Aku Bukan Nona Malam

Aku Bukan Nona Malam
Eps. 46


__ADS_3

Keesokan harinya.


widia tengah bersiap untuk pergi ke studio karena sekarang ada jadwal pemotretan dan tak lupa sebelum berangkat kerja widia menyempatkan waktu untuk bersama andi.


Skip.


Kini widia sudah berada di studio foto, dan di sana juga sudah ada beberapa model wanita yang lain. Widia nampak biasa saja dan sesekali tersenyum pada yang lain.


"Oke kita siap-siap, bentar lagi pemotretan akan di mulai." Teriak salah seorang kru.


Kini widia di pasangkan dengan talita, model berwajah cantik namun jutek. Dan terlihat talita nampak tak suka saat dia di pasangkan dengan widia.


Dan kini giliran talita dan widia, seperti dugaan widia nampak sempurna tapi tidak untuk talita dia terus di marahi karena ekspresi dan gayanya nampak kaku.


Skip.


Setelah pemotretan selesai nampak widia tengah berada di meja riasnya sambil memainkan handphonenya. Dan dari kejauhan datang talita dengan es jeruk di tangannya.


Byurrr...


Es jeruk itu langsung di siram ke wajah widia, dan widia nampak sangat terkejut dengan kelakuan talita.


"Apa maksudmu." Bentak widia.


"Apa maksudku! Kamu itu yah model baru juga udah belaga." Teriak talita.


"Belaga apaan sih? Aku gak ngerti." Jawab widia.


"Gak ngerti kamu bilang! gara-gara kamu aku jadi di marahin terus." Bentak talita.


"Kamu yang di marahin kok jadi nyalahin aku sih."


"Iyah jelas itu semua salah kamu." Bentak talita lalu dia langsung menjambak rambut widia dan mendorongnya sehingga kepala widia membentur cermin.


"Aww.." Rigis widia sambil memegangi kepalanya, dan di lihatnya tangan yang memengangi kepalanya berdarah.

__ADS_1


Pandangan widia seketika menjadi gelap dan terdengar teriakan orang-orang kepadanya.


Skip.


Terlihat kini widia membuka mata secara perlahan, sambil memegangi kepalanya yang sakit dia mengedarkan pandangannya pada setiap juru ruangan tempatnya berada.


"Dimana ini." Ucap widia sambil mencoba bangun.


"Kau berada di ruanganku." Jawab seseorang.


Lalu widia menoleh ke sumber suara tersebut.


"Angga." Ucap widia.


Dan angga hanya tersenyum sambil terus melihat ke arah widia.


"Bagaimana aku bisa berada di sini." Tanya widia.


"Aku tak perlu menjelaskan karena kau pasti mengingat kejadian terakhir bukan." Jawab angga.


Tok, tok, tok...


Terdengar suara ketukan di pintu ruangan angga.


"Masuk." Jawab angga.


Dan terlihat riko bersama talita yang tengah menunduk.


"Jadi kau wanita yang telah membuat kerusuhan di studioku?" Tanya angga.


"Saya tak bermaksud seperti itu." Jawab talita.


"Lantas apa alasanmu sehingga melakukan perbuatan tak terpuji seperti tadi." Tanya angga.


"Saya tak suka, karena dia hanya model baru di perusahaan ini dan dia mencoba menyayingi saya." Jawab talita.

__ADS_1


"Karena dia hanya model baru dan kau takut tersaingi?" Tanya angga.


Dan talita hanya mengangguk.


"Itulah bisnis, tak peduli jika kau sudah lama berada di dunia bisnis tapi jika kau tak punya kemampuan maka kau akan tersingkirkan." Jawab angga.


Dan terlihat talita hanya diam membisu.


"Bawa dia keluar dari ruanganku, dan jangan sampai dia menginjakkan kaki lagi perusahaanku." Ucap angga.


Talita yang mendengar ucapan angga langsung memohon ampun, dia tak ingin jika harus berhenti bekerja. Tapi semua permintaan maaf darinya tak berpengaruh untuk angga, dan kini suara teriakan talita sudah tak terdengar lagi.


"Khemm..." Dehem widia.


"Apa apa?"


"Saya ucapkan terimakasih untuk pak angga, dan saya mohon undur diri."


"Kau tak boleh pergi."


"Kenapa?"


"Apa kau kira ucapan terimakasih bisa membayar semuanya."


"Lalu apa mau mu."


Dengan senyuman mesum angga terus menatap tubuh widia.


"Aku sangat merindukan rasa tubuhmu widia." Lalu angga mendekatkan dirinya pada widia.


"Menjauhlah dariku dasar pria gila." Teriak widia sambil mendorong tubuh angga.


Tapi tenaga widia tak sanggup mengalahkan tenaga angga yang sangat kuat, tanpa menyia-nyiakan waktu angga langsung menindih widia di atas sofa yang ada di ruangannya.


Brakk...

__ADS_1


Seketika pintu ruangan angga terbuka, dan terlihat widia membulatkan matanya saat melihat orang yang ada di ujung pintu ruangan angga.


__ADS_2