
Sudah 3 hari sejak widia di rawat dan kini kondisinya sudah mulai membaik, karena kondisi widia yang sudah membaik angga memutuskan untuk memindahkan widia ke rumahnya.
Di tempat lain...
Terlihat tasya tengah duduk di ruang keluarga sambil membaca sebuah majalah, dia terlihat senyum-senyum saat melihat beberapa foto yang ada di majalah tersebut.
Dan terlihat irwan hendak pergi dan sekilas dia melihat foto sampul majalah tersebut, seketika netralnya langsung membulat dan irwan langsung menghampiri tasya dan melihat majalah tersebut.
Tasya terlihat kaget saat irwan merampas majalah tersebut dari tangannya.
"Apaan sih mas, kok main rampas gitu aja."
Tapi irwan tak menjawab ucapan tasya, terlihat tangannya mengepal saat melihat foto widia dan angga yang tengah bermesraan.
Tanpa pikir panjang irwan langsung pergi meninggalkan tasya yang kebingungan melihat sikap irwan yang seperti itu karena biasanya irwan terkenal dengan orang yang lembut dan tak pernah marah sekali pun tapi sekarang dia marah tanpa sebab.
Skip.
Terlihat irwan memajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, dan dari wajahnya terlihat jelas ekspresi marah.
Mata irwan sesekali melirik majalah yang ada di sampingnya. Yah, irwan sangat marah mengatahui jika widia bersama dengan angga, irwan tak terima dengan apa yang dia lihat hari ini. Dan sekarang irwan berniat untuk pergi ke perusahaan angga memastikan semua ini.
Skip.
Kini irwan sudah berada di perusahaan angga, dengan langkah cepat irwan langsung pergi ke ruangan angga. Banyak orang yang melihat ke arahnya tapi irwan tak memperdulikan tatapan mereka karena yang terpenting sekarang adalah bertemu dengan angga.
Brakkk...
Terlihat irwan menendang pintu tersebut, dan angga nampak terkejut dengan kedatangan irwan.
"Apa kau bisa sopan sedikit saat bertamu pada perusahaan orang lain."
"Tak perlu sopan santun untuk bertemu dengan orang seperti mu."
Terlihat angga nampak tenang saat berhadapan dengan irwan, angga sudah menebak pasti kedatangan irwan kemari ada hubungannya dengan widia.
"Apa maumu." Tanya angga.
"Apa maksudnya ini." Ucap irwan sambil melemparkan majalah yang ada foto widia dan angga.
__ADS_1
Angga nampak langsung mengambil majalah yang ada di hadapannya, terlihat angga tersenyum mengejek.
"Apa yang perlu ku jelaskan." Ucap angga santai.
Dengan wajah marah irwan langsung mencengkram kerah baju angga.
"Apa hubunganmu dengan widia." Teriak irwan.
Dan angga hanya bisa tersenyum mengejek.
"Untuk apa kau mengurusi hubunganku dengan widia, lebih baik kau urusi saja istrimu itu." Ucap angga dengan senyum mengejek.
"Aku bilang apa hubunganmu dengan widia." Tanya irwan yang masih tetap mencengram kerah baju angga.
"Widia adalah ibu dari anakku." Ucap angga.
Mata irwan nampak membulat saat mendengar ucapan angga.
"Pembohong." Ucap irwan sambil meninju wajah angga.
Nampak angga langsung terpental ke belakang, dan terlihat sudut bibirnya berdarah akibat pukulan irwan.
Lalu dia langsung memukul irwan secara membabi buta, dan nampak irwan juga memukul angga. Mereka saling baku hantam satu sama lain.
Dan keributan di ruangan angga sepertinya terdengar oleh riko, secara sepontan riko langsung memanggil para pengawal untuk memisahkan angga dan irwan.
Nampak irwan tak terima saat dirinya di pisahkan dan angga terlihat mengusap sudut bibir dan hidungnya yang berdarah akibat pukulan irwan. Dan begitu juga dengan irwan terlihat ada beberapa luka di wajahnya.
"Pak irwan, sebaiknya anda jangan mencari keributan di perusahaan kami, karena itu melanggar hukum dan anda bisa di tuntun atas tindakan anda." Ucap riko tegas.
Terlihat irwan langsung menepis tangan para pengawal yang memeganginya dan dia langsung pergi begitu saja.
Terlihat riko menghawatikan keadaan tuannya.
"Tuan, mari kita pergi ke rumah sakit untuk mengobati lukamu."
"Tak usah, ambilkan saja kota P3K."
Lalu riko langsung menjalankan perintah angga, dengan bantuan riko, angga mengobati luka yang ada di mukanya.
__ADS_1
Skip.
Setelah mengobati lukanya, angga langsung pulang ke rumahnya yang ada di kawasan perumahan elit.
Saat dia membuka pintu, angga langsung di kejutkan dengan kehadiran bunda beserta adiknya.
"Kakak." Teriak sonia.
Angga tak membalas safaan adiknya.
"Bunda, lihat tuh kakak judes." Ucap sonia pada bundanya.
Ibunda angga yang melihat wajah anaknya penuh luka langsung khawatir.
"Kamu kenapa nak, kok wajah kamu bisa luka kaya gini." Tanya bunda angga.
"Aku gak papa kok bun." Jawab angga.
"Ya udah, kalau kamu gak mau cerita." Ucap bundanya.
"Kak, kata pelayan kakak bawa cewek sama anak kecil ke rumah ini." Tanya sonia.
"Bukan urusanmu." Ucap angga.
"Apa itu bener nak?" Tanya bundanya.
"Hmmm, yah bener bun." Jawab angga.
"Kok bisa kamu bawa wanita sama anak kecil kemari, terus anak itu anak siapa?" Tanya bundanya.
"Anak itu anak angga bun, terus wanita itu wanita yang udah ngandung anak angga bun." Jawab angga jujur.
Terlihat sonia dan bunda lili nampak terkejut.
"Terus mereka dimana?" Tanya bundanya.
"Ada di kamar." Jawab angga.
"Kalau begitu bunda mau lihat anak sama wanita itu."Ucap bunda angga sambil berjalan ke arah kamar tempat widia berada.
__ADS_1
Angga nampak ingin menghalangi bunda beserta adiknya, tapi dia tahu tabiat kedua wanita itu jika sudah ingin tahu tak ada yang bisa menghentikan mereka.