Aku Bukan Nona Malam

Aku Bukan Nona Malam
Eps. 128


__ADS_3

Widia hanya bisa diam, dia bingung harus mengatakan apa. Lalu dia langsung mengambil handphone miliknya dan langsung menelpon Angga.


Kini Widia dan wanita itu hanya duduk diam sambil menunggu kedatangan Angga.


"Aku lupa menanyakan namamu? Siapa namamu?" Tanya Widia.


"Saya Dewi dan ini anak saya kila." Jawabnya.


Dan Widia kembali terdiam, dia sudah tak sabar ingin menanyakan semua masalah ini pada Angga.


Lalu tak beberapa lama orang yang di tunggu sudah tiba.


"Maaf membuatmu menunggu lama." Ucap Angga sambil berjalan menghampiri Widia. Tapi Widia terlihat hanya mengacuhkan dirinya.


Lalu mata Angga melihat seorang wanita yang tengah duduk di sofa.


"Siapa dia?" Tanya Angga pada Widia. Lalu Widia langsung melihat ke arah Angga.


"Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu? Siapa dia?" Ucap Widia dengan nada tinggi.


"Apa maksudmu? Aku tak mengerti." Tanya Angga.


"Kau lihat anak itu." Ucap Widia sambil menunjukkan jarinya pada seorang anak yang sedang tertidur.


"Lantas?" Tanya Angga.


"Anak itu anakmu." Ucap Widia.


"Jangan bercanda Widia, aku hanya memiliki 2 anak yaitu Andi dan satu lagi yang ada di perutmu." Jelas Angga.


"Tapi ini kenyataan dia anakmu saat kau masih suka menyumbangkan benih-benih mu itu pada setiap wanita." Jelas Widia.

__ADS_1


"Ah, tapi tak mungkin. Karena seingatku aku selalu bermain aman." Jelas Angga.


Mendengar hal itu Widia langsung naik darah. "Dasar kau pria tak tahu malu." Ucap Widia sambil memukul-mukul Angga. Tapi Angga langsung mencengangkan pergelangan Widia.


"Hentikan Widia, darimana kau tahu jika anak itu anakku?" Tanya Angga.


"Dia, wanita itu pernah menghabiskan malam denganmu." Ucap Widia.


Lalu mata Angga langsung menatap sinis ke arah Dewi. "Apa kau tahu konsekuensinya jika berani mengaku-ngaku kau hamil anakku." Ucap angga.


"Saya tak berbohong, saya berani bersumpah. Mungkin pak Angga tak akan ingat karena saat itu anda mabuk. Tapi saya ke sini bukan untuk meminta pertanggung jawaban." Ucap Dewi.


"Lantas apa maumu? Kau ingin uang? Kau butuh berapa sebutkan saja nominalnya." Ucap Angga.


"Saya tak butuh uang. saya hanya ingin pak Angga dan nyonya Widia bersedia mengurus Kila putri saya." Ucapnya memohon.


"Kau kira aku dan istriku ini tempat penampungan anak. Ini tulis nominal uangnya, dan setelah itu kau harus pergi dan jangan muncul lagi di hadapanku dan juga istriku." Ucap Angga sambil melempar sebuah cek da bolpoin.


Nampak Angga sudah kesal dengan tingkah wanita itu, tapi berbeda dengan Widia. Dia nampak sangat iba.


"Hari sudah malam, soal mengurus putrimu. Aku akan memikirkannya terlebih dahulu." Ucap Widia.


"Tapi sayang..." Ucap Angga.


"Diam." Jawab Widia dengan tatapan marah pada Angga. "Aku akan memberikan perhitungan padamu." Bisik Widia. Nampak Angga bisa pasrah.


Lalu Widia langsung memanggil simbok untuk mengantarkan dewi dan juga Kila pergi ke kamar tamu untuk istirahat.


Di dalam kamar...


Nampak Widia tengah melihat Angga dengan tatapan mengintimidasi.

__ADS_1


"Mau berapa banyak lagi?" Tanya Widia.


"Apa lagi sayang." Tanya Angga.


"Iya kamu mau berapa banyak lagi menyembur-nyemburkan benih berharga mu itu ke setiap wanita." Ucap Widia.


"Kenapa kau terus memojokkan ku." Tanya Angga.


"Aku tak memojokkan mu aku hanya bertanya. Sekarang jawab dengan jujur, apa kau tahu siapa wanita yang tadi?" Tanya Widia.


"Aku tak kenal." Jawab Angga.


"Jawab yang jujur." Ucap Widia.


"Sungguh aku tak kenal, kau tahukan aku dulu selalu menghabiskan malam dengan setiap wanita yang berbeda. Jadi mana aku ingat, tapi dulu aku pernah mabuk di sebuah hotel lalu aku melakukan dengan seorang wanita, dan saat paginya wanita itu sudah tak ada, dan saat itu aku lupa tak memakai pengaman." Jelas Angga.


Dan ucapan Angga sama persis dengan yang wanita itu katakan, Widia nampak hanya bisa menangis. Di satu sisi dia sangat kesal dan juga marah tapi di sisi lain dia juga seorang ibu dia tak tega melihat anak kecil itu tak memiliki seorang ayah.


Angga yang melihat Widia menangis langsung memeluk Widia. "Maafkan aku." Bisik Angga.


Sementara itu..


Di kamar tamu. Nampak Dewi dan kila duduk di sebuah kasur besar dan embuk.


"Ibu, kenapa kica kecini?" Tanya Kila.


"Hmm, kamu harus jadi anak baik-baik sayang. Dan kamu nanti harus nurut sama yang punya rumah ini nanti." Ucapnya dengan nada rendah.


"Iya ibu." Jawab Kila polos.


Lalu Dewi langsung memeluk Kila sambil menangis, dia tak ingin berpisah dengan putrinya secepat ini tapi penyakitnya sudah sangat parah dan dengan terpaksa Dewi langsung mencari Angga untuk bisa mengurus putrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2