Aku Bukan Nona Malam

Aku Bukan Nona Malam
Eps. 118


__ADS_3

Keesokan harinya, nampak semua orang tengah sarapan. Terlihat Widia melirik Angga dan juga Andi karena mereka nampak sangat mengantuk.


"Ada apa dengan kalian?" Tanya Widia.


"Tak ada apa-apa kok Bu." Jawab Andi.


Hidung mancung Widia mulai mencium kebohongan di antara Angga dan juga Andi.


"Apa kalaian bergadang?" Tanya Widia.


"Enggak kok." Jawab angga dan Andi serempak.


Dan Widia mulai menatap mereka dengan tatapan mengintimidasi, lalu dengan cepat Angga dan Andi langsung menghabiskan sarapannya.


"Aku sudah selesai." Ucap Angga.


"Aku juga." Ucap Andi.


"Kalau begitu aku berangkat kerja dulu sayang." Ucap Angga sambil mencium kening Widia.


"Andi juga berangkat sekolah dulu Bu." Ucap Andi sambil mencium tangan Widia.


"Iya, hati-hati di jalan sayang." Ucap Widia pada mereka berdua, lalu Angga langsung masuk ke dalam mobilnya. Sementara Andi dia pergi ke sekolah di antar oleh supir pribadi khusus untuknya.


Sementara Widia hanya menatap heran pada ayah dan anak itu, karena biasanya mereka tak seperti tadi pagi.


"Pasti ada yang di sembunyikan oleh mereka, aku harus cari tahu." Ucap Widia, karena merasa ada yang di sembunyikan jiwa detektif Widia mulai meronta-ronta dan dia ingin segera membongkar rahasia Angga dan juga Andi.


Di lain tempat...


Kini Andi sudah sampai di sekolah nya, dan tak beberapa lama bell pun berbunyi. Pelajaran pun sudah di mulai.


Nampak Andi duduk sambil berusaha menahan rasa kantuk, dia tak kuasa untuk membuka mata lalu dia langsung mengambil buku, lalu buku itu dia buat seolah-olah dirinya tengah membaca tapi sebenarnya Andi tengah tertidur.


Sementara itu...


Kini Angga pun sudah berada di kantor, dengan kantung mata yang menghitam. Dirinya langsung masuk ke ruangannya, lalu dia menyimpan tas kerjanya di atas meja. Sementara dirinya langsung menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.


Tok, tok, tok..

__ADS_1


Saat Angga hendak menutup mata, terdengar suara ketukan di pintu, "Masuk." Jawab Angga dengan nada kesal.


"Tuan, sekarang anda ada rapat penting dengan klien kita." Ucap Riko.


Dan Angga lupa jika dirinya hari ini memiliki rapat penting, "Apa tak bisa kau wakili saja aku." Ucap Angga.


"Tak bisa tuan." Jawab Riko.


Dengan wajah kusam dan kantung mata yang menghitam Angga terpaksa menghadiri rapat tersebut.


Di sepanjang rapat nampak Angga tak terlalu Mendengar penjelasan dari para kliennya itu, sesekali dia hampir tertidur dan bangun lagi dan begitu seterusnya sampai rapat selesai.


Dan karena kecerobohan Angga membuat rapat tersebut menjadi tak sesuai keinginan, dan terpaksa rapat pun harus di undur.


Sementara itu di sekolah Andi...


Nampak Andi tengah nyaman dalam tidurnya tanpa dia sadari jika gurunya sudah berdiri tempat di sampingnya.


"Andi." Ucap gurunya sambil mengebrak meja. Dan hal itu langsung membuat Andi terbangun dari tidurnya.


"Ah, iya Bu ada apa?" Tanya Andi dengan wajah khas orang yang baru bangun tidur.


Sekolah tempat Andi belajar memang terkenal dengan ketegasan guru-gurunya, para guru tak memandang status muridnya jika muridnya bersalah dia patut di beri hukuman meski anak itu anak jendral atau pun pimpinan perusahaan sekali pun.


"Hahahaha..." Terdengar tawa teman-teman sekelas Andi karena menertawakan Andi yang tidur di kelas.


Kini Andi berjalan ke depan kelas dan berdiri, lalu dia juga di suruh untuk menulis di buku besar 'Saya berjanji tak akan lagi tidur di kelas'.


Sementar itu di kediaman Angga.


Nampak Widia tengah melihat majalah sambil menikmati secangkir teh.


Drett.. Drett.. Drett..


Saat dirinya tengah bersantai handphonenya tiba-tiba berbunyi, lalu dia melihat nama siapa yang tertera di layar ponselnya.


"Gurunya Andi, ada apa dia menelpon." Gumam Widia.


Lalu Widia langsung mengangkat panggilan tersebut.

__ADS_1


"Assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam."


"Ini dengan ibu Widia, orang tuanya Andi."


"Iya betul, ada apa yah."


"Ini Andi, dia tadi tidur di saat jam pelajaran sudah di mulai, dan saya harap bu Widia bisa memperhatikan jam tidur Andi agar dia tak tidur terlalu malam."


"Ah, iya. Baiklah. Terimakasih atas informasinya."


"Sama-sama."


Setelah itu panggilan pu langsung terputus nampak Widia mulai menampilkan wajah emosinya.


Drett... Drett.. Drett..


Saat dirinya tengah marah, telponnya pun kembali berbunyi. Lalu Widia langsung melihat siapa yang kembali menelponnya. Dan Ternyata yang menelponnya adalah Riko, lalu Widia langsung mengangkat panggilan tersebut.


"Hallo nyonya."


"Ada apa Riko?"


"*Anu... Tadi tuan.."


"Tadi apa? Ada apa ini bicara yang benar."


"Tadi tuan ketiduran di saat rapat penting, dan para klien sangat marah mereka juga hampir membatalkan kontrak kerjasama dengan perusahaan kita. Tapi untungnya saya. membujuk mereka agar tak membatalkan kerja sama dengan perusahaan kita*."


"Bagaimana bisa Angga tertidur di saa seperti itu, lalu kemana dia sekarang."


"Tuan sedang tertidur di ruangannya nyonya."


"Baiklah, aku berterima kasih karena kau telah membujuk para klient."


"Sama-sama nyonya."


Lalu panggilan pun di matikan, nampak kening Widia sudah memunculkan urat-urat kemarahan, dia sudah tak sabar memberikan pelajaran pada ayah dan anak yang sungguh sangat kompak.

__ADS_1


__ADS_2