Aku Bukan Nona Malam

Aku Bukan Nona Malam
Eps. 52


__ADS_3

Sudah 1 minggu sejak widia sadar, kini kondisi widia sudah membaik dan dia juga sudah kembali bekerja sebagai model di perusahaan angga.


Sebenarnya widia enggan untuk kembali menjadi model di perusahaan angga tapi apa boleh buat dia sudah terikat oleh kontrak dan lagi angga pun sudah meminta maaf atas apa yang terjadi.


Drettt.. Drettt.. Drettt


Handphone widia bergetar dan saat dia melihat nama yang tertulis di layar ponselnya widia langsung mengangkatnya.


"Hallo mbak, ada apa?"


"Hallo wi, ini loh ada orang yang mau ketemu sama kamu."


"Siapa mbak?"


"Direktur perusahaan subrojo, katanya dia pengen nawarin kamu iklan produknya gitu wi."


"Emang pengen ketemunya dimana?"


"Di restoran X, jam 14:00."


"Ya udah mbak, aku bakal nemuin direktur itu."


"Ya udah mbak tutup dulu yah."


Lalu widia langsung menutup panggilan dari mbak lala, kemudian widia melihat arlojinya dan ternyata sudah pukul 13:35.


"Aduh kenapa sih ngedadak gini."


Karena pekerjaan di perusahaan angga sudah beres widia langsung berangkat menuju tempat yang di janjikan.


Sebenarnya widia tak tahu siapa direktur yang mbak lala katakan dan bahkan widia lupa menanyakan siapa namanya.


Skip.


Kini widia sudah berada di depan restoran tersebut, dan saat dia melihat arlojinya ternyata sudah pukul dua siang pas.


Kemudian widia berjalan masuk, SEPI cuman satu kata untuk suasana restoran ini dan terlihat ada seorang pria berjas duduk di pojok ruangan sambil melihat keluar jendela.


"Mungkin itu orangnya." Lalu widia mendekati pria itu.


"Permisi, apa anda direktur dari perusahaan subrojo." Tanya widia ramah.


Terlihat pria itu mengangguk, dan menyuruh widia duduk, widia langsung menuruti ucapan pria itu. Dia tak bisa melihat jelas wajah pria itu karena terhalang oleh kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya.


Tapi entah kenapa ada perasaan familiar saat bertemu dengan pria di hadapannya.


"Widia."


Seketika netral widia langsung membulat saat mendengar suara pria tersebut, nampak widia memandang pria itu dengan tatapan penasaran. Lalu pri itu membuka kacamata hitamnya dan widia di buat kaget saat melihat wajah pria itu.

__ADS_1


"Mas irwan." Seketika widia ingin segera pergi tapi irwan menahannya.


"Kau tak bisa lari lagi widia, kau harus menjelaskan semuanya."


Terlihat irwan menatanya dengan tatapan yang sangat dingin, entah kenapa ada perasaan sakit di hati widia saat irwan menatapnya dengan tatapan seperti itu.


"Baiklah aku jelaskan."


Lalu widia menjelaskan semuanya secara detail, nampak irwan menatap sendu pada widia.


"Dan begitulah kenapa aku pergi mas, hiks, hiks, hiks." Ucap widia tak kuasa menahan tangis.


Lalu irwan berjalan mendekati widia dan menghapus air matanya.


"Kenapa kau tak jujur padaku wi."


"A..ku.. takut membuatmu kecewa mas."


"Aku tak akan kecewa wi, aku pasti bersedia menjadi ayah dari anak yang kau kandung itu wi, meski dia bukan darah dagingku sekali pun."


Terlihat widia menatap irwan, ingin rasanya widia memeluk orang yang sekarang di hadapannya itu.


Tanpa mereka sadari tak jauh dari sana tasya nampak melihat suaminya tengah bersama dengan wanita lain. Lalu tasya menelpon irwan.


Tring, tring, tring..


Terdengar handphone irwan berbunyi dan saat dia melihat nama yang tertera di layar ponselnya, irwan langsung merijek panggila tersebut.


Lalu sebuah pesan masuk ke handphone tasya, lalu tasya membuka pesan tersebut dan ternyata pesan dari irwan.


