Aku Bukan Nona Malam

Aku Bukan Nona Malam
Eps. 86


__ADS_3

Keesokan harinya, terlihat angga tengah bersiap. Dia bersiap bukan untuk pergi ke kantor melainkan pergi ke rumah bundanya untuk menemui andi sekaligus untuk mengajaknya pulang. Dan begitu juga dengan widia, dia tengah bersiap sama seperti angga.


Skip.


Kini mereka berdua sudah berada di depan rumah ibunda angga, terlihat angga sangat gugup. Baru pertama kali ini dia sangat gugup datang ke rumah ibundanya.


Lalu perlahan angga membuka pintu rumah, dan terlihat sonia dan andi tengah bermain game bersama.


Sonia yang mendengar suara pintu terbuka langsung melihat ke arah pintu.


"Kakak." Teriak sonia sambil berlari menuju kakak tersayangnya itu lalu memeluknya.


"Kau itu sudah besar, masih saja seperti anak kecil." Ucap angga sambil melepaskan pelukan adiknya itu.


Lalu mata angga langsung tertuju pada andi yang masih pokus pada game yang tengah dia mainkan.


"Andi." Panggil angga.


"Hmm." Jawab andi.


Lalu angga menatap sonia. Dengan tatapan yang mengadung arti. "Apa kau yang mengajarkannya bermainan game." Sonia yang mengerti maksud dari tatapan kakaknya itu hanya bisa tersenyum menampilkan deretan gigi putih miliknya.


Widia yang menyadari jika putranya lebih fokus pada game, langsung berjalan ke arah andi.

__ADS_1


"Udah dulu yah main gamennya. Ada ayah angga, kan gak sopan." Ucap widia lembut. Lalu andi langsung menghentikan permainanya.


Lalu mata widia menatap angga dengan tatapan yang mengandung arti "Sekarang giliranmu."


"Sonia, kita ke dapur yuk." Ajak widia.


"Buat apa kak?" Tanya sonia.


"Kita masak. Karena aku dan angga belum makan, jadi kamu bantu aku masak yah." Ucap widia.


"Oke, kak." Lalu widia menganjak sonia ke dapur.


Terlihat kini hanya ada andi dan angga, nampak suasana canggung menyelimuti keduanya.


"Andi." Panggil angga.


"Hem, ibu sudah mengatakan semuanya." Ucap angga. Andi yang mengerti maksud ayahnya hanya bisa diam sambil menundukkan kepalanya.


"Kenapa kau tak jujur pada ayah." Ucap angga sambil mendekatkan dirinya pada andi.


Terlihat andi hanya diam tak menjawab pertanyaan dari angga. Lalu angga menghembuskan napas kasar.


"Ingin dengar cerita?" Tanya angga.

__ADS_1


Lalu andi menatap ayahnya tak mengerti.


"Dulu saat ayah seumuranmu, ayah tak pernah merasakan apa itu kasih sayang dari seorang ayah. Karena kakekmu mendidik ayah dengan sangat keras. Itulah kenapa ayah juga melakukan hal yang sama padamu, karena mungkin dengan cara ini kau bisa tumbuh jadi pria yang sukses dan di gandrungi oleh banyak wanita seperti ayahmu ini."


Seketika andi tertawa mendengar ucapan angga yang trakhir. Lalu angga mengelus rambut putranya. "Maafkan ayahmu ini karena telah gagal menjadi ayah yang baik untukmu." Ucap angga pelan.


Lalu andi menatap ayahnya dan memegangi tangannya. "Ayah gak gagal kok, ayah udah bener kok ngedidik andi seperti didikkan kakek. Cuman hati andi yang terlalu lembek sehingga andi jadi kaya gini. Tapi andi janji gak bakalan kaya gini lagi. Andi bakal kaya ayah jadi pria sukses dan di gandrungi banyak wanita." Ucap andi sambil menatap angga.


Seketika angga langsung memangku tubuh andi dan memeluknya. Dan begitu pun juga andi, dia juga memeluk angga.


Sementara di balik pintu, terlihat widia dan sonia yang tengah mengintip dari celah pintu.


"Gimana kak, berhasil?" Tanya sonia.


"Kayaknya berhasil." Ucap widia sambil terus mengintip.


"Keluarlah kalian berdua, aku tahu kalian sedang mengintip." Ucap angga dengan suara lantang.


Lalu widia dan sonia langsung keluar dari tempat persembunyian mereka berdua.


"Ibu, tante. Kenapa kalian mengintip? Mengintip itu perbuatan gak baik loh." Ucap andi.


Widia dan sonia hanya langsung saling menatap satu sama lain sambil senyum terpaksa.

__ADS_1


__ADS_2