
Terlihat widia tengah berfose dengan produk yang di keluarkan oleh perusahaan angga, dan hasilnya sangat bagus.
Dan tak beberapa lama sesi pemotretan pun selesai, kini widia tengah beristirahat. Menurutnya pemotretan yang sekarang cukup melelahkan karena dia harus terus tersenyum di depan kamera.
Saat widia tengah beristirahat datang riko menghampirinya.
"Widia."
"Ah, iyah. Ada apa?"
"Ada 1 sesi pemotretan lagi. Kau segera bersiap-siap."
"Baiklah."
Lalu widia segera bersiap-siap untuk sesi pemotretan yang terakhir.
Skip.
Setelah selesai widia langsung keluar dari ruang make up, dan di lihatnya para kru nampak sedang menunggu seseorang.
"Apa apa ini." Tanya widia pada salah satu kru.
"Model prianya belum datang dan pak riko nampak sedang kesal." Jawabnya.
Nampak widia hanya mengangguk tanda mengerti.
"Kemana model prianya, cepet hubungi dia." Teriak riko.
"Sudah pak, tapi handphonenya tak dapat di hubungi." Jawab salah satu kru.
__ADS_1
Terlihat riko tengah emosi akibat ulah model pria tersebut.
Lalu tak beberapa lama datang angga ke studio foto.
"Ada apa ini." Tanya angga dengan raut wajah marah.
Riko yang kaget dengan kedatangan angga langsung di buat salah tingkah.
"Anu tuan, model pria untuk sampul majalah kita dia tak dapat di hubungi." Jawab riko.
Nampak angga melihat semua orang yang ada di studio foto tersebut, dengan aura dingin miliknya angga mampu membuat semua orang itu takut saat melihatnya.
"Jangan pakai lagi model pria itu, dan kalian cukup mencari penggantinya saja." Ucap angga.
"Tapi kami tak punya penggantinya tuan." Ucap riko.
"Baiklah kita lanjutkan pemotretannya, biar aku yang turun tangan." Ucap angga.
"Maksudnya tuan." Tanya riko tak mengerti.
"Biar aku yang menjadi model prianya." Jawab angga.
Semua orang yang ada di studio foto tercengang saat mendengar ucapan angga, begitu juga dengan widia.
"Widia, ayo kita mulai pemotretannya." Ucap riko.
Lalu widia berjalan menuju tempat pemotretan dan di sanah angga sudah siap sedia dengan posisinya.
"Jadi di sesi ini kalian harus berfoto layaknya sepasang kekasih. Dan juga harus terlihat romantis." Jelas riko.
__ADS_1
Dan widia hanya mengangguk saat mendengar penjelasan dari riko.
"Baiklah kita mulai sekarang." Teriak riko.
Widia terlihat bingung harus berfose seperti apa, karena ini pertama kalinya dia berfose dengan seorang pria.
"Widia kau jangan kaku dong." Teriak riko.
Lalu angga menarik pinggang widia agar duduk di pangkuannya, dan di mendekatkan wajahnya di leher widia.
"Bagus." Ucap riko.
Terlihat wajah widia memerah akibat hembusan nafas angga pada lehernya, sementara angga hanya diam sambil menikmati leher widia.
Dan kemudian mereka berganti gaya, kini angga memeluk tubuh widia dari belakang, dan saat mereka tengah berfose seperti itu.
"Bersikaplah profesional." Bisik angga pada telinga widia.
Geram jika dirinya di sebut tak profesional, maka widia tak peduli lagi dengan rasa canggungnya. Kini bagiannya yang terlihat menggoda angga dengan fose-fose yang hampir membuat angga ingin menerkam widia. Di sepanjang pemotretan widia nampak melakukannya dengan sempurna begitu juga dengan angga.
Dan fose terakhir, yang membuat jantung widia berdetak kencang saat widia duduk di pangkuan angga, kemudian mereka saling berhadapan dan kedua hidung widia dan angga saling bersentuhan, terlihat senyuman manis angga yang membuat widia tercengang setengah mati.
"Sudah selesai." Ucap riko.
Tapi angga belum melepaskan pelukannya pada pinggang ramping widia.
"Pak angga pemotretannya sudah selesai, sebaiknya kau bersikap profesional." Ucap widia membalikkan kata-kata angga yang menyebut dirinya tak profesional.
Mendengar ucapan widia, angga langsung melepaskan pelukannya pada pinggang widia. Dengan senyum mengejek widia langsung meninggalkan angga yang masih berdiam diri di tempat pemotretan.
__ADS_1