
Terlihat andi langsung membulatkan matanya saat melihat ibunya sedang di tindih oleh seorang pria.
"Ibu." Teriak andi.
Lalu dia berlari menuju widia dan langsung memukul-mukul angga.
"Beraninya kau menyakiti ibuku."
Angga yang keheranan karena ada bocah yang menyebut widia sebagai ibunya, lalu angga memegangi kepala andi alhasil tak bisa lagi memukul-mukul angga.
"Lepaskan putraku." Ucap widia sambil mengambil andi.
"Putra? Bagaimana bisa kau punya anak." Tanya angga.
"Itu bukan urusanmu." Jawab widia.
Lalu angga dan andi saling menatap satu sama lain, seketika angga di buat tercengang saat melihat wajah andi yang mirip dengannya.
"Aku butuh penjelasanmu widia."
"Penjelasan apa?"
"Bagaimana bisa anak itu mirip denganku."
"Mungkin saat aku hamil, aku sangat membencimu jadi anakku mirip denganmu."
Terlihat angga sedikit berpikir, kemudian dia teringat akan ucapan dari adiknya.
Sementara angga sedang berpikir nampak widia mengobrol dengan andi.
"Andi kenapa kamu bisa ada di sini."
"Tadi ada yang menelpon ke rumah terus bilang kalau ibu kecelakaan, lalu andi kemari deh."
Widia nampak tersenyum sambil membelai rambut putranya.
__ADS_1
"Widia." Teriak angga.
"Apa lagi."
"Jelaskan."
"Apa yang harus aku jelaskan."
"Baiklah kau tak perlu menjelaskan cukup jawab saja pertanyaanku! Apakah anak itu anakku."
Seketika widia nampak terkejut, tak menyangka jika angga akan menyadarinya.
"Jika iyah memangnya kenapa?"
"Kau... Beraninya melahirkan anakku tanpa meminta izin dariku." Bentak angga.
Terlihat andi langsung bersembunyi di balik kaki ibunya.
"Kenapa harus meminta izin darimu, itu hak ku untuk melahirkannya atau tidak."
"Hah? kau bilang mahal. Jika stetes air hina mu itu mahal kenapa kau suka mengeluarkanya di lubang-lubang p*lacur yang kau sewa untuk memuaskan nafsumu. Dan yah keperawananku lebih mahal dari air hinamu itu, dan kau mengambilnya tanpa meminta izin terlebih dahulu kepadaku. Jadi siapa yang salah?" Ucap widia dengan sangat penuh emosi.
"Kau...." Ucap angga sambil menunjuk wajah widia.
"Apa?" Bentak widia tak kalah garang.
Terlihat angga mengerang frustasi.
"Karena kau sudah melahirkan anakku, maka dia harus ikut denganku pulang." Ucap angga mencoba menarik andi.
Tapi widia langsung menghalangi niat angga.
"Tak boleh, dia putraku dan aku ibunya. Kau tak punya hak untuk merampasnya dariku."
"Tapi aku ayahnya, dan dia terlahir dari benihku."
__ADS_1
"Meski dia terlahir dari benihmu tapi dia keluar dari rahimku dan tanpa rahimku benihmu yang mahal itu tak ada gunanya."
"Kau... Meski kau punya rahim tapi jika aku tak membuahinya apa kau akan hamil. Hah? Atau kau akan pakai mentimun untuk membuat anak."
Terlihat widia membulatkan matanya saat mendengar ucapan angga.
"Kau..." Teriak widia.
"Apa." Jawab angga tak kalah garang.
Tak ingin lagi berdebat dengan angga, widia langsung menarik tangan andi dan membawanya meninggalkan perusahaan ini.
"Kau mau kemana." Teriak angga.
"Aku mau pergi. Dan aku mengundurkan diri."
"Kau tak bisa mengundurkan diri, ingat kontrak yang telah kau tanda tangani."
Mendengar kata kontrak widia langsunv melihat angga dengan mata berapi-rapi.
"Persetan dengan kontrak aku tak peduli." Teriak widia.
Angga nampak kesal dengan sikap widia. Lalu angga langsung memanggil para mengawalnya untuk menangkap widia dan andi.
"Lepaskan aku." Teriak widia memberintak.
"Bawa putraku ke dalam mobil dan antarkan dia ke rumahku. Aku harus memberi dulu pelajaran untuk wanita yang berani menghina air suciku."
Lalu para pengawal tersebut membawa andi berserta bi susi ke kediamannya, karena bi susi adalah mengasuh andi jadi angga memutuskan sekalian membawa bi susi.
Dan di dalam ruangan angga, nampak angga mengikat kedua tangan widia di atas sofa.
"Apa yang kau lakukan, lepaskan aku." Teriak widia.
"Setelah kau menghina milikku yang berharga apa kau kira aku akan melepaskanmu dengan mudah. Akan ku buat kau meronta-ronta memohon di puaskan olehku." Ucap angga dengan penuh senyum licik.
__ADS_1
Lalu angga mengambil segelas air yang sudah di beri obat perangsang, dan dia berjalan ke arah widia. Kemudian angga memaksa widia untuk meminum minuman tersebut, setelah widia meminum minuman itu. Angga langsung duduk bersila di atas kursi kebesarannya sambil menunggu widia memohon-mohon padanya.