Aku Bukan Nona Malam

Aku Bukan Nona Malam
Eps.25


__ADS_3

Lalu widia langsung melenggang pergi meninggalkan ibu-ibu tersebut yang langsung diam membisu ketika mendengar ucapan widia.


Widia tak ingin terus jika hidupnya harus selalu di usik oleh mereka dan sesekali widia harus membungkam mulut pedas mereka agar mereka jera supaya tak lagi mengurusi hidup orang lain.


Tak beberapa lama widia sampai di rumahnya, dia langsung membuka pintu tanpa mengucapkan salam karena dia tahu pasti ibunya sudah tak ada di rumah.


"Laparnya."


Widia memegangi perut nya yang mulai keroncongan, dia langsung berjalan ke dapur melihat apakah ada sesuatu yang bisa di makan.


Di lihatnya hanya nasi, tak ada lauk pauk, apa mungkin ibunya tak memasak untuknya lalu widia melihat 2 butir telur.


Widia langsung mengiris satu siung bawang merah untuk membuat nasi goreng extra telur.


Cukup lama dia memasak nasi goreng dan kemudian nasi goreng yang widia masak sudah siap untuk di santap.


Widia duduk di meja makan sambil menyuapkan nasi goreng yang dia buat ke dalam mulutnya.


Entah kenapa saat sedang makan pikiran widia melayang pada angga, dia mengingat kejadian yang tadi pagi dia alami.


Terlihat widia tengah senyum-senyum sendiri, memikirkan kejadian konyolnya bersama angga. Jujur saja kadang dia benci ketika angga sedang dalam pikiran mesumnya tapi kadang juga widia selalu merasa nyaman ketika angga tidak dalam pemikiran mesumnya.


Tak terasa makanan nya yang ada di piring sudah habis di lahap oleh widia lalu dia menyimpan piring kotor tersebut.


Widia sekarang bingung, dia harus melakukan aktivitas seperti apa karena sekarang dia libur bekerja.


Widia kemudian berjalan menuju kamarnya dan langsung merebahkan tubuh nya di atas kasur kesayangannya sambil memejamkan matanya.


Dretttt...dretttt..drettt...


Terdengar handphone widia bergetar, widia langsung melihat layar handphonenya tapi nomor yang tertera pada layar phonelnya adalah nomor baru dan widia tak tahu siapa yang menelponnya tak ingin berlama-lama widia langsung mengangkat panggilan tersebut.

__ADS_1


"Hallo ."


"Iyah hallo. Siapa ini?"


"Ini, saya irwan."


"Oh. Mas irwan, ada apa yah mas?"


"Hmm. Enggak pengen aja gitu nelpon kamu wi, emangnya gak boleh?"


"Enggak bukan maksud gitu mas, dan dari mana kamu tahu nomor handphone aku?"


"Rahasia."


"Dih.."


"Kamu lagi apa wi?"


"Aku lagi ngopi aja."


"Oh iyah."


"Wi, kamu nanti malam ada acara gak?"


"Enggak, emangnya kenapa mas."


"Aku mau ngajak kamu ke pesta."


"Pesta?"


"Iya, aku di undang ke pesta tapi gak punya pasangan jadi aku rencananya mau ngajak kamu wi. Apa kamu mau?"

__ADS_1


"Gimana yah, kayanya aku gak pantes deh buat ikut ke pesta itu mas."


"Kata siapa? saya ngajak kamu itu karena menurut saya kamu itu pantes buat ngedampingin saya di pesta."


"Tapi saya gak punya baju yang cocok."


"Gak papa soal baju biar saya aja yang urus."


"Tapi..."


"Gak ada tapi-tapian, oke. Nanti saya jemput kamu jam 7 malam."


"Baiklah."


"Kalau begitu aku tutup dulu yah."


"Hmmm, iyah mas."


"Ya udah, sampai ketemu nanti malam yah."


"Iyah mas."


"Assalamu'alaikum wi."


"Wa'alaikum salam mas irwan."


Tut..tut..tut..


Terlihat widia tengah tersenyum senang karena malam ini dia akan pergi bersama dengan irwan, pria baik hati dan lembut.


"Sebaiknya sekarang aku harus maskeran dulu, biar lebih kinclong."

__ADS_1


Lalu widia mengambil masker spirulina yang ada di laci kamarnya dan widia pun langsung memakai masker tersebut.


__ADS_2