
Kini widia tengah tertidur lelap di atas ranjangnya, tubuhnya terasa berat lalu dia menyingkirkan tangan angga yang tengah melingkar di pinggang ramping miliknya tapi tangan angga kembali memeluk pinggang milik widia.
Lalu widia membalikkan tubuhnya dan sedikit mengangkat kepalanya di dekatkannya kepala angga pada dada milik widia dan di belai kepala angga.
"Bangun sayang." Bisik widia sambil terus membelai rambut angga.
"Hmmm, benda kenyal apa ini." Ujar angga sambil terus membenamkan kepalanya di dada widia.
"Dasar." widia terus membelai rambut angga. Sementara angga terus membenamkan wajahnya pada dada milik widia dan sesekali menggesek-gesek wajahnya.
"Udah angga hentikan."
"Kenapa?"
"Geli tahu."
"Tak apa, aku suka saat melihatmu kegelian dalam kenikmatan."
"Udah ngelantur ngomongnya, cepetan bangun. Udah siang, kamu kan harus ke kantor."
"Gak ah males."
"Ya udah, kalau gak mau kerja. Aku mau mandi dulu."
"Gak boleh, aku masih mau kaya gini."
"Kebiasaan masih kaya anak kecil."
"Itulah pria widia, seorang pria akan menjadi akan seperti bayi dalam 2 waktu pertama saat dia masih balita kedua saat dia sudah dewasa dan sudah mengenal apa itu urusan ranjang."
"Dasar otak mesum." Ujar widia seraya memukul angga dengan bantal tapi angga langsung melempar bantal tersebut dan memeluk widia.
"Tapi bukannya kau sangat suka dan sangat menikmati saat aku menjadi seorang bayi."
Sektika wajah widia memerah.
"Aku gak suka dan gak menikmati." Elak widia.
__ADS_1
"Tapi tubuh dan mulutmu berkata lain saat aku menjadi bayi."
"Gak aku gak kaya yang kamu sebutin tadi."
"Tapi seingatku kau selalu bersemangat dan aku selalu kewalahan saat kau sedang bernafsu." Bisik angga tepat di telinga widia.
"Gak aku gak kaya gitu."
"Apa kau ingat widia?"
"Ingat apa?"
"Saat kau selalu mengeluarkan suara yang membuatku terlena dan apa yang selalu kau katakan kau selalu berbicara seperti ini. Ah angga terus, ah angga lebih cepat aku gak tahan. Ah angga isap terus." Ucap angga sambil memperagakan.
"Dasar otak mesum." Teriak widia sambil menjauh dari angga di pugutnya bantal yang tadi angga lempar dan di lemparkan langsung ke wajah angga. Dan widia langsung masuk ke kamar mandi.
Terlihat angga tengah menahan tawa, rasanya sangat senang menggoda widia di pagi hari yang cerah seperti ini.
Skip.
Kini widia sudah keluar dari dalam kamar mandi, lengkap dengan pakaian santai yang tadi dia bawa sebelum masuk ke dalam kamar mandi. Di lihatnya ranjang sudah kosong dan tak tercium bau keberadaan angga.
Lalu widia berjalan ke dapur, di lihatnya jika pembantunya tidak ada. Mungkin dia sedang ke pasar, pikir widia. Lalu widia langsung mengambil 2 butir telur, 2 buah sosis, 1 buah baso dan sepering nasi putih tak lupa widia juga mencincang halus bawang merah.
Lalu widia langsung memulai memasak nasi goreng karena saat ini makanan itu yang widia inginkan. Saat widia tengah memasak dari belakang tubuhnya melingkar tangan besar yang memeluknya dari belakang.
"Angga?!"
"Apa widia."
"Kok kamu gak ke kantor?"
"Tadikan aku sudah bilang aku gak mau ke kantor, aku mau terus bersamamu." Bisik angga sambil terus memeluk pinggang ramping widia.
"Lepasin angga, aku lagi masak."
"Gak mau."
__ADS_1
Lalu terpaksa widia memasak dengan angga yang terus memeluk tubuhnya, sedikit sudah untuk ke sana ke sini tapi angga tetap tak mau melepaskan pelukannya.
Tak beberapa lama makanan yang widia masak sudah matang lalu dia langsung membawa makanannya ke meja makan. Dan angga langsung duduk tepat di samping widia.
Saat widia akan memasukkan satu suappan ke dalam mulutnya angga langsung mengarahkan tangan widia ke mulutnya.
"Dasar.."
"Uhh, cukup enak."
"Udah pergi sanah." Usir widia.
Lalu angga langsung pergi terlihat widia tersenyum sambil menahan tawa, bukannya pergi angga malah datang kembali sambil membawa sendok. Lalu angga menarik piring berisi nasi goreng milik widia.
"Hey, apaan ini?! Ini milikku angga."
"Milik kita!"
Dengan terpaksa widia harus berbagi makanannya dengan angga, sesekali angga menyupai widia dan begitu juga dengan widia dia harus menyuapi angga yang sesekali merengek minta di suapin.
Skip.
Kini makanan sudah habis, terlihat widia tengah minum air putih sementara angga hendak pergi.
"Mau kemana?"
"Ke kamar."
"Jangan dulu pergi."
"Ada apa lagi widia."
"Kau harus cuci piring."
"Cuci piring? Kau tahu aku siapa? Aku Ceo yang terkenal di dunia bisnis."
"Di luaran sana kau memang Ceo yang terkenal tapi di sini kau suamiku dan suamiku harus menuruti semua perintahku. Apa kau paham?!"
__ADS_1
Angga sedikit bergidik ngeri melihat widia yang marah-marah padanya lalu dengan terpaksa angga menuruti perintah widia.
Kini anga tengah mencuci piring dan beberapa perabotan yang kotor sementara widia menjadi seorang mandor yang melihat pekerjaan angga.