Aku Bukan Nona Malam

Aku Bukan Nona Malam
Eps. 85


__ADS_3

Kini widia tengah berada di rumahnya sambil menunggu kepulangan angga. Karena ada sesuatu hal penting yang harus dia bicarakan dengan angga.


Tak beberapa lama, angga sudah pulang lalu di berjalan menuju ke arah widia


"Sayang." Panggilnya sambil memeluk widia dari belakang.


Tapi widia tak menjawab sapaan dari angga. "Ada apa denganmu?" Tanya angga sambil melihat ke arah widia.


"Tadi aku pergi ke rumah bundamu."


"Lalu?"


"Terus andi marah padaku."


"Marah! Kenapa dia bisa marah padamu?"


"Karena aku sedang mengandung, dia takut jika aku tak akan menyayanginya lagi."


"Namanya juga anak kecil."


"Kamu itu gak pernah ngertiin banget sih."


"Ngerti gimana sih, widia."


"Kamu tahu gak, kalau andi itu gak suka sama kamu angga malahan dia itu takut sama kamu." Ucap widia dengan penuh emosi.


Seketika angga langsung terkejut mendengar ucapan widia. "Bagaimana bisa dia tak menyukaiku dan kenapa dia bisa takut padaku. Aku kan ayahnya."

__ADS_1


"Dia tak suka padamu karena saat dia kecil kau tak ada di sisinya dan dia takut padamu karena kau tak pernah perhatian padanya."


"Aku selalu perhatian padanya, aku selalu memenuhi kebutuhannya."


"Dia anak kecil angga, bukan hanya uang yang dia butuhkan tapi kasih sayangmu sebagai ayah, dia juga membutuhkannya."


"Bagaimana aku mau memberikannya kasih sayang, dia saja tak mau tinggal dengan kita. Malah lebih memilih tinggal dengan bunda."


"Pokoknya aku gak mau tahu, kamu harus bujuk andi biar dia mau tinggal di sini, dan perbaiki hubungan kalian berdua. Kalian itu ayah dan anak tapi seperti orang asing. Dan lagi bujuk andi agar dia mau sekolah."


"Apa kau bilang? Andi belum sekolah. Ibu macam apa kau ini widia, kau tak menyekolahkan putraku."


"Bukan aku yang tak menyekolahkannya tapi dia yang tak mau sekolah."


"Bagaimana bisa dia tak mau sekolah?"


"Dia trauma."


"Dulu saat di kampung andi sudah sekolah tapi dia selalu di kucilkan dan di ejek kalau dia anak yang tak punya ayah." Ucap widia sambil berjalan pergi meninggalkan angga yang diam mematung.


Seketika angga langsung terdiam, dia tak menyangka jika putranya menanggung beban yang sangat besar untuk anak seusianya.


Lalu angga langsung mendudukkan bokongnya di atas sofa empuk yang ada di ruang keluarga. Dia memikirkan cara bagaimana agar hubungannya dengan andi bisa membaik.


Lalu angga teringat akan temannya yang sudah menikah, kemudian angga segera menelpon temannya tersebut.


Tut, tut, tut...

__ADS_1


"Hallo."


"iyah, hallo."


"Hey, angga. Ada apa kau menelponku bahkan aku tak ingat kapan terakhir kau menelponku."


"Itu karena aku tak pernah menelponmu."


"Hehehe, ada apa kau menelponku?"


"Kau kan seorang ayah."


"Lalu?"


"Aku ingin tahu, bagaimana caramu agar hubunganmu dan anakmu menjadi sangat dekat?"


"Hahaha, angga, angga. Kau itu sangat bodoh. memperbaiki hubungan antara ayah dan anak kau tak perlu bertanya padaku."


"Intinya kegiatana apa yang selalu kau lakukan dengan anakmu?"


"Hem, kalau aku selalu mengajaknya bermain, pokonya yang bisa membuat hatinya senang aku lakukan."


"Hanya itu?"


"Iyah, memangnya kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Tidak ada. Kalau begitu sudah dulu."

__ADS_1


Lalu angga langsung menutup panggilan tersebut, lalu pikirannya tengah melayang pada ucapan temannya tersebut. Jujur saja angga tak terlalu mengerti bagaimana menjadi seorang ayah. Karena saat kecil ayahnya selalu mengacuhkan dia bahkan tak pernah memanjakannya seperti anak lain pada umumnya. Karena sejak kecil angga di didik sangat keras oleh ayahnya itulah kenapa angga juga melakukan hal yang sama pada andi.


Angga mengira jika dia melakukan hal yang sama pada andi seperti yang di lakukan ayahnya pada dirinya, akan bisa membuat andi menjadi seorang pemimpin yang sukses sepertinya suatu saat nanti.


__ADS_2