
Melihat putranya berlari, widia langsung mengikuti andi. Perlahan widia membuka kamar tidur andi.
"Andi." Panggil widia.
Terlihat andi, tengah berada di atas ranjang sambil bersembunyi di balik selimut miliknya.
"Andi." Panggil widia sambil membuka selimut tersebut, terlihat andi tengah memeluk guling. "Kamu kenapa nak?" Tanya widia.
Tak ada jawaban dari andi. Lalu widia langsung memeluk tubuh mungil putranya itu. "Andi sudah tak sayang lagi sama ibu?" Bisik widia. Lalu andi membalikkan tubuhnya menghadap widia.
"Andi sayang kok saman ibu." Ucapnya pelan.
"Terus andi kenapa? Kamu kenapa lari saat tahu jika ibu sedang hamil?" Tanya widia sambil memeluk andi.
Terlihat andi hanya diam tak ingin menjawab pertanyaan dari widia. Lalu widia mengelus kepala putranya itu. "Jika kamu ada masalah, bicara sama ibu. Jangan tertutup kaya gini."
"Hem, andi gak mau jika ibu punya anak lagi." Ucap andi pelan.
"Kenapa andi gak mau?" Tanya widia lembut.
"Andi gak mau berbagi ibu dengan orang lain." Ucapnya.
Terlihat widia cukup terkekeh dengan ucapan andi. "Dengarkan ibu, meski ibu punya anak lagi. Ibu bakal tetap sayang sama andi sama andi, lagi pula punya andik itu seru loh, nanti kamu bisa main sama dia terus apa lagi yah? Pokoknya seru deh." Ucap widia. Tapi terlihat andi hanya diam membisu.
__ADS_1
"Lalu kenapa tiap ibu ajak andi pulang kok andi gak mau? Kenapa andi malah memilih tinggal di sini."
Terlihat andi sedikit terdiam. "Hem, andi takut jika harus jujur."
"Kenapa takut sayang, coba jujur sama ibu."
"Hem, andi takut jika berdekatan dengan ayah angga."
Widia sedikit tersentak mendengar pengakuan dari putranya itu. "Kok bisa, tapi jika ibu lihat kamu kaya biasa aja kalau berdekatan sama ayah angga malahan kamu kaya yang suka banget sama ayah angga."
"Andi cuman pura-pura suka aja, sebenernya andi gak suka sama ayah angga."
"Kenapa kamu gak suka sama ayah angga?"
"Dia udah nelantarin andi, saat andi kecil dia gak pernah ada untuk andi." Ucapnya pelan.
"Apa pun alasannya tetap andi gak suka."
Widia menatap sendu putra pertamanya itu, dia tak bisa menyalahkan angga karena tak ada saat andi masih kecil tapi mau bagaimana lagi.
"Hem, Andi."
"Iyah, bu."
__ADS_1
"Kan andi udah besar, ibu daftarin sekolah yah."
"Aku gak mau sekolah."
"Kenapa?"
"Pokoknya andi gak mau sekolah."
"Sekolah rame loh, kamu bisa punya temen yang banyak. Terus bisa aja nanti kamu ketemu sama temen cewek." Ucap widia sambil menahan tawa.
Terlihat andi langsung menatap widia dengan tatapan tak suka.
"Hahaha, ibu hanya bercanda nak. Jangan nganggap serius kaya gitu dong."
"Becanda ibu gak lucu."
"Udah, udah. Anak ibu jangan ngambek nanti gantengnya ilang."
Lalu widia langsung memeluk putranya itu. "Kita pulang yuk." Ajak widia tapi dengan cepat andi langsung menggelengkan kepalanya.
Bingung harus bagaimana, widia harus memikirkan cara agar andi lebih menyukai angga.
"Ya udah, ibu pulang dulu yah. Besok ibu ke sini lagi. Oke." Ucap widia. Lalu andi langsung mengenggukkan kepalanya. Sebelum pulang widia mencium kening putranya terlebih dahulu.
__ADS_1
Sebenarnya andi saat di kampung sudah sekolah, tapi karena dia selalu di kucilkan, dan tak pernah ada yang menemaninya di tambah lagi dengan teman-teman sekelasnya yang suka menyebutnya sebagai anak yang tak memiliki ayah. Sehingga andi berhenti sekolah, sangat di sayangkan andi berhenti sekolah tapi apa boleh buat widia tak bisa memaksa putranya dan hal itu membuat andi trauma untuk bersekolah.
Widia ingin putranya kembali bersekolah tapi putranya terlalu keras kepala sama seperti angga. Dan sepertinya widia harus meminta pertolongan dari angga untuk membujuk andi sekaligus untuk mempererat hubungan ayah dan anak tersebut.