
Kini terlihat wajah widia memerah, obat yang angga berikan padanya mulai bereaksi. Melihat widia seperti itu angga langsung membuka ikatan di tangan widia dan kembali duduk sambil menunggu widia memohon-mohon padanya.
"Seberapa lama lagi kau akan menahannya widia." Ucap angga dengan penuh seringaian.
Terlihat tatapan marah bercampur dengan gairah terlihat jelas di wajah widia.
Dengan sekuat tenaga widia menahan gairahanya.
"Angga."
"Iyah widia."
"Apa di matamu semua wanita tak punya harga diri." Ucap widia dengan terus menatap angga.
"Iyah, mereka hanyalah sebuah pakaian yang saat bosan langsung di buang." Jawab angga.
"Kau..."
"Sudah jangan basa basi lagi, aku tahu kau sudah tak tahan. Lakukanlah aku tak akan melawan widia."
"Cihh, meski kau membuatku seperti ini ,aku tak akan sudi melakukan hal seperti itu."
"Jangan munafik widia."
"Aku tak munafik tapi aku hanya ingin mempertahankan harga diriku sebagai wanita."
__ADS_1
"Cihh.."
Terlihat widia sudah tak kuat menahan gairah yanh semakin besar dan angga hanya tersenyum melihat widia.
"Ayolah widia, layani aku dengan nafsumu yang sedang bergejolak itu."
"Lebih baik aku mati dari pada melakukan hal sehina itu." Teriak widia.
Lalu widia langsung membentur-benturkan kepalanya pada lantai, karena dengan begitu setidaknya widia akan pingsan dan dia tak perlu melakukan hal kotor seperti itu.
Angga yang melihat widia membentur-benturkan kepalanya langsung panik dan berusaha menghentikannya. Dan terlihat darah mengalir dari kepala widia, di saat widia masih sadar dia tersenyum pada angga.
"Setidaknya aku masih mempertahankan harga diriku sebagai seorang wanita, meski aku harus mati sekali pun." Ucap widia dan terlihat widia langsung pingsan.
Skip.
Terlihat angga dan beberapa suster berlari sambil membawa brankar dorong yang berisi widia.
"Maaf tuan anda tak boleh masuk." Ucap salah satu suster.
Dan angga hanya bisa menunggu widia di luar ruangan UGD, di benaknya dia sangat menyesal jika akan berakhir seperti ini.
"Kenapa kau melakukan itu widia, apa susahnya melayaniku itu hanya hal mudah tapi kau lebih memilih membentur-benturkan kepalamu dari pada tidur bersamaku." Ucap angga di dalam hatinya.
Lalu angga mengechat sahabatnya aldi yang kebetulan dengan online.
__ADS_1
"All."
"Iya ga, ada apa?"
"Aku ada sedikit pertanyaan untukmu."
"Apa itu."
"Aku ada seorang kenalan."
"Terus?"
"Iyah dia itu di beri obat perangsang dan dari pada memilih melayani pria yang memberikannya obat dia lebih memilih membenturkan kepalanya pada lantai. Kenapa alasannya?"
"Hahaha.. Itu berarti dia adalah wanita yang mempertahankan harga dirinya sebagai seorang wanita dan wanita seperti itu sudah jarang di zaman modern seperti ini."
"Kenapa dia mempertahankan harga dirinya sampai seperti itu, sementara banyak wanita lain yang nampak senang saat di ajak tidur dengan seorang pria."
"Aduh, angga. Angga, gak semua wanita sama ga. Wanita yang suka tidur sama cowo lain yang bukan suaminya mereka itu adalah wanita yang memikirkan kesenangan dunia. Tapi berbeda dengan wanita yang maksud mu karena bagi seorang wanita harga dirinya adalah harga mati untuk hidupnya jika harga dirinya hancur baginya sudah tak ada harapan untuk hidup lagi."
Terlihat angga mencerna ucapan dari aldi, dan setelah mengetahuinya angga tak ada niat untuk membalas chat dari aldi.
Kini angga terdiam, dia merenungkan tentang masa lalunya. Banyak wanita yang rela naik ke ranjangnya meski hanya satu kali dan rela membuka paha mereka hanya untuk angga.
Dan kini baru pertama kalinya ada seorang wanita yang menolak tidur dengan angga, bahkan menolak mentah-mentah. Tanpa dia sadari jika banyak wanita yang mengantri untuk bisa merasakan goyangan angga.
__ADS_1