Aku Bukan Nona Malam

Aku Bukan Nona Malam
Eps. 135


__ADS_3

Kini widia, angga, Andi dan Kila sudah berada di rumah sakit mereka tengah menunggu hasil laporan tes DNA tersebut.


"Pak Angga." Ucap suster.


Lalu Angga dan Widia masuk ke ruangan dokter, sementara Andi dan Kila menunggu di ruang tunggu.


Di dalam ruangan dokter.


"Dari hasil tes DNA bisa di pastikan jika pak Angga dan Kila bukanlah ayah dan anak." Ucap dokter tersebut.


Bagaikan di timpa uang segunung, Angga sangat senang bukan main. Sementara widia hanya bisa terdiam sambil mengerutkan halisnya.


"Apakah tes ini sudah benar?" Tanya Widia.


"Tentu." Jawab dokter tersebut.


"Kenapa dengan mu sayang, kau harusnya senang." Ucap Angga.


"Bukan seperti itu, tapi anak itu dan Angga nampak mirip jadi bagaimana mungkin jika mereka bukan ayah dan anak tapi memiliki kemiripan." Ucap Widia.

__ADS_1


"Kemiripan itu sesuatu hal yang wajar Bu Widia, kadang mungkin saat hatimu sudah berpegang teguh pada pendapatmu tentang suatu hal, meski hal itu salah pun pasti kau anggap benar. Begitu pun juga dalam hal ini." Ucap dokter tersebut.


"Terimakasih dok." Ucap Angga, lalu Angga melihat kertas hasil tes DNA.


Setelah itu, Widia dan Angga langsung keluar dari ruangan dokter tersebut, nampak Andi dan Kila sudah menunggu kedatangan Widia dan juga Angga.


"Ayo kita pulang." Ajak Angga. Lalu Andi dan Kila langsung mengikuti langkah Angga dan begitu juga dengan Widia.


Di sepanjang jalan...


Widia hanya bisa melamun memikirkan tes DNA yang tadi, sebenarnya dia senang karena Kila bukanlah anak Angga tapi kalau seperti itu Kila harus pergi dari rumah mereka.


Lalu dia melihat ke arah Kila, dan menyamakan wajahnya dengan Andi dan juga Angga. Memang tidak terlalu mirip, "Apa mungkin saat itu hanya imajinasi saja karena terlalu terbawa emosi." Pikir Widia.


Kini mobil milik Angga sudah berhenti di depan rumahnya, dan mereka pun langsung ke luar dari dalam mobil dan segera masuk ke dalam rumah.


"Sayang, ayo. Ada yang ingin aku bicarakan." Ucap Angga sambil menarik tangan Widia menuju ke kamar milik mereka.


Di dalam kamar..

__ADS_1


"Aku sudah membuktikan jika dia bukanlah anakku, dan sekarang kau percayakan." Ucap Angga.


"Iya aku percaya." Jawab Widia.


"Dan karena dia bukan anakku, maka dia harus pergi dari rumah ini." Ucap Angga.


Dan Widia langsung melihat ke arah angga, dengan tatapan bertanya-tanya. "Apa kau gila. Dia masih anak-anak, Angga. Apa kau tega membiarkan Kila menjadi gelandangan di luar sana. Lagi pula dia sudah tak memiliki siapa-siapa lagi." Ucap Widia.


"Lantas apa peduliku jika dia menjadi gelandangan sekali pun, aku tak peduli sama sekali." Ucap Angga.


"Dia anak kecil Angga, aku tahu ibunya bersalah karena telah membohongi kita. Tapi Dewi pasti punya alasan tertentu, dan kita tak boleh melampiaskan emosi kita pada Kila, dia hanyalah anak kecil yang tak tahu apa-apa." Ucap Widia.


"Di sini aku kepala rumah tangga, dan aku berhak menentukan siapa saja yang boleh tinggal dan keluar dari rumah ini." Ucap Angga pada Widia.


"Iya aku tahu kau kepala rumah tangga di sini, tapi kau tak punya hati." Ucap Widia sambil mata berkaca-kaca.


"Hentikan muka memelasmu itu Widia, aku tak akan merubah pemikiran ku." Ucap Angga.


"Aku tak meminta mu mengubah pemikiran mu tapi aku ingin kau berpikir menggunakan hatimu, bagaimana jika Andi berada di posisi Kila apakah kau sebagai orang tua tak sedih melihat anak yang kita sayang menjadi gelandangan." Ucap Widia.

__ADS_1


Dan Angga hanya memandang Widia dengan pandangan tak mengerti, Angga tak mengerti dengan pola pikir Widia. Wanita lain pasti akan langsung mengusir anak yang bukan berasal dari keluarganya tapi Widia malah mempertahankannya mati-matian.


__ADS_2