai aku pergi... itu benar Indah... tapi aku tadi tidak dapat tiket kapal Ferrynya, jadi aku pergi kesana bukan besok pagi tapi Lusa pagi..."
Indah merasa malu mendengar jika besok Vano belum pergi juga merasa lega karena mereka masih ada waktu selama satu hari bersama - sama, "Baiklah.. kalau masih lusa aku akan pulang sekarang." Ucap Indah sekaligus masuk kedalam mobilnya, dan Vano mengetuk jendela mobil Indah.
Indah membuka lebar jendela mobilnya, "Apa?!" tanya Indah, Vano tertawa geli melihat Indah berbicara ketus dengannya,
"Apakah kamu masih marah kepadaku Indah?"
__ADS_1
"Aku tidak marah Van... aku hanya mau pulang..."
"Benarkah? kamu mau pulang? tidakkah kamu ingin mengatakan sesuatu kepadaku?"
"Emangnya apa yang harus aku katakan kepadamu hah?!"
"Oh... begitu.. baiklah.. aku rasa kamu mungkin hanya lewat disini saja dan sekedar mengucapkan selamat jalan kepadaku, baiklah maafkan aku yang terlalu berharap jika malam ini akan menjadi malam yang paling membahagiakan bagiku, baiklah... hati - hati di jalan yah..." Ucap Vano seraya berbalik dan mengambil motornya.
Indah yang melihat Vano meninggalkannya begitu saja tiba - tiba naik pitam dan merasa kecewa, tapi kesadaran kembali muncul jika keadaan ini segalanya rumit karena sikapnya sendiri.
Indah langsung turun dari mobilnya dan memeluk Vano dari belakang, "Aku... Aku memang datang kesini untuk mencari kamu Van... bukan untuk singgah, atau sekedar mengucapkan selamat jalan, aku kesini.. karena aku..." tenggorokan Indah tercekat tidak dapat melanjutkan kalimatnya dengan baik.
Vano segera berbalik dan membalas pelukan Indah seraya menepuk - nepuk punggungnya Indah dengan lembut, "Sudah... tidak diteruskan jika kamu belum sanggup mengatakannya, bukankah tindakan melebihi kata - kata ..? aku paham... apa maksudmu Indah..., Aku paham... terima kasih untuk kesempatan yang kamu berikan kepadaku" bisik Vano seraya menenangkan Indah.
Indah merasa trenyuh, hatinya merasa seperti ngilu mendengar perkataan Vano, Indah tidak lagi menjawab apa - apa.
"Ayo... aku antar kamu pulang.." ucap Vano kepada Indah,
Vano tertawa mendengar pertanyaan dan melihat ekspresi wajah Indah, seraya mencubit pelan pipi Indah Indah berkata "Aku akan pakai motor dan kamu bawa mobilmu sendiri, aku akan mengikuti kamu dari belakang sampai di tempat tujuanmu Indah, dan ketika kamu masuk rumahmu yah aku langsung pulang dengan motorku" terang Vano.
"Hah?! itu sangat merepotkan Van... biar saja aku pulang sendiri nggak apa - apa kok.." tolak Indah,
"Aku tidak akan mengijinkan kamu pulang sendiri Indah, sudah jangan berdebat lagi, ayo masuklah ke mobilmu" dan Indah akhirnya menurut kepada Vano,
Mereka berjalan beriringan sampai di rumah depan rumah Indah, tepat seperti apa yang dikatakan oleh Vano ketika Indah masuk rumahnya, Vano langsung bertolak pergi.
Keesokan harinya tepat pukul empat sore Vano datang ke rumah Indah dan menjemput Indah, "Kita kemana Van?" tanya Indah kepada Vano,
"Aku kenalkan sama keluarga ku mau?" tanya Vano, Indah tersenyum "sebagai?" tanya Indah
__ADS_1
"Sebagai kekasihku...apakah kamu setuju?" tanya Vano,
"Apakah aku menyandang status sebagai kekasihmu? tolong jelaskan dulu Van... kita belum memiliki kesepakatan apapun"
"Tidak perlu kesepakatan untuk apapun Indah .. apa yang kamu rasakan selama tidak bersama denganku?" tanya Vano,
"Jawablah jujur... tidak perlu gengsi.." Vano kembali terkikik melihat Indah.
"Aku... entahlah Van... Aku merasa sangat kesepian dan hampa.. Aku rasa.. Aku membutuhkan kamu..." jawab Indah Jujur.
"Apakah itu cinta?" tanya Vano,
"Itu... aku tidak tau .. yang pasti aku sangat ingin berada disisi kamu Van.. dan Aku.. entahlah aku tidak pandai mendeskripsikan semuanya" malu - malu Indah menerangkan apa yang dirasa kepada Vano
"Syukurlah kalau kamu tidak mendeskripsikan perasaan kamu Indah .. jika kamu bisa mendeskripsikan perasaan itu.. maka aku akan ragu jika kamu memang membutuhkan aku..." ucap Vano kepada Indah,
"Aku akan pergi selama enam bulan Indah... dan .. aku rasa setelah hari ini aku yang akan tersiksa karena menahan rindu kepada kamu" sambung Vano sambil tertawa,
"Iyah... aku juga pasti akan merasakan hal yang sama Van.. bukankah yang ditinggalkan akan lebih merana dari pada yang meninggalkan?" hibur Indah kepada Vano.
"Apakah kamu akan benar - benar menungguku?" tanya Vano,
"Iyah Van... Aku akan menunggumu"
---***---***---
Bersambung
Mohon saran dan kritik yah jangan lupa like like nya, coment dan vote nya dong teman2 semua..
__ADS_1
sambil menunggu update terbaru Aku adalah Indah part 3, kalian bisa baca Novel terbaru aku yang berjudul “STRONG IN BETRAYAL” yang tayang setiap hari pukul 13.00 WIB