Aku Bukan Nona Malam

Aku Bukan Nona Malam
Eps. 129


__ADS_3

Widia hanya bisa menangis, dia sangat dilema dengan kejadian yang menimpanya dan Angga berusaha menjelaskan semuanya pada Widia.


"Widia dengarkan aku." Ucap Angga.


"Apa?" Tanya Widia sambil melihat ke arah wajah Angga.


"Aku tahu aku salah, tapi kejadian itu sudah berlalu bertahun-tahun. Dan kau tahu aku dulu seperti apa, dan itu aku masih suka bergonta-ganti wanita. Tapi itu dulu Widia, bukan sekarang." Ucap Angga menjelaskan.


"Tapi lihat sekarang, wanita itu datang sambil membawa anakmu. Wanita mana yang tak sakit jika mengetahui suaminya memiliki anak dengan wanita lain." Ucap Widia dengan nada yang cukup tinggi.


"Aku tahu aku salah. Tapi tolong kau jangan marah, saat itu aku masih berengsek wi. Tapi, saat aku menikah denganmu aku sudah berubah aku bukan Angga yang dulu lagi, bukan Angga yang suka bergonta-ganti wanita lagi. Karena sekarang hanya cukup kau saja." Ucap Angga berusaha menenangkan Widia.


"Pembohong." Ucap Widia.


"Argh... Aku harus bagaimana lagi berusaha menjelaskan padamu wi." Tanya Angga frustasi.


"Coba kau ada di posisiku. Jika kau tahu aku memiliki anak dengan pria lain, bagaimana perasaan mu." Tanya Widia.


"Ya jelas aku marah." Jawab Angga.


"Itu kau tahu, dan sekarang kau dengan gampangnya menyuruhku untuk tak marah. Kau egois." Ucap Widia.


Dan Angga hanya bisa mengerang frustasi karena dia bingung harus menjelaskan bagaimana lagi, lalu Widia langsung mendorong tubuh Angga.


"Kenapa kau mendorong ku?" Tanya Angga.

__ADS_1


"Kau tidur di lantai, aku tak ingin tidur di samping suami yang suka menyumbang-nyumbangkan benihnya ke setiap rahim wanita." Ucap Widia sambil langsung menutup tubuhnya dengan selimut.


Dan Angga hanya bisa menuruti ucapan Widia, dia tak ingin membuat Widia semakin marah. Karena sekarang Angga sudah menjadi golongan suami takut istri jadi dia akan menuruti semua ucapan Widia.


Pagi harinya...


Nampak Widia, Dewi dan juga Angga sudah berada di ruang tamu untuk membicarakan tentang masalah yang kini mereka hadapi.


"Aku ingin melakukan tes DNA." Ucap Angga.


"Untuk apa?" Tanya Dewi.


"Tentu untuk membuktikan jika dia anakku atau bukan. Karena aku masih tak percaya jika dia anakku." Jawab Angga.


Karena Widia memiliki jika keibuan yang sangat kuat, perlahan hatinya luluh melihat wajah imut Kila, dan sekilas wajahnya sangat mirip dengan putranya Andi.


"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu." Jawab Widia.


"Tentu, tanyakan saja nyonya." Ucap Dewi.


"Apa maksudmu dengan perkataan mu yang tentang hidupmu tak lama lagi?" Tanya Widia.


"Soal itu, saya menderita leukemia." Ucapnya dengan nada sedih.


"Leukiamia?" Tanya Widia sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dan Dewi hanya tersenyum sambil mengangguk kepalanya.

__ADS_1


"Kami bisa memberimu pengobatan untuk mengobati penyakit mu." Ucap Angga. Dan Dewi hanya menggelengkan kepalanya.


"Saya tak perlu di obati, lagi pula saya sudah sadar jika umur saya sudah tak panjang lagi. Dan di saat seperti ini saya ingin melihat senyum bahagia putri saya, hanya itu." Ucapnya sambil meneteskan air mata.


Secara perlahan Widia ikut meneteskan air mata, pantas saja jika Dewi nampak sangat pucat dari orang pada umumnya.


"Saya mohon, tolong rawat putri saya." Ucap Dewi kembali memohon.


Dan Widia hanya bisa diam, dia sangat dilema, antara harus bilang iya atau tidak. Sementara Angga hanya diam dia tak mempu menjawab ucapan Dewi karena baginya semua keputusan ada di tangan Widia.


Tak beberapa lama nampak hidung Dewi mulai mimisan, lalu dia langsung mengelap darah yang keluar dari hidungnya.


Seketika kepalanya mulai pusing, dan penglihatan mulai gelap, Widia yang melihat Dewi pingsan langsung panik.


"Angkat dia Angga, ayo bawa ke rumah sakit." Ucap Widia panik.


Lalu Angga langsung mengendong tubuh Dewi dan membawanya ke dalam mobil. Kila yang melihat ibunya di bawa ke dalam mobil langsung berlari ke arah ibunya.


"Ibu..." Teriak Kila.


Lalu Kila langsung melihat kondisi ibunya,


"Ibu cenapa?" Tanya Kila sambil menangis.


Dan Widia hanya bisa diam, lalu dia langsung memeluk tubuh Kila untuk menenangkannya. Lalu Angga langsung melajukan mobilnya ke rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2