
Kini Widia, Angga beserta Kila tengah menunggu di ruang tunggu. Nampak Kila hanya bisa menangis sambil menanyakan ibunya. Dan Widia berusaha menenangkannya dan tak lama dokter yang menangani Dewi pun menghampiri Widia dan juga Angga.
"Ini keluarga Dewi?" Tanya dokter itu, lalu Widia langsung mengangguk kepalanya.
"Bagaimana dengan kondisi pasien dok?" Tanya Widia.
"Kondisinya sudah sangat parah, dan jika melakukan kemoterapi pun percuma." Ucap dokter Reza pada Widia dan Angga.
Dan Widia hanya bisa terdiam sambil memandang Kila.
"Tante, ibu mana?" Tanya Kila.
"Ibu Kila ada kok, ibu Kila lagi istirahat dulu." Jawab Widia.
Lalu dokter Reza langsung meninggalkan Angga dan juga Widia.
"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Widia pada Angga, dan Angga hanya menggelengkan kepalanya.
"Tante, Kila mau temu sama ibu." Ucap Kila pada Widia.
"Iya nanti kita bertemu sama ibu, tapi sekarang biarkan ibu Kila istirahat dulu." Jawab Widia.
"Baik Tante." Jawab Kila.
Dan Angga hanya memperhatikan Widia, itulah sikap Widia yang sangat di sukai oleh Angga. Widia selalu bersikap dewasa dalam menghadapi semua permasalahan. Jika wanita lain mungkin akan memaki-maki, bahkan mengusir anak suaminya dari wanita lain.
"Ayo kita pulang." Ajak Angga.
Lalu Widia langsung menggandeng tangan Kila untuk mengajaknya pulang.
__ADS_1
"Kila gak mau pulang Tante, Kila mau tunggu ibu." Ucap Kila.
"Nanti kita ke sini lagi kok. Sekarang Kila ikut pulang dulu sama Tante." Ajak Widia dengan nada halus dan lembut.
Lalu Kila langsung mengikuti Widia untuk pulang, sesekali kepalanya menengok ke belakang untuk melihat ibunya.
Kini mereka sudah berada di rumah, karena ini hari libur jadi Andi tidak pergi ke sekolah.
"Ibu.." Panggil Andi yang melihat Widia datang.
"Uh, anak ibu udah bangun." Ucap Widia sambil menghampiri Andi.
"Iya Bu, ibu sama ayah habis darimana?" Tanya Andi.
"Hem.." Widia tak langsung menjawab pertanyaan Andi, dia bingung harus menjelaskan darimana dulu. Karena Andi memiliki pemikiran seperti orang dewasa dan dia tak mudah untuk di tipu.
Melihat ibunya yang hanya diam, lalu Andi melihat anak kecil yang bersembunyi di belakang ibunya.
"Ini Kila sayang." Jawab Widia.
Nampak Andi melihat gadis kecil itu dari atas sampai bawah, lalu dia melihat wajahnya yang hampir sama persis dengan ayahnya. Dan dengan IQ Andi yang tinggi dia dapat dengan mudah mengetahui apa yang di sembunyikan oleh ayah dan ibunya itu.
"Kenapa ayah melakukan itu? Kenapa ayah mengkhianati ibu." Tanya Andi dengan tatapan menyelidik.
"Apa maksudmu nak? Ayah tak mengerti." Jawab Andi.
"Menurut analisaku, gadis kecil itu merupakan anak ayah dengan wanita lain. Apa aku benar." Ucap Andi.
Dan Angga hanya bisa diam mematung, lalu dia langsung melihat ke arah Widia.
__ADS_1
"Widia kenapa kau melahirkan anak sepintar itu." Oceh Angga dalam hati.
"Sudah-sudah jangan bertengkar nanti ibu jelaskan. Sekarang ayo kita makan, kamu belum makankan?" Tanya Widia. Tapi Andi tak menjawab dia langsung pergi meninggalkan ibu dan ayahnya begitu saya.
"Kila sekarang kamu makan sanah, nanti Tante nyusul." Ucap Widia.
"Tapi tadi Kila udah makan Tante." Ucap Kila.
"Ya udah, gak papah kok makan lagi juga." Ucap Widia.
"Tapi Kila sama ibu cuka makan cehali cuman cekali Tante." Jawab kila. Dan Widia langsung memandang iba pada Kila.
"Tapi sekarang kan beda, sekarang kamu pergi ke meja makan. Nanti Tante nyusul." Ucap Widia.
"Baik Tante." Jawab Kila. Lalu Kila langsung pergi ke meja makan.
Nampak Angga langsung melihat ke arah Widia.
"Apa?" Tanya Widia.
"Bagaimana kau mau menjelaskan pada Andi?" Tanya Angga.
"Kenapa aku yang harus menjelaskan, kau saja yang menjelaskan. Kau yang punya salah kenapa aku yang harus menjelaskan." Ucap Widia.
Nampak Angga hanya bisa menatap kesal pada istrinya itu. "Saat kau mengandung Andi, kau ngidam apa sampai Andi bisa sepintar itu." Tanya Angga.
"Ya jelas Andi pintar. Kau lihat aku ibunya sangat pintar." Ucap Widia memuji dirinya sendiri.
"Andi pintar itu karena dia benihku." Ucap Angga.
__ADS_1
"Oh.." Jawab Widia menanggapi ucapan Angga.
Dan ingin rasanya Angga memberikan hukuman pada Widia, dengan cara menggoyang Widia sampai Widia meminta ampun. Tapi karena situasinya seperti ini dia tak bisa melakukan hal itu.