Aku Bukan Nona Malam

Aku Bukan Nona Malam
Eps. 148


__ADS_3

"Mau anak saya bapaknya siapa juga bukan urusan ibu-ibu semua yah, urusin aja tuh kehidupan ibu-ibu, hidup belum bener aja so-soan ngurusin hidup orang." Ucap Widia.


"Eh, wi. Wanita lagi bunting tuh. Omongannya harus di jaga." Ucap salah satu dari ibu-ibu tersebut.


"Sebelum ibu-ibu nyuruh saya jaga omongan, harusnya ibu-ibu ngaca dong. Omongan ibu-ibu udah di jaga belum." Ucap widia.


Tak ingin berdebat lagi, ibu-ibu tersebut langsung pergi meninggalkan Widia.


Nampak Widia mulai merasakan sakit di perutnya, "Aww..." Rintih Widia sambil memegangi perutnya.


Dan tak beberapa lama datang Bu Rahayu, "Widia kamu kenapa?" Tanya Bu Rahayu khawatir.


"Gak tahu Bu, perut aku sakit. Mungkin mau lahiran." Ucap Widia.


Lalu Bu Rahayu langsung membantu Widia untuk berjalan ke dalam rumah, setelag itu Bu Rahayu langsung memanggil dukun beranak untuk membantu persalinan Widia.


"Tarik napas neng... Terus hejenkeun (Terus dorong)." Ucap dukun beranak tersebut.


"Arrggg..." Nampak Widia mulai mengeluarkan semua tenaganya untuk mengeluarkan bayi yang ada di dalam perutnya.


Terlihat air mata menetes dari ujung mata Widia, sakit. Itu yang di rasakan oleh Widia, rasa sakit saat melahirkan anaknya tak sebanding dengan rasa sakit saat semua orang menghina dan juga terus menanyakan siapa ayah anaknya itu.


Lalu tak beberap lama terdengar suara tangisan bayi.


"Alhamdulillah, neng. Orok na pamenget (Alhamdulilah, neng. Anaknya laki-laki)." Ucap dukun beranak tersebut.


Tak lupa setelah anaknya lahir, Uwa Widia langsung mengadzani anak Widia yang baru lahir itu.


Terlihat Widia bahagia saat melihat anaknya, setelah anaknya di adzani dan di bersihkan. Widia langsung memeluk putranya dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang.

__ADS_1


Anak yang dulu tak ingin dia lahirkan, anak yang dulu hendak di aborsi. Sekarang dia adalah cahaya dan kebahagiaan baru untuk Widia.


Flashback off.


Terlihat air mata Widia kembali mengalir, dan Angga pun dengan sigap langsung menghapus air mata istrinya itu.


"Hem,, maafkan aku." Ucap Widia lalu dia pun kembali menyeka air matanya dengan kasar.


"Harusnya aku yang meminta maaf karena aku yang membuatmu menangis." Ucap Angga.


"Enggak, lagi pula itu masa lalu." Ucap Widia.


Dan Angga pun langsung tersenyum sambil membelai rambut halus milik Widia, dan setelah itu Angga kembali melajukan mobilnya yang tadi dia hentikan karena melihat Widia menangis.


Tak beberapa lama, kini mobil milik Angga sudah berhenti di depan rumah besar miliknya.


Dengan sigap Angga langsung membukakan pintu mobil untuk Widia, dan langsung membantu Widia turun dari dalam mobil.


"Iya tuan." Jawab simbok.


"Di dalam mobil ada bungkusan soto, tolong bawakan ke dapur." Suruh Angga.


"Baik tuan." Lalu simbok pun langsung menjalankan perintah yang di berikan oleh Angga.


Sementara Angga membantu Widia untuk berjalan ke dapur.


"Hem, sayang." Panggil Widia.


"Apa ratuku." Jawab Angga.

__ADS_1


"Sebentar lagi kan aku mau lahiran." Ucap Widia.


"Terus?" Tanya Angga.


"Bolehkan, ibuku datang ke sini. Karena aku ingin saat aku melahirkan ibuku juga datang." Ucap Widia.


"Tentu, sekarang aku akan menyuruh bawahannya untuk menjemput mertuaku." Ucap Angga.


"Terimakasih sayang." Ucap Widia sambil mencium pipi kanan Angga. Dan Angga sangat bahagia saat Widia bisa tersenyum bahagia.


"Tuan, ini sotonya sudah saya pindahkan ke mangkuk." Ucap Simbok.


"Makasih yah mbok, oh. Iya, yang satu lagi buat mbok yah." Ucap Widia.


"Makasih nyonya." Ucap simbok, lalu simbok langsung mengambil satu mangkuk soto dan membawanya ke belakang.


"Ibu..." Panggil Andi.


"Ah, Andi sayang." Ucap Widia.


"Gimana Bu hasilnya, adik Andi laki-laki atau perempuan?" Tanya Andi.


"Hem.. Kamu maunya adik kamu laki-laki atau perempuan?" Tanya Widia.


"Andi pengennya laki-laki, biar ganteng dan kuat sama seperti Andi dan juga ayah." Ucap Andi.


"Hehehe.. Uh, tapi adik kamu perempuan sayang." Ucap Widia.


"Yah..." Ucap Andi kecewa.

__ADS_1


"Tapi perempuan gak buruk kok sayang, nanti kamu bisa jaga adik kamu dengan baik, dan anak perempuan itu pasti imut." Ucap Widia.


Dan Andi hanya tersenyum kecut, karena mendengar kata imut membuatnya ragu. Karena Andi sudah melihat contoh anak wanita yang sangat jelek untuknya.


__ADS_2