
2 hari kemudian...
Terlihat Widia, Angga dan Andi tengah bersiap untuk pergi ke tempat ibunya Widia yaitu Bu Rahayu.
"Kalian sudah siap?" Tanya Angga.
"Sudah kok sayang." Ucap Widia.
"Apa kamu sudah siap Andi." Tanya Angga pada putranya.
"Sudah kok yah." Ucap Andi.
"Baiklah, ayo cepat naik ke mobil." Ucap Angga.
Lalu Angga, Widia dan Andi langsung naik ke dalam mobil, setelah semua naik Angga langsung menyalakan mesin mobilnya dan perlahan Angga langsung menjalankan mobilnya ke jalan raya.
Pagi hari di Jakarta cukup ramai, karena jam segini waktunya orang-orang berangkat ke kantor. Nampak Andi bosan karena harus berada di dalam mobil terus, dan perjalanan ke Bandung pun terhambat karena macet.
Tit..Tit..Tit..
Angga terus membunyikan klaksonnya, dia kesal karena harus terjebak macet.
"Berisik, percuma kamu bunyikan klakson 1000 kali juga gak bakalan ngaruh. Yang ada malah tambah bising." Ucap Widia.
Dan Angga hanya diam, tak ingin meladeni ucapan Widia. Jika Angga meladeni ucapan Widia malah tambah pusing.
"Kau bosan..." Ucap Andi.
"Sabar yah sayang." Ucap Widia.
Cukup menunggu lama kini mobil Angga sudah tak terjebak macet lagi, lalu mobilnya langsung di arahkan ke jalan tol.
Di sepanjang jalan tol, Andi sesekali melihat pemandangan, dan Widia hanya melihat handphonenya.
"Perjalanannya masih jauh Yah." Tanya Andi.
__ADS_1
"Lumayan jauh, kamu tidur aja. Nanti kalau udah sampai ayah bangunin kok." Ucap Angga.
Lalu Andi langsung menutup matanya, dan Widia hanya tersenyum melihat putra sulungnya itu tertidur.
"Semakin kesini Andi mirip kamu yah." Ucap Widia.
"Iya, pastilah diakan anak aku." Jawab Angga.
"Iya juga sih." Ucap Widia.
Tak ada lagi obrolan antara Angga dan Widia, terlihat Widia menyandarkan kepalanya ke kaca mobil sambil matanya melihat jalanan tol. Sementara Angga hanya pokus menyetir.
"Ayah..." Panggil Andi.
"Ada apa Andi." Tanya Angga yang masih pokus menyetir.
"Aku pusing, pengen muntah." Ucap Andi.
"Kok bisa emang kamu mabuk kendaraan." Ucap Angga. Lalu Angga langsung membangunkan Widia.
"Andi pusing katanya dia pengen muntah." Ucap Angga.
"Ya ampun. Berhentiin dulu mobilnya." Suruh Widia panik.
"Tapi ini di jalan tol kita tak boleh berhenti, kecuali dalam keadaan darurat." Ucap Angga.
"Tapi ini keadaan darurat sayang, kau ingin Andi muntah di dalam mobil." Ucap Widia.
Mendengar hal itu Angga langsung menepikan mobil miliknya, dengan cepat Widia langsung membuka pintu belakang.
Lalu Andi langsung berlari ke palang pembatas jalan dan langsung memuntahkan isi perutnya, nampak Angga langsung memalingkan wajahnya dia tak ingin melihat pemandangan yang menjijikkan seperti itu.
Setelah itu, Widia langsung kembali membawa Andi ke dalam mobil, dan sekarang Widia duduk di kursi belakang untuk menemani Andi.
Dengan penuh khawatir Widia mengoleskan kayu putih di hidung, dada dan juga perut Andi.
__ADS_1
"Memangnya Andi suka mabuk kendaraan?" Tanya Angga.
"Biasanya sih enggak, tapi mungkin karena Andi sekarang lagi kurang sehat jadi kaya gini." Ucap Widia sambil mengelus rambut putranya.
"Setelah kita keluar dari tol apa kita perlu ke klinik dulu untuk memeriksa keadaan Andi." Tanya Angga.
"Bagaimana sayang, apa kita ke klinik dulu biar meriksa keadaan kamu?" Tanya Widia pada putranya.
"Gak usah Bu, Andi baik kok." Jawab Andi lemas.
"Tapi kamu pucet loh sayang." Ucap Widia sambil melihat wajah putranya.
"Gak papah kok Bu, Andi baik kok." Ucap Andi.
Percuma memaksa putranya itu, karena Widia tahu sifat Andi yang keras kepala seperti ayahnya. Lalu Widia kembali mengoleskan kayu putih pada Andi, sementara Angga kembali pokus ke jalanan.
Kemudian Angga mulai menaikkan kecepatan laju mobilnya agar lebih cepat sampai ke Bandung. Yang sekarang ada di benak Angga adalah bagaimana cara dia untuk meminta restu pada ibunya Widia, Angga takut jika ibunya Widia tak merestui mereka.
Terlihat Widia menatap Angga heran karena Angga seperti tengah memikirkan sesuatu, "Kamu lagi mikirin apa, mas." Ucap Widia.
"Enggak kok, aku gak lagi mikirin apa-apa." Jawab Angga.
"Bohong. Pasti kamu lagi mikirin tentang ibu aku yah." Ucap Widia.
Dan Angga hanya tersenyum sebagai jawaban dari ucapan Widia.
"Kenapa harus di pikirin, sekarang kamu gak perlu mikirin tentang hal itu. Soal ibu aku gimana nanti aja, dengan keteguhan dan keseriusan kamu juga pasti bakal ngeluluhin hati ibu aku." Ucap Widia.
"Semoga saja." Ucap Angga. Lalu Angga kembali memfokuskan dirinya pada jalanan.
•Jangan lupa like and Votenya yah. Agar author semangat buat Episodenya.
•Pertanyaaan!!!
-Akankah ibu Rahayu merestui Angga dengan Widia atau malah sebaliknya? Silahkan komen. 🙂
__ADS_1