
Sudah 1 minggu sejak pertengkaran antara tasya dan irwan, kini hubungan mereka semakin merenggang di tambah irwan yang sudah jarang pulang ke rumah membuat tasya semakin depresi dan kesal.
Di tempat lain...
Di sebuat caffe terlihat widia tengah meminum minuman kesukaannya, sambil sesekali melirik jam tangannya. Dia terlihat seperti sedang menunggu seseorang.
Dan tak beberapa lama orang yang di tunggu akhirnya datang juga.
"Udah nunggu lama wi?"
"Gak kok mas,"
Lalu irwan pun duduk di depan widia, terlihat dia terus memandang widia dan widia nampak risih saat irwan terus menatap dirinya.
"Ada apa mas ngajak aku ketemu?" Ucap widia memulai pembicaraan.
"Emangnya tak boleh gitu?"
"Enggak, cuman heran aja kok kamu ngajak ketemu biasanya juga gak pernah."
"Aku kangen aja sama kamu wi." Sambil memegang kedua tangan widia, terlihat widia membulatkan matanya dan langsung melepaskan genggaman tangan irwan pada tangannya.
"Mas harusnya jaga sikap sedikit." Ucap widia.
Terlihat irwan hanya tersenyum sambil terus menatap wajah widia, tanpa mereka sadari jika tasya tengah melihat mereka dengan raut wajah marah tanpa basa basi tasya langsung berjalan menuju ke arah irwan dan widia.
Byurrr...
Widia dia buat kanget dengan seseorang yang menyiram minuman ke atas kepalanya.
Brakk..
Dengan marah widia langsung menggebrak meja dan memaki wanita yang telah menyiramnya tanpa sebab.
"Apa maksudmu!" Teriak widia.
"Apa maksudku, kau memang pantas mendapatkan itu dasar PELAKOR."
"Jaga ucapanmu nona." Tunjuk widia.
"Tapi itu memang kenyataannya."
"Kenyataan apa bahkan aku tak mengenalmu bagaimana bisa aku merebut pasanganmu."
"Terus pria yang tengah bersamamu itu siapa? Dia suamiku."
Terlihat widia di buat kaget dengan ucapan wanita tersebut, lalu widia langsung menatap irwan dengan tatapan kesal.
Irwan yang melihat widia di permalukan oleh tasya langsung menarik tasya pergi keluar dari caffe tersebut.
__ADS_1
"Apaan sih mas, sakit." Ucap tasya sambil berusaha melepakan tangannya.
"Kau telah membuatku malu."
Terlihat tasya semakin geram saat irwan berbicara seperti itu. Dengan sekuat tenaga tasya melepaskan tangannya dari cengkraman irwan.
"Aku membuatmu malu mas? Apakah salah jika aku marah melihat suamiku jalan dengan wanita lain." Ucap tasya tak kuasa menahan air matanya.
Irwan tak menjawab ucapan tasya, dan terlihat banyak pengunjung caffe yang sedang melihat pertengkarang mereka.
"Jawab aku mas."
"Hentikan tasya, aku sedang tak mau berdebat. Kau membuatku malu."
Terlihat tasya semakin marah, lalu mata tasya melirik sebuah vas bunga yang ada di meja kasir. Kemudian tasya mengambil vas bunga tersebut dan langsung berlari menuju widia.
"Ini semua gara-gara kamu dasar pelakor." Teriak tasya sambil memukul kepala widia dengan vas bunga tersebut.
Terlihat widia memegangi kepalanya yang mengeluarkan darah, lalu irwan langsung mendorong tasya sehingga dia terjatuh ke lantai.
"Apa yang kau lakukan tasya, apa kau gila." Bentak irwan.
Terlihat tubuh tasya bergetar.
Tak ingin memperdulikan tasya, irwan mencoba membantu widia berdiri.
"Wi, aku.."
"Lepas jangan sentuh aku." Ucap widia sambil berusaha berdiri.
"Wi biar aku.."
"Aku tak butuh bantuanmu."
Terlihat widia berjalan hendak keluar dari caffe tersebut sambil terus memegangi kepalanya. Seketika matanya berkunang-kunang dia tak sanggup lagi berdiri dan widia langsung jatuh pingsan tapi widia tak jatuh ke lantai melainkan jatuh ke pelukan pria yang langsung menahan tubuhnya agar tak jatuh ke lantai.
Irwan yang melihat pria itu langsung menatap tak suka.
"Ini peringatan terakhir untukmu irwan agar kau menjauhi widia." Ucap angga sambil membawa widia pergi dari tempat tersebut.
Terlihat irwan hanya mematung sambil terus melihat tubuh widia yang di bopong oleh angga, nampak tangannya mengepal lalu dia langsung pergi tanpa memperdulikan keberadaan tasya.
Di lain tempat...
Terlihat angga membawa tubuh widia ke rumah sakit, dan widia langsung di tangani oleh dokter.
Kini angga tengah menunggu widia yang sedang di obati.
Krett...
__ADS_1
Terdengar suara pintu terbuka dan angga langsung melihat siapa yang keluar dari ruangan tersebut.
"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya angga.
"Lukanya tak terlalu parah dan sekarang pasien juga sudah sadar."
"Bolehkah saya melihatnya?"
"Tentu."
Lalu angga langsung memasuki ruangan tempat widia berada, dan di sana sudah ada widia yang tengah duduk di atas ranjang.
"Bagaimana apa sudah mendingan?"
"Lumayan."
"Kenapa kau tak melawan?"
Widia nampak tak menjawab pertanyaan angga.
"Kenapa kau tak memberitahuku jika mas irwan sudah menikah!"
"Aku nanya kok balik nanya."
"Jawab aja kenapa?"
"Hmmm, aku hanya ingin agar kau tahu sendiri."
Widia nampak diam saat mendengar ucapan angga, terlihat air matanya mengalir dan widia langsung buru-buru menghapusnya dengan kasar.
"Kenapa kau menangis?"
"Bukan urusanmu."
"Cih, selemah itukah dirimu widia sampai kau menangisi hal yang tak seharusnya kau tangisi."
"Kau..."
"Apa."
"Kau bisa mengejekku seperti itu karena kau belum pernah merasakan bagaimana berada di posisiku."
Terlihat angga hanya diam sambil menatap mata widia dalam-dalam.
"Hmmm, ayo kita pulang." Ajak angga.
Lalu angga membantu widia berjalan meninggalkan ruangan tempatnya di obati dan berjalan menuju mobil angga yang berada di parkiran rumah sakit.
Mohon maaf yah author baru bisa up sekarang, karena kemarin-kemarin author sakit jadi gak sempet buat up. 🙏🙏🙏
__ADS_1