"Aku lagi rapat, nanti aku telpon balik."


Terlihat tasya tersenyum pahit, sambil menghapus air matanya lalu tasya langsung pergi meninggalkan tempat tersebut dia tak kuasa lagi jika harus melihat suaminya tengah bersama dengan perempuan lain.


Terlihat irwan membelai pipi widia, dan nampak widia hanya tersenyum pada irwan. Widia tak tahu jika irwan sudah memiliki istri.


"Mas aku harus pulang dulu."


"Kalau begitu biar ku antar."


"Tidak usah aku bisa sendiri."


"Hmm, kalau begitu biar ku bantu kau mencari taksi."


"Terimakasih."


Lalu irwan membantu widia mencari taksi, setelah mendapat taksi widia langsung pergi meninggalkan irwan yang terus tersenyum kepadanya.


Kemudian irwan langsung bergegas pulang ke rumah, saking bahagiannya karena dia bisa kembali bertemu dengan widia sampai irwan melupakan tentang tasya

__ADS_1


Skip.


Kini irwan sudah sampai di rumahnya, dan dia langsug pergi ke kamar. Dan di kamar ada tasya menunggunya.


"Baru pulang mas." Tanya tasya.


"Iyah." Jawab irwan sambil terus tersenyum.


"Kok kamu kaya yang bahagia gitu, ada apa mas." Tanya tasya.


"Gak ada apa-apa, yah mungkin suasana hatiku lagi senang aja." Jawab irwan.


"Iyalah pasti senang, kan baru ketemu lagi sama pacar kesayang kamu itu." Ucap tasya.


Terlihat irwan langsung melihat ke arah tasya.


"Apaan sih kamu tuh, gak ngerti aku." Ucap irwan.


"Aku juga bukan wanita bodoh mas." Jawab tasya.


"Terserah kamu aja tas, mas lagi gak mau berantem." Ucap irwan males.


"Aku tahu kalau mas tadi bukan rapat tapi mas tadi lagi ketemu sama wanita j*lang itu, Siapa namanya? Oh iyah Widia si wanita j*lang." Ucap tasya dengan penuh emosi.


"Jaga ucapakan kamu yah tasya, widia itu wanita baik-baik jadi kamu gak berhak nyebut dia kaya gitu." Ucap irwan sambil menunjuk tasya dengan jarinya.


"Jika dia wanita baik-baik dia gak bakalan masuk ke hubungan kita mas, dia gak mungkin rebut kamu yang jelas-jelas kamu itu udah punya istri." Ucap tasya dengan penuh emosi.


"Cukup tasya, sudah ku ingatkan berapa kali, aku tak pernah mencintaimu, aku bahkan tak pernah menginginkan pernikahan ini."


Terlihat tasya menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dia tak kuasa menahan tangis saat mendengar bahwa suaminya sendiri tak menginginkan dirinya.


"La..lu kenapa kamu setuju untuk menikahiku mas." Ucap tasya.


"Aku tak bisa membantah ucapan kakekku, jadi aku menerima perjodohan itu." Jawab irwan.


Tak ingin melihat tasya menangis, irwan lebih memilih pergi meninggalkan tasya sendirian.


Terlihat tasya menangis, dan dia membanting-bantingkan semua barang yang ada di dalam kamarnya.


"Aku benci kamu wanit j*lang, aku benci. Gara-garamu rumah tanggaku hancur." Teriak tasya.


Terlihat beberapa pelayan mengetuk pintu kamar tasya tapi tasya malah memarahi mereka.


"Pergi kalian jangan ganggu aku. Aku benci kalian semua aku benci." Teriak tasya.


Terlihat paman dan bibi irwan mendatangi tasya dan mengetuk pintu kamarnya beberapa kali.


"Tasya buka pintu nak, ini bibi." Ucap bibi irwan.

__ADS_1


"Iyah tasya, buka pintunya nak. Kita bisa bicarakan ini dulu baik-baik." Bujuk sang paman.


"Paman dan bibi lebih baik pergi, tasya gak mau di ganggu saat ini." Ucap tasya sambil terus menangis.


__ADS_2