
Kini widia tengah membereskan pakaian milik andi ke dalam koper kecil, karena hari ini andi akan kembali pulang ke rumahnya dan angga.
Terlihat sonia berdiri di ujung pintu sambil melihat widia yang tengah membereskan baju-baju milik andi.
"Kak." Panggil sonia.
"Ada apa?" Tanya widia.
"Kakak mau bawa andi?" Tanyanya.
"Iyah, kakak gak mau buat kalian repot karena harus ngurus andi."
"Tapi andi gak ngerepotin kok, malahan aku dan bunda senang kalau andi ada di sini."
"Hem, aku ngerti apa maksud kamu. Tapi alangkah baiknyakan kalau andi dengan angga tinggal serumah agar hubungan mereka menjadi lebih baik. Dan kalau kamu kangen sama andi, kamu bisa kok datang ke rumah kami. Pintu rumah kami selalu terbuka buat kamu dan bunda." Jelas widia.
"Makasih kak, kalau gitu aku bantuin yah."
Lalu widia kembali membereskan pakaian milik andi di bantu oleh sonia.
Tak beberapa lama widia sudah selesai membereskan barang-barang milik andi, terlihat andi tengah bermain game bersama dengan angga.
"Seru banget nih, kayaknya." Ucap widia, tapi tak ada satu pun dari mereka berdua yang menjawab ucapan widia.
"Ah, ayah. Di sana ada musuh." Teriak andi.
"Dimana?" Tanya angga sambil terus memfokuskan matanya.
"Di arah 30." Ucap andi.
"Maksudnya apa? Arah 30 apa, ayah gak ngerti." Ucap angga.
Dor, dor, dor...
Terdengar suara tembak-menembak.
"Ah, mati deh." Ucap andi lalu matanya langsung melihat ke arah angga. "Ayah noob." Ucap andi.
__ADS_1
"Kata siapa?" Ucap angga tak terima dirinya di katai noob.
"Itu buktinya, ada musuh bukannya tembak malah diam." Ucap andi.
Angga tak bisa menjawab ucapan andi, karena yang dia katakan ada benarnya.
"Apa yang sedang kalian mainkan?" Tanya widia.
"Game free fire, bu." Ucap andi.
"Oh." Ucap widia.
"Semua udah siap?" Tanya angga.
"Udah." Jawab widia.
"Ya udah, kalau udah beres lebih baik kita pulang sekarang aja." Ajak angga.
"Ya udah, sonia kami pamit dulu yah. Salam sama bunda yah." Ucap widia pada sonia.
Lalu sonia mengantar kepulangan widia, angga dan andi sampai pintu keluar.
Kini mereka bertiga sudah ada di dalam mobil, lalu sonia melambaikan tangannya dan widia membalas lambaian tangan tersebut. Kemudian angga langsung mengemudikan mobilnya keluar dari pekarangan rumah ibundanya.
Di dalam mobil tak ada obrolan antara mereka bertiga.
"Khem." Terdengar deheman angga.
"Apa?" Tanya widia.
"Tak ada." Jawab angga.
Lalu tak ada lagi obrolan lagi antara mereka bertiga.
Tak beberapa lama mobil angga sudah sampai di rumahnya, lalu andi langsung keluar dari dalam mobil dan berjalan ke dalam rumah.
Sementara angga langsung membuka bagasi mobilnya untuk mengambil koper milik andi.
__ADS_1
Lalu widia langsung mengajak andi untuk pergi ke kamarnya yang sudah di siapkan. Dan di ikuti oleh angga dari belakang sambil membawa koper milik andi.
"Ini kamarmu." Ucap widia sambil membuka pintu kamar milik andi. Terlihat andi takjud dengan dekorasi kamar miliknya. "Apa kau suka dengan dekorasinya, hem. Ayah dan ibu yang mendekorasinya."
"Andi suka bu. Makasih ibu, ayah." Ucap andi.
"Sama-sama." Jawab widia sambil mengelus rambut milik andi.
"Kalau begitu kamu istirahat dulu, ibu mau masak dulu yah." Ucap widia.
Dan andi segera berjalan ke arah ranjangnya, dan begitu juga dengan angga dia langsung menyimpan koper milik andi di dalam kamarnya.
Di dapur...
Terlihat widia hendak memasak tapi angga langsung melarangnya.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya angga.
"Aku mau masak." Jawab widia.
"Kau tak boleh memasak, aku tak mau kau merasa lelah." Ucap angga.
"Aku tak akan merasa lelah. Ini hanyalah memasak lagi pula bukan pekerjaan yang berat." Ucap widia.
"Ku bilang tidak, ya tidak." Ucap angga mutlak.
Dan widia hanya memutar bola matanya bosan. Penyakit posesif angga sudah mulai kambuh lagi.
"Bi!!!" Panggil angga.
"Iyah, tuan." Jawabnya.
"Tolong masak makan malam." Suruh angga.
"Baik tuan."
Lalu angga mengajak widia untuk pergi ke kamar untuk istirahat.
__ADS_1