Aku Bukan Nona Malam

Aku Bukan Nona Malam
Eps. 90


__ADS_3

Terlihat widia tengah menyuapi andi. Dan faizal menatap penasaran anak kecil yang berada di samping widia.


"Anak kecil itu siapa kak?" Tanya faizal.


"Ini putraku. Namanya andi." Ucap widia.


"Putra? Sejak kapan dan bagaimana bisa?" Tanya faizal tak percaya.


"Hem, sudah lumayan lama dan sekarang aku sedang hamil lagi." Ucap widia.


"Hamil? Bagaimana bisa?" Tanya faizal.


"Kau tanya bagaimana bisa, yah. Jelas bisalah kan kak widia sudah menikah." Jawab sonia.


"Heh! Aku tak bertanya padamu. Nona, jadi kau jangan ikut bicara." Ucap faizal.


"Cih.." Balas sonia.


"Sejak kapan kak kau menikah? Kenapa kau malah menikah dengan pria lain. Aku sudah janji pada diriku sendiri akan menikahimu." Ucap faizal.


"Hahaha... Faizal, faizal. Kamu itu masih kecil, udah mikirin soal pernikahan. Dan lagi yah, aku itu udah tua, udah tante-tante. Kan gak pantes tante-tante kaya aku sama brondong kaya kamu. Kamu itu cocoknya sama sonia." Ucap widia sambil melirik sonia.


"Sonia? Siapa sonia?" Tanya faizal.


"Itu, wanita yang ada di sampingmu." Ucap widia.


Lalu mata faizal menatap sonia.


"Idih. Gak salah kakak mau aku sama wanita yang kaya serpihan kayu." Ucap faizal.


Sonia tak terima jika dirinya di sebut seperti serpihan kayu. "Apa maksudmu menyebutku seperti itu." Bentak sonia.


"Tapi itu kenyataan. Lihatlah dada mu yang tepos itu." Ucap faizal. Lalu sonia langsung menutupi dada miliknya. "Percuma kau tutupi aku tak berselera dengan dada kecil seperti itu." Ucap faizal.


Sonia hanya bisa menahan kesal mendengar ucapan faizal, tapi yang di katakan faizal ada benarnya juga dada miliknya dan milik widia bagaikan landasan pesawat yang datar dengan gunung bromo yang besar. Beda jauh.


"Sudah-sudah. Kalian jangan bertengkar terus. Lebih baik kita makan saja. Dan kau faizal lebih baik pesan makanan." Ucap widia.

__ADS_1


"Tak kak, aku tak berselera." Ucap faizal.


"Kenapa?" Tanya widia.


"Selera ku langsung hilang saat melihat landasan pesawat yang terus di bawa kemana-mana." Ucap faizal.


"Apa maksudmu?" Tanya sonia.


"Ada apa denganmu? Memangnya kau merasa jika dada milikmu itu seperti landasan pesawat." Ucap faizal.


Seketika sonia langsung bungkam. "Sudah-sudah jangan bertengkar. Kalian itu baru kenal saja sudah kaya anjing dan kucing." Ucap widia.


"Dianya yang duluan." Ucap sonia.


"Cihh... Maaf kak aku tak bisa menemanimu lebih lama lagi. Karena sekarang lagi banyak joob." Ucap faizal.


"Baiklah. Semoga kau sukses dengan karirmu itu." Ucap widia.


Lalu faizal langsung bergegas pergi meninggalkan widia dan sonia. Tapi terlihat sebuah senyuman di wajah faizal saat mengingat wajah sonia yang marah. Faizal sangat ingat jelas jika wanita itu adalah salah satu fans beratnya karena di setiap dia menyanyi di caffe wanita itu pasti selalu hadir paling depan dengan sorakan paling keras.


"Iyah, ada apa nak." Tanya widia.


"Aku kangen sama nenek." Ucap andi.


Terlihat raut wajah sedih terukir jelas di wajah widia.


"Ibu kenapa?" Tanya andi.


"Gak papa." Ucap widia.


"Kapan kita nemuin nenek?" Tanya andi.


"Nanti kita bakal nemuin nenek." Ucap widia.


Lalu pikiran widia kembali teringat saat hari sebelum dia menikah dengan angga.


Flasback on.

__ADS_1


Terlihat widia tengah menelpon seseorang yang tak lain adalah ibunya sendiri.


"Hallo bu."


"Iya, wi ada apa?"


"Ada sesuatu yang ingin aku omongin."


"Soal apa wi?"


"Soal pernikahan aku."


"Pernikahan? Pernikahan dengan siapa?"


"Dengan angga."


Tak ada jawaban dari ibunya widia.


"Ibu, ibu?"


"Hem, iya wi."


"Apa ibu akan datang ke acara pernikahan aku dengan angga."


"Ibu gak bisa datang."


"Kenapa bu?"


"Ibu lagi di tempat sodara jadi gak bisa hadir dan lagi jaraknya cukup jauh."


"Aku bisa suruh supir pribadi angga untuk jemput ibu kok."


"ibu bilang gak bisa yah gak bisa."


Lalu secara sepihak ibunya widia langsung menutup panggilan. Terlihat widia meneteskan air mata saat ibunya mematikan panggilan miliknya.


Flasback off.

__ADS_1


__ADS_2