Aku Bukan Nona Malam

Aku Bukan Nona Malam
Eps. 147.


__ADS_3

"Dari hasil USG, anak bapak perempuan." Ucap Dokter tersebut.


Nampak Widia senang setengah mati, karena dia bisa mendapatkan anak perempuan. Dan begitu pun dengan Angga, meski dalam hatinya dia ingin jika anaknya itu laki-laki.


"Terimakasih yah dok." Ucap Angga.


"Sama-sama pak." Jawab dokter tersebut.


Setelah selesai melakukan USG, Angga pun langsung mengajak Widia untuk pulang ke rumah.


Di perjalanan pulang...


"Aku senang banget sayang, anak kita ini tuh perempuan. Jadi lengkap deh." Ucap Widia.


"Aku juga senang, Hem.. Apa kau sudah punya nama yang cocok untuk anak kita?" Tanya Angga.


"Belum, biar aku pikir-pikir dulu. Bagaimana kalau Nabila? Sifa? Syafira? Salsa?" Tanya Widia.


"Terserah kau saja sayang. Aku akan menuruti semua nama yang kau berikan pada anak kita nanti." Ucap Angga.


"Oke. Hem.. Sayang aku ingin soto Bandung." Ucap Widia.


"Siap ratuku." Ucap Angga. Lalu Angga langsung membuka aplikasi google maps untuk mencari tempat yang jualan soto Bandung.


Setelah mendapat alamatnya, Angga pun langsung mengemudikan mobilnya menuju ke arah yang dia tuju sekarang.


"Sotonya mau di bungkus atau di makan di sana?" Tanya Angga.


"Aku ingin di bungkus aja deh." Jawab widia.


"Baiklah, mau berapa porsi?" Tanya Angga.


"Hem, 4 porsi saja." Ucap Widia.


"Banyak banget, memangnya perutmu itu bakalan muat?" Tanya Angga sambil terkekeh.

__ADS_1


"Bukan untuk ku saja, untukmu, andi, aku dan juga simbok." Ucap Widia.


"Baiklah." Jawab Angga.


Kini mobil Angga sudah berhenti di depan tempat yang menjual soto Bandung, "Kamu tunggu di sini. Biar aku yang turun." Ucap Angga.


Lalu Angga pun turun dari dalam mobil, dan dia pun langsung pergi ke tempat makan yang menjual Soto Bandung.


Cukup lama Widia menunggu kedatangan Angga, dan tak beberap lama Angga pun sudah datang sambil membawa sekantong plastik yang berisi soto pesanan Widia.


"Maaf membuatmu menunggu lama." Ucap Angga meminta maaf.


"Gak papah kok." Jawab Widia.


Lalu Angga pun langsung melajukan mobilnya ke arah pulang, di sepanjang jalan Widia hanya melihat pemandangan jalan raya dan sesekali dia juga memegangi perutnya yang cukup besar.


"Aku gak sabar, buat ngelahirin dia." Ucap Widia sambil mengelus perutnya.


"Iya aku juga." Jawab Angga.


"Kamu kenapa menangis?" Tanya Angga khawatir.


"Enggak kok, aku cuman inget aja pas mengandung Andi dulu." Ucap Widia sambil menyeka air matanya.


"Maafkan aku." Ucap Angga.


"Maaf untuk apa?" Tanya Widia.


"Maaf karena dulu aku tak ada di samping mu." Ucap Angga. Dan Widia hanya tersenyum sambil sebagai jawaban.


Flashback on.


Seorang wanita tengah duduk di sebuah kursi yang terbuat dari kayu. Dia tengah melihat hamparan sawah yang indah, dan tangannya tak henti-hentinya mengelus perutnya yang sudah membesar.


"Wi." Panggil Bu Rahayu.

__ADS_1


"Iya Bu." Jawab Widia.


"Kandungan kamu udah waktunya lahiran ya wi." Ucap Bu Rahayu.


"Iya Bu, Widia udah gak sabar pengen ngelahirin anak Widia. Tapi Widia takut." Ucap Widia.


"Takut apa wi?" Tanya Bu Rahayu.


"Widia takut, pas ngelahirin itu sakit." Ucap Widia.


"Hehehe... Widia, Widia. Ngelahirin itu pasti sakit." Ucap Bu Rahayu.


Dan Widia hanya tersenyum sebagai jawaba, "Ibu ke sawah dulu yah wi." Ucap Bu Rahayu.


"Iya Bu." Ucap Widia.


Lalu bi Rahayu pun pergi ke sawah meninggalkan Widia sendiri di rumah, nampak Widia hanya diam sambil memegangi perutnya yang cukup besar itu.


Lalu tak beberapa lama datang beberapa ibu-ibu melewati rumah Widia.


"Sit... Itu anaknya Bu Rahayu yah. Perutnya udah gede, tapi gak tahu ayahnya siapa." Ucap salah satu dari ibu-ibu tersebut.


"Iya biasa, orang kota. Pergaulannya bebas, jadi hamil duluan." Jawab ibu yang lain.


Meski suaranya pelan Widia masih dapat mendengar ucapan dari ibu-ibu tersebut.


"Ibu-ibu itu, kalau ngegosip orang paling jago yah." Ucap Widia.


Nampak ibu-ibu tersebut mendengar ucapan Widia.


"Eh, siapa juga yang gosipin kamu." Balas salah satu ibu-ibu tersebut.


"Emang siapa yang bilang kalau ibu-ibu itu yang ngegosip?" Tanya Widia. Nampak ibu-ibu tersebut diam membisu.


"Perut kamu udah gede yah wi, siapa tuh bapaknya." Tanya salah satu dari ibu-ibu tersebut sambil tertawa.

__ADS_1


Dan Widia hanya diam, sambil menatap tak suka pada ibu-ibu yang tengah berada di depan rumahnya itu.


__ADS_2