
Terlihat kini Yasmin kembali berjalan ke arah studio foto, sia-sia saja dia memasak makanan untuk Irwan karena Irwan malah bersama dengan wanita lain.
Di dalam studio foto.
Nampak Yasmin kembali duduk sambil memegangi kotak makan siang, lalu tak beberapa lama datang ericko.
"Eh, Yasmin kok mukanya cemberut amat sih." Tanya Ericko.
"Enggak kok." Jawab Yasmin. Lalu Ericko melihat kotak makan siang yang ada di genggaman yasmin.
"Punya siapa tuh?" Tanya Ericko.
"Punya aku. Kamu mau?" Tanya Yasmin.
"Mau dong, pasti enak. Kamu yang masak sendiri?" Tanya Ericko.
Dan Yasmin hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, nampak Ericko langsung tersenyum, lalu dia langsung membuka kotak makan siang tersebut dan memakan makanan yang Yasmin buat dengan lahap. Sementara Yasmin hanya tersenyum melihat hal itu.
Di lain tempat...
Nampak Widia tengah bersiap untuk pergi memeriksakan kandungannya, dan begitu pun juga Angga sebagai suami yang baik dia pasti akan mengantar Widia pergi ke dokter kandungan.
Di sepanjang jalan tak henti-hentinya Widia berbicara prihal nama yang cocok untuk anaknya nanti dan Angga hanya bisa tersenyum melihat tingkah Widia.
"Menurut mu nama apa yang bagus yah?" Tanya Widia.
"Sudahlah jangan dulu mikirin soal nama, lagi pula kandungannya juga baru 3 bulan lebih jadi masih lama lagi." Ucap Angga.
"Tapi aku harus menyiapkan nya dari sekarang, biar lebih bagus." Ucap Widia.
"Kalau begitu lebih baik kita pergi dulu ke toko tempat menyediakan perlengkapan bayi. Bagaimana?" Tanya Angga.
"Gak boleh." Jawab Widia.
"Kenapa gak boleh." Tanya Angga.
"Kata ibu aku kalau kandungan belum genap 7 bulan kita gak boleh beli perlengkapan bayi." Ucap Widia.
"Memangnya kenapa harus nunggu 7 bulan dulu baru bisa beli perlengkapan bayi." Ucap Angga.
__ADS_1
"Kayanya janinnya suka di ambil makhluk halus." Ucap Widia.
"Widia-widia, kamu tuh yah. Keseringan nonton film horor." Ucap Angga.
"Di bilangin gak percaya." Ucap Widia.
"Ya udah, aku percaya." Ucap Angga.
Lalu tak ada lagi obrolan antara Angga dan juga Widia, dan Angga nampak lebih fokus pada jalan raya.
Kini mereka sudah berada di dokter kandungan untuk memeriksakan kandungannya, nampak ada beberapa pasien yang sudah menunggu.
Dan Widia melihat jika perut mereka sudah sangat besar mungkin sudah ada yang 7 atau bahkan 8 bulan.
Sementara Angga tengah mendaftar untuk mendapatkan nomor antrian, lalu setelah selesai mendaftar dia langsung berjalan menuju Widia.
"Hey sayang kamu kenapa?" Tanya Angga.
"Gak papa kok." Jawab Widia.
"Kamu lapar?" Tanya Angga.
Mendengar jika istrinya tengah pusing, Angga langsung memegang bahu Widia dan menari tubuh Widia agar bersandar di dadanya. Nampak banyak orang yang melihat hal itu, dan ada juga beberapa ibu-ibu yang nampak iri dengan kemesraan Angga dan Widia, di tambah dengan Angga yang sangat tampan jauh berbeda dengan suami mereka.
"Ibu Widia." Panggil seorang suster.
"Saya sus." Ucap Widia sambil berusaha berdiri.
"Mari masuk Bu." Ucap suster tersebut.
Lalu di bantu oleh angga, Widia langsung memasuki ruangan dokter tersebut.
Di dalam ruangan nampak Widia langsung di periksa, dari mulai detak jantung, darah dan lain-lain.
Tak beberapa lama pemeriksaan pun selesai, nampak dokter tersebut langsung duduk di kursinya dan di depannya sudah ada Angga dan juga Widia.
"Bagaimana janin istri saya dok, apakah tak ada masalah?" Tanya Angga.
"Janinnya tak ada masalah, kondisinya sangat baik. Tapi mungkin untuk istri anda harus di jaga lagi pola makannya dan juga harus makan-makanan yang bervitamin." Ucap Dokter tersebut.
__ADS_1
"Baik dok." Jawab Angga.
Lalu dokter tersebut menuliskan resep obat untuk Widia. "Ini resep obatnya, anda bisa beli di apotek dan jangan lupa obatnya di minum dengan dosis yang saya tuliskan di sana." Ucap dokter tersebut.
"Terimakasih dok." Ucap Angga. Lalu Widia dan Angga langsung keluar dari ruangan dokter tersebut.
Setelah menebus resep obat tersebut, Angga dan Widia langsung pulang menuju rumah.
Di dalam mobil.
"Apa jenis kelamin anak kita?" Tanya Angga.
"Gak tahu." Ucap Widia.
"Bagaimana tak tahu, bukan nya tadi di USG." Ucap Angga.
"Iya kan kan baru 3 bulan lebih 2 Minggu. Jadi belum membentuk seorang bayi." Jelas Widia.
Dan Angga hanya menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti.
"Sayang." Panggil Widia.
"Ada apa?" Tanya Angga.
"Hari ini kita mampir dulu yah di tukang sate yang ada di depan." Ucap Widia.
"Aku lagi gak mau makan sate sayang." Ucap Angga.
"Tapi aku mau, soalnya tadi pas kita mau pergi buat periksa aku gak sengaja liat tukang sate dan wanginya itu uhh.. Bikin ngiler." Ucap Widia.
"Bagaimana kamu bisa nyium baunya kan kaca mobilnya gak di buka." Ucap Angga.
"Tadi di buka kaca mobilnya jadi kecium wanginya." Ucap Widia.
"Baiklah sayang. Kita ke tempat yang kamu mau." Ucap Angga.
"Makasih, aku sayang kamu." Ucap Widia.
"Aku juga sayang kamu." Balas Angga.
__ADS_1