Aku Bukan Nona Malam

Aku Bukan Nona Malam
Eps. 140


__ADS_3

Tok, tok, tok...


Terdengar suara ketukan di pintu rumah, lalu seseorang langsung membuka pintu tersebut.


"Kak Angga? Kok kakak ke sini lagi? Bukannya baru kemarin kakak ke sini?" Tanya Sonia.


"Ibunda mana?" Tanyanya.


"Di belakang lagi liat bunga." Ucap Sonia, lalu dia pun langsung berjalan ke taman belakang untuk melihat ibunda Lili.


"Ibunda." Panggilannya.


"Mau apa kamu kemari?" Tanya ibunda Lili dengan tatapan tak suka.


"Kenapa? Apa aku tak boleh menemui ibuku?" Tanyanya.


"Aku bukan ibumu." Jawab ibunda Lili.


"Tapi bagiku kau adalah ibuku." Ucapnya sambil memeluk ibunda Lili dari belakang.


"Kau bukan putraku mau pun suamiku." Ucap Ibunda Lili.


"Meski begitu wajahku dan Angga sangatlah mirip. Jadi apa bedanya aku dengan dia, dan aku juga bisa menggantikannya." Ucapnya.


"Dimana ayah dan ibumu?" Tanya Ibunda Lili.


"Ah, ayah dan ibuku itu. Mereka sudah mati." Ucapnya.

__ADS_1


Nampak Ibunda Lili hanya bisa diam saja, "Reza kenapa kau pulang ke Indonesia?" Tanya ibunda Lili.


"Jangan panggil aku Reza, aku benci nama itu. Aku lebih suka kau memanggilku dengan nama Anggi." Ucapnya lagi.


"Hentikan Reza, sudah cukup. Kau memang memiliki wajah yang sama dengan Angga, tapi kau bukan dia atau pun kembarannya. Dan aku juga bukan ibumu." Ucap ibu Lili.


"Bagiku kau adalah ibuku, ibuku satu-satunya." Ucap Anggi. Lalu dia pun langsung pergi meninggalkan ibunda Lili tapi sebelum itu dia mencium tangan ibunda Lili.


Sementara itu.


Nampak Angga tengah mengemudikan mobilnya.


Drett.. Drett.. Drett..


Handphone milik Angga bergetar lalu dia melihat nama yang tertera pada layar ponselnya, dan ternyata istri kesayangan.


"Hallo sayang."


"Aku lagi nyetir, mau pulang."


"Oh, ya udah. Hati-hati di jalannya. Aku tunggu kamu di rumah."


"Iya sayang."


Lalu panggilan pun terputus nampak angga masih melihat layar ponselnya. Dia tak melihat ke jalan, karena jalanan sedang sepi.


Dan tiba-tiba sebuah pohon tumbang menghalangi jalan, dan Angga pun langsung di buat kaget. Seketika dia langsung membanting stir ke arah kanan yang membuatnya menabrak sebuah parit pembatas jalan.

__ADS_1


"Argh..." Rintih Angga, sambil memegangi kepalanya, nampak tangannya mulai meraba-raba mencari keberadaan handphonenya.


Tapi Angga tak bisa menemukan keberadaan ponselnya, lalu tak beberapa lama berhenti sebuah mobil dan ada beberapa orang yang langsung membantu Angga keluar dari mobilnya.


"Terimakasih." Ucap Angga.


Bugg..


Sebuah kayu menghadap punggung Angga, lalu anggap pun langsung jatuh pingsan.


"Tidurlah sodaraku, karena sekarang giliran diriku yang akan muncul.


Sementara itu...


Nampak Widia tengah memasak makanan kesukaan Angga, karena hari ini adalah hari 6 bulannya kandungan milik Widia dan sebentar lagi dia dan Angga akan mendapatkan seorang anak lagi.


Terlihat juga simbok ikut membantu Widia, karena dia takut jika majikannya akan marah jika mengetahui istrinya memasak untuknya.


"Ibu biar saya saja." Ucap simbok.


"Enggak mbok, biar saya saja. Mbok duduk aja." Ucap Widia sambil melanjutkan acara memasaknya.


Karena Widia ingin jika semua masakan untuk Angga, semuanya adalah masakan miliknya.


Tak beberapa lama masakan pun sudah matang, kini Widia mulai menatap meja makan secantik mungkin. Dan simbok juga membantu menyimpan makanan di atas meja.


Lalu mata Widia melihat ke arah jam, "Harusnya Angga sudah pulang." Ucap Widia.

__ADS_1


Lalu Widia pun langsung mengambil handphone miliknya dan segera menelpon Angga, tapi nomor Angga tak aktip.


"Kok bisa yah, handphonenya gak aktip biasanya aktip terus." Pikir Widia, lalu Widia kembali mencoba menelpon nomor Angga tapi nomornya tetap tidak aktip.


__ADS_2