Aku Bukan Nona Malam

Aku Bukan Nona Malam
Eps. 91


__ADS_3

Kini widia sudah berada di rumah bersama andi, terlihat wajahnya kurang bersemangat. Andi yang merasa aneh dengan raut wajah ibunya yang nampak sedih mencoba bertanya pada ibunya tadi jawabannya selalu sama, tak ada apa-apa.


"Ibu andi ke kamar dulu. Yah." Ucap andi.


Dan widia hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Lalu andi langsung pergi meninggalkan widia, kemudian. Widia langsung berjalan menuju kamarnya.


Di dalam kamar...


Terlihat widia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas rajang sambil memeluk guling miliknya. Pikirannya masih melayang pada saat terakhir kali dia menelpon ibunya. Dan setelah itu ibunya tak pernah lagi bisa di hubungi.


Widia tak membicarakan hal ini dengan angga karena ini masalah pribadinya dengan ibunya jadi menurut widia tak ada hubungannya dengan angga.


Tak beberapa lama, terlihat pintu kamar milik widia terbuka secara perlahan. Dan rupanya angga, lalu dia berjalan pelan agar widia tak tahu jika dirinya sudah pulang.


"Tak perlu mengendap-endap aku juga tahu kau sudah pulang." Ucap widia.


"Hehehe, aku tak menyangka jika pendengaran mu sangat tajam. Sayang." Ucap angga. Tapi widia tak membalas ucapan angga. "Ada apa denganmu? Apa kau punya masalah?"


"Tak ada." Balas widia.


"Aku tahu kau berbohong widia." Ujar angga.


"Aku tak berbohong, memang tak ada masalah. Lebih baik kau cepat mandi sanah." Usir widia.


Lalu angga langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya yang lengkat.


Skip.

__ADS_1


Kini angga sudah keluar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan sehelai handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Dengan tubuh yang masih basah karena habis mandi, angga berjalan menghampiri widia dan langsung memeluknya.


"Angga. Basah."


"Kok panggil angga lagi sih, kemarin panggil mas."


"Udah kebiasaan."


"Hem, kamu tuh, kenapa sih?"


"Aku gak papa kok."


"Bohong."


"Beneran."


Tapi widia tidak menjawab ucapan angga, dia lebih memilih memalingkan wajahnya dari angga.


"Tatap mata aku wi." Ucap angga sambil memegang kedua pipi widia dengan tangannya yang basah.


Dengan perlahan widia menatap mata angga, dan secara perlahan air mata widia mengalir dari ujung matanya.


Angga yang melihat istrinya menangis, langsung menghapus air matanya itu. "Kamu kenapa sayang." Tanya angga lembut.


"Hiks, hiks, hiks." Bukannya menjawab widia malah terus menangis.


Lalu angga langsung memeluk widia, dan membenamkan kepala widia di dada bidang miliknya.

__ADS_1


"Jika ada masalah katakan saja, aku ini suamimu wi." Ucap angga pelan sambil mengelus rambut widia.


Tapi untuk saat ini widia enggan untuk menceritakan masalahnya itu.


Di tempat lain...


Di daerah bandung, tepatnya di kab. Bandung barat. Terlihat ibu rahayu tengah meminum teh miliknya sambil melihat pemandangan pesawasan yang masih asli.


"Rahayu." Panggil seorang pria yang tak lain adalah sodaranya bu rahayu.


"Ada apa kang." Jawabnya.


"Apa kau belum mau menemui putrimu." Ucapnya.


"Entahlah." Jawab bu rahayu.


"Rahayu, dengarkan aku. Aku tahu kau tak suka saat putrimu menikah tanpa meminta izin terlebih dahulu padamu. Tapi mungkin ada alasannya." Ucap pria tersebut yang namanya adalah kang sobur.


"Aku tahu kang, tapi. Kenapa harus dengan pria itu. Aku ingat saat putriku hampir gila karena ulah pria itu dan sekarang widia menikahi pria itu." Ucap bu rahayu.


"Aku tahu kau tak suka, tapi setidaknya maafkanlah dia. Dan lagi itu kejadian sudah sangat lama." Ucap kang sobur.


"Hem, entahlah. Aku tak mau lagi membahas hal itu." Jawab bu rahayu.


"Dan seharusnya kau menghubungi widia atau memberikan alamatmu yang sekarang. Pasti dia sangat khawatir padamu." Ucap kang sobur.


"Biarkan saja. Dia bahagia dengan keluarga barunya itu." Ucap bu rahayu. Lalu bu rahayu langsung berjalan meninggalkan kang sobur yang menatapnya dengan tatapan iba.

__ADS_1


__ADS_2