Aku Bukan Nona Malam

Aku Bukan Nona Malam
Eps. 131


__ADS_3

Kini semua orang tengah makan di meja makan, nampak Andi makan dengan tatapan sinis pada gadis kecil di hadapannya itu. Dan Widia hanya bisa diam melihat putranya itu.


"Makan yang banyak yah, andi. Kila." Ucap Widia.


"Hmm.." Gumam Andi.


"Baik Tante." Jawab Kila. Nampak Andi menjadi cuek, dan Widia harus segera menjelaskan semuanya agar Andi bisa mengerti.


Setelah selesai makan, Angga dan Widia langsung mengajak Andi masuk ke kamar mereka sementara Kila dia berada di kamar tamu untuk istirahat.


"Andi sayang." Panggil Widia.


"Hmm." Hanya gumaman sebagai jawaban.


"Ibu sama ayah mau menjelaskan semuanya pada andi. Dan Andi harus bisa mengerti keadaan ini, ibu yakin meski umur Andi masih kecil tapi kamu memiliki pemikiran seperti orang dewasa." Ucap Widia. Dan Andi hanya menatap ibunya dengan tatapan malas.


Lalu Widia dan Angga langsung menjelaskan semuanya dari awal, nampak Andi mulai mencerna semua penjelasan dari ayah dan ibunya itu.


"Gitu sayang, kamu ngerti kan?" Tanya Widia.


"Tapi Andi gak mau jika nanti ayah sama ibu lebih menyukai gadis jelek itu." Ucap Andi sambil memonyongkan bibirnya.


"Uhh, gak bakalan sayang. Ibu tetep bakal sayang sama kamu. Karena kamu itu anak ibu yang paling ganteng, paling pinter. Pokoknya kamu itu is the best deh." Ucap widia sambil memeluk Andi dan begitu juga dengan Angga di sangat bangga dengan putranya itu meski masih kecil tapi bisa memiliki pemikiran seperti orang dewasa. Dan suatu saat nanti Andi pasti akan menjadi pengusaha yang sukses sama sepertinya.


"Tapi ibu sama ayah jangan harap jika aku akan baik pada gadis jelek itu." Ucap Andi.

__ADS_1


"Uh,, anak ibu. Kamu tuh masih kecil tapi bicara udah kaya orang dewasa." Ucap widia pada putranya.


Sebenarnya wajar saja jika Andi berbicara seperti orang dewasa karena Andi tak pernah bergaul dengan anak seumuran dulu saat di kampung maupun sekarang.


"Bukankah bagus jika aku bersikap dan berbicara seperti orang dewasa?" Tanya Andi pada ibunya.


"Bagus memang tapi, mungkin bagaimana yah. Ibu menjelaskannya. Hmm... Ibu rasa perkataan mu itu kurang cocok karena kau masih kecil sayang." Ucap Widia.


"Kenapa tak cocok? Malahan itu bagus, kau harus mempertahankan gaya bicaramu itu nak. Itu menandakan jika Andi memiliki sikap yang sama denganku." Ucap Angga.


"Tapi Angga.." Ucapan widia langsung di potong oleh Andi.


"Terus ibu ingin aku berbicara seperti gadis jelek itu? yang bicaranya saja tak jelas." Ucap Andi.


"Bukan maksud ibu kaya gitu." Ucap Widia.


"Oke ayah." Jawab Andi sambil mengedipkan mata sebelah kirinya.


Drett.. Drett.. Drett...


Saat mereka tengah asik mengobrol handphone milik Widia bergetar lalu Widia langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo dengan keluarga Bu Dewi?"


"Iya, ada apa yah?"

__ADS_1


"Saya dari pihak rumah sakit, ingin memberitahukan jika kondisi pasien semakin memburuk."


"Apa bagaimana bisa?"


"Iya Bu, pasien sepertinya sudah tak akan tertolong lagi. Jadi kami harap ibu bisa segera ke rumah sakit untuk melihat pasien."


"Baik saya akan ke sana sekarang."


Lalu panggilan pun langsung terputus.


"Ada apa?" Tanya Angga.


"Kondisi Dewi semakin memburuk, dan kita harus segera ke rumah sakit." Jawab Widia.


"Ya udah ayo." Ajak Angga. Nampak Andi hanya diam.


"Andi ayo." Ajak widia.


"Andi gak mau." Jawab Andi.


"Ibu mohon sayang, kamu ikut yah." Ucap Widia memohon pada Andi. Dan Andi langsung mengangguk kepalanya, lalu Widia langsung pergi ke rumah sakit tak lupa dia mengajak Kila untuk ikut ke rumah sakit.


"Tante, kenapa kita ke lumah cakit?" Tanya Kila.


"Tadi dokter bilang ibu Kila mau bertemu sama Kila." Jawab Widia.

__ADS_1


"Hore.. Kila bakalan ketemu cama ibu." Ucap Kila senang saat mengetahui jika dia akan bertemu dengan ibunya.


Nampak Widia dan Angga saling menatap satu sama lain, Widia takut jika ini pertemuan terakhir Kila dan ibunya. Widia tak bisa membayangkan bagaimana sedihnya Kila.


__ADS_2