
Kini hari sudah mulai menjelang malam, nampak Widia, Angga, Andi dan Kila tengah menyantap makan malam.
Terlihat Kila nampak canggung saat makan malam bersama dengan keluarga Angga, sementara Andi menatap makan malamnya dengan tenang.
"Andi, yang banyak makannya." Ucap Widia lalu dia memberikan 1 potong ayam goreng pada Andi.
"Udah Bu, Andi udah kenyang." Jawab Andi.
"Gak bisa, kamu harus makan banyak. Terus makanan yang gak boleh sampai ada sisa. Nanti nasinya nangis kalau kamu gak habiskan." Ucap Widia.
"Mana ada nasi menangis, ibu mu ini bisanya cuman membual saja." Ucap Angga.
"Iya iya iya.. Terserah kau saja." Ucap Widia pada Angga.
Nampak Kila melihat Widia penuh damba, dia merasa jika Widia sangat baik seperti ibunya sendiri. Dan hal itu mengingatkan Kila pada mendiang ibunya.
"Kila." Panggil Widia.
"Iya Tante." Jawab Kila.
"Kok kamu malah diem, ayo makan." Ucap Widia. Dan Kila langsung mengangguk kepalanya sebagai jawaban.
Nampak Angga mulai bersikap manis pada Widia, dia memberikan makanan yang bergizi untuk Widia. Karena dia tak mau jika kandungan yang ada di perut Widia kekurangan gizi.
"Sudah sayang, ini udah banyak. Kau ingin membuatku menjadi gemuk." Ucap Widia.
"Kau sedang hamil, jadi kau harus makan yang banyak." Jawab Angga.
"Uhh.. Kau ini yah." Ucap Widia yang senang di perlakukan manis oleh Angga.
Dan Andi hanya memutar bola matanya bosan, dia sudah terbiasa melihat kemesraan ayah dan ibunya itu. Mau dimana pun dan kapan pun, ayah dan ibunya itu seperti anak muda yang baru mengenal cinta.
Tak beberapa lama makan malam pun sudah selesai, kini Kila membantu simbok untuk membereskan piring-piring bekas tadi.
__ADS_1
"Kau sangat rajin." Ucap Widia.
"Ini udah biasa kok Tante, Kila suka bantu olang-olang di walung makan lalu Kila dapat uang." Ucap Kila. Nampak Widia memandang sendu anak kecil di hadapannya itu.
Widia juga bukan orang yang munafik, dia sangat marah saat mendengar perkataan Dewi waktu itu, tapi Kila hanyalah anak kecil. Dia tak tahu apa-apa, dan tak mungkin Widia harus melampiaskan amarahnya pada Kila.
"Sekarang Kila tidur sanah, udah malem." Ucap Widia.
"Baik Tante." Jawab Kila. Lalu Kila langsung pergi menuju ke kamar tempatnya tidur.
Dan Widia melihat Andi yang tengah menonton tv bersama ayahnya.
"Andi, ayo tidur. Sekarang udah malem." Ucap Widia pada Andi.
"Iya Bu bentar lagi." Jawab Andi, lalu Widia langsung memeluk tubuh Andi.
"Cepat tidur anak ibu yang ganteng nih." Ucap Widia, lalu dia mencium pipi andi beberapa kali.
"Ih, ibu hentikan." Ucap Andi, sambil membersihkan bekas bibir Widia di pipinya.
Dan Andi hanya menatap ibunya dengan tatapan malas, sudah kebiasaan ibunya menyuruhnya untuk kembali menjadi kecil lagi.
"Apa hanya Andi yang kau peluk? Aku kapan?" Tanya Angga pada istrinya.
"Ayah sudah sering peluk ibu, jadi sekarang giliran ku." Jawab Andi, lalu Andi memeluk ibunya dan mencium kedua pipi ibunya.
"Hey, kau tak boleh mencium pipi istriku." Ucap Angga.
Dan Andi hanya menjulurkan lidahnya pada ayahnya.
"Dasar anak durhaka, kau malah meledek ayahmu ini." Ucap Angga.
"Hahaha.. Biarkan saja ayahmu itu." Ucap Widia sambil memeluk andi.
__ADS_1
Nampak Widia, Angga dan Andi tertawa bersama, mereka terlihat sangat bahagia.
Di samping itu, nampak Kila melihat Widia, Angga dan Andi dengan tatapan sendu.
Bagi Kila, Andi sangat beruntung masih memiliki keluarga yang lengkap. Berbeda dengannya dia sudah Tak memiliki siapa-siapa.
Setelah melakukan canda tawa, kini Angga, Andi dan juga Widia sudah berada di kamar masing-masing.
Di dalam kamar milik Widia...
Nampak Angga sudah mulai memeluk tubuh Widia dari belakang, dan Widia hanya bisa tersenyum sambil menikmati pelukan hangat milik Angga.
"Ada apa?" Tanya Widia.
"Kau tak boleh bermanja-manja pada Andi." Ucap Angga sambil menyembunyikan wajahnya di leher Widia.
"Hahaha.. Andi itu putraku dan juga putramu, masa kau cemburu pada putramu sendiri." ucap Widia.
"Cemburu itu tak mengenal status sayang." Jawab Angga.
"Dasar kau ini.." Ucap Widia sambil mencium pipi Angga.
Lalu Angga menidurkan tubuh Widia dan memberikan kode untuk melayaninya malam ini.
"Tapi aku sedang hamil." Jawab Widia.
"Aku akan melakukannya dengan pelan-pelan." Ucap Angga.
"Baiklah, tapi pelan-pelan." Ucap Widia. Lalu Angga langsung menuntaskan hasratnya pada Widia, secara perlahan Angga mulai membuat Widia mendesah karena ulah Angga.
Pagi harinya...
Kini angga, Widia, Andi dan Kila tengah berada di dalam mobil. Mereka akan pergi ke rumah sakit untuk melihat hasil tes DNA Angga dan juga Kila.
__ADS_1
Nampak Widia sangat gugup, dia sudah tak sabar untuk melihat hasil tes DNA tersebut. Dan begitu pun juga Angga di berharap jika Kila bukanlah anaknya, karena tak mungkin jika wanita itu bisa mengandung anaknya bahkan mereka hanya melakukan hal itu satu kali. Sementara saat bersama Widia, Angga masih ingat meski hanya melakukannya satu malam tapi Angga menyemburkan benih miliknya beberapa kali ke rahim Widia.