
"Widia."
Dan yang di panggil nampak langsung ingin menutup kembali pintu rumahnya tapi angga langsung buru-buru menahan pintu tersebut.
"Ada apa lagi sih?" Tanya widia.
"Aku ingin bicara."
"Bicara apa lagi?"
"Aku minta maaf atas sikapku yang tak menghargai pernikahan kita."
"Terserah, aku sudah tak peduli lagi."
"Ku mohon widia kau tak boleh seperti ini."
Widia tak ingin pertengkarannya dengan angga sampai terdengar oleh para tetangga maka widia mengajak angga untuk masuk ke dalam rumah.
"Ku mohon widia maafkan aku." Ucap angga memohon.
"Aku sudah tak peduli lagi oke, dan lagi pula sebentar lagi kita akan cerai."
"Aku tak mau cerai denganmu."
"Tapi aku mau."
"Tapi aku tak mau. Ku mohon widia maafkan aku saat itu aku hilap."
"Hilapmu keseringan angga."
"Namanya juga manusia wi, tak luput dari kesalahan."
"Terserah kau saja, aku pusing."
"Ku mohon maafkan aku, aku janji akan menjadi suami yang baik, penurut dan akan menyayangimu sepenuh hatiku."
"Pembohong, semua pria selalu berbicara seperti itu tapi nyatanya berbeda dengan apa yang mereka ucapkan."
"Tapi itu pria lain bukan aku. Ku mohon."
Mendengar permintaan maaf angga yang sungguh-sungguh lalu widia memutuskan untuk memaafkan angga.
"Baiklah aku akan memaafkanmu tapi cuman sekali ini saja jika kau melanggar semua janjimu maka aku tak mau memaafkanmu lagi."
"Baiklah aku janji, terimakasih sudah mau memaafkanku widia." Lalu angga memeluk tubuh widia. "Oke karena kita sudah akur, mari kita pulang." Ajak angga pada widia.
__ADS_1
"Aku gak mau."
"Why?"
"Males."
"Ayolah widia."
"Baiklah."
Lalu widia kembali mengemasi barang-barangnya yang sudah dia tata rapih karena dia harus kembali ke rumah angga dan angga juga membantu mengemasi barang-barang widia.
Saat angga tengah membereskan baju-baju widia dia tak sengaja menemukan sebuah album foto di lemari baju widia. Karena rasa penasaran angga mengambil album tersebut dan melihat isinya. Saat dia melihat isi album itu seketika wajah angga berubah dan terlihat dia mengepalkan tangannya.
"Widia." Teriak angga.
"Apaan sih, kok teriak-teriak."
"Apa maksudnya ini." Tanya angga sambil menyerahkan album foto itu.
"Oh itu. Itu album foto kenangan aku sama mas irwan saat kita pacaran dulu." Jawab widia.
"Kenapa kok gak di buang." Tanya angga geram.
Lalu angga melempar album tersebut ke arah jendela kamar widia.
"Ayo kita pulang." Ucap angga sambil membawa koper milik widia.
Skip.
Di sepanjang mobil tak ada obrolan antara angga dan widia, terlihat widia keheranan saat melihat muka angga yang nampak tengah menahan kesal.
"Ada apa denganmu?" Tanya widia penasaran.
"Tak ada." Jawab angga singkat.
"Lalu kenapa kau memasang wajah seperti itu." Tanya widia.
"Terus wajahku harus di pasang bagaimana?" Jawab angga.
"Ya sudah terserah kau saja." Jawab widia tak peduli lali widia memalingkan wajahnya ke arah kaca mobil sambil melihat-lihat pemandangan.
Angga yang nampak semakin kesal akan tingkah widia yang tak mengerti tentang kemarahannya lalu angga langsung menepikan mobilnya di pinggir jalan.
"Kenapa mobilnya berhenti?"
__ADS_1
"Harusnya kau sedikit pengertian."
"Pengertian apa maksudmu, aku selalu pengertian terhadapmu. Kapan aku tak pernah pengertian kepadamu angga."
"Kau harusnya bujuk aku saat aku sedang marah."
"Kau sedang marah?"
"Ya aku sedang marah."
"Kenapa kau bisa marah, perasaan aku tak pernah berbuat salah?"
"Harusnya kau tahu alasanku marah."
"Ya jelas aku tak tahu. Kau juga tak memberitahuku kenapa kau marah."
"Harusnya kau tanya kenapa aku marah."
"Aku sudah tanya beberapa kali padamu kenapa kau marah, tapi kau tak menjawab pertanyaanku."
Angga sedikit terdiam saat mendengar ucapan widia.
"Harusnya kau bertanya sambil merayuku agar aku mau menjawab bukannya malah mengacuhkanku."
"Baiklah-baiklah. Suamiku tersayang kenapa kamu marah." Ucap widia sambil membelai kedua pipi angga.
"Aku marah karena melihat fotomu dengan irwan, aku tak suka."
Seketika widia langsung tertawa mendengar alasan angga marah.
"Hahahaha... Hanya karena itu? Ku kira karena apa."
"Kau bilang hanya karena itu? Itu bukan hal sepele widia kau tak mengerti betapa cemburunya aku melihat foto istriku bersama pria lain."
"Oke aku mengerti. Tapi dengarkan aku angga. Irwan hanyalah masa laluku dan kau adalah masa depanku. Jadi kau paham." Ucap widia sambil merayu angga.
Seketika wajah angga terlihat sangat senang tapi dia tak puas dengan rayuan widia.
"Tapi aku tetap cemburu widia..." Ucapan angga langsung di potong oleh widia.
"Stop angga. Stop. Oke, kau terus mengungkit masa laluku dengan mas irwan kau bilang kau cemburulah atau segala macam itu. Apa kau ingin aku mengungkit perselingkuhanmu dengan yasmin." Ucap widia marah.
"Tak perlu tak perlu widia. Kita tak perlu lagi membahas hal itu. Dan untuk sekarang aku memaafkanmu atas album foto itu. Dan hari ini aku sangat lelah dan lebih baik kita segera pulang."
Kemudian angga menyalakan mobilnya dan langsung menjalankannya di jalanan yang cukup sepi karena hari sudah hampir menjelang malam.
__ADS_1