Aku Bukan Nona Malam

Aku Bukan Nona Malam
Eps. 63


__ADS_3

Pagi harinya terlihat angga tengah bersiap untuk pergi ke kantor dan begitu juga dengan widia.


"Kau mau kemana?" Tanya angga sambil membenarkan kerah bajunya.


"Kemana lagi yah kerjalah." Jawab widia.


"Kerja? Kerja kemana?"


"Ya ke perusahaan pak arya."


Seketika angga langsung menatap widia.


"Kau tak boleh kerja."


"Kenapa aku tak boleh kerja. Apa hak mu melarangku untuk bekerja?"


"Aku suamimu jadi hak ku melarangmu bekerja."


"Tapi aku bosan jika harus terus berada di rumah."


"Kalau begitu kau ikut denganku ke kantor."


"Aku tak mau."


"Ini perintah dan aku tak suka jika di bantah."


"Baiklah." Terlihat widia nampak kesal dengan sikap angga yang sangat over protektip.


Lalu widia mengambil handphonenya dan langsung menghubungi pak arya.


Tut, tut, tut..


"Hallo pa arya."


"Iyah widia, ada apa?"


"Maaf hari ini mungkin saya tak bisa masuk kerja."


"Oh, iyah tak apa. Kenapa kau tak bisa masuk kerja. Apa kau sakit?"


"Tidak, tidak hanya ada urusan keluarga."


"Oh, baiklah kalau begitu."


Angga yang mendengar widia tengah berbicara dengan arya langsung mengambil handphone widia.


"Apaan sih angga. Kembalikan." Ucap widia sambil berusaha mengambil handphonenya.


Tapi angga tak memberikan handphone itu.


"Hallo pak arya."


"Iyah hallo?"


"Ini saya suami widia. Angga."


"Oh, iyah pak angga."


"Saya hanya ingin memberitahukan padamu jika istriku Widia tak akan datang lagi ke perusahaanmu dalam artian lain istriku mengundurkan diri dari perusahaanmu."


Tanpa mendengar ucapan arya. Angga langsung memutuskan panggilan tersebut.


"Apaan sih angga, aku gak mau berhenti kerja yah."

__ADS_1


"Kau harus menuruti perintah suamimu."


"Tapi perintahmu itu sangat merugikanku."


"Merugikan dalam hal apa?"


Widia tak bisa menjawab ucapan angga.


"Karena kau tak bisa menjawab lebih baik kita segera berangkat ke perusahaanku." Ajak angga.


Lalu widia mengikuti angga layaknya seorang anak ayam mengikuti induknya.


Di dalam mobil...


Kini angga tengah mengendarai mobilnya, terlihat dia nampak senyum-senyum sendiri.


"Ada apa denganmu?" Tanya widia heran.


"Gak ada, aku hanya bahagia saja bisa bersama istriku hari ini." Jawab angga sambil melihat widia.


Widia yang mendengar ucapan angga langsung memalingkan wajahnya.


"Hahahaha.." Tawa angga terdengar. "Perlihatkan wajahmu yang tengah memerah itu widia." Sambil menarik pipi widia.


"Hentikan angga." Lalu widia memegangi tangan angga yang mencubit pipinya.


Kemudian widia nampak tersenyum pada angga dan angga membalas senyuman widia.


Lalu angga kembali mempokuskan dirinya pada jalanan yang nampak cukup padat dengan kendaraan pada pagi hari.


Skip.


Kini angga memarkirkn mobilnya di parkiran angga dan angga langsung turun dari dalam mobil dan tak lupa dia juga membukakan pintu untuk widia.


"Terimaksih tuan angga." Dan angga tersenyum sebagai jawaban.


Banyak karyawan yang melihat kemesraan antara angga dan widia, banyak karyawan wanita yang menatap tak suka pada widia.


"Bukankah itu widia, model yang pernah bekerja di sini? Kok dia bisa bersama dengan pak angga sih?"


"Iyah bener kok bisa yah?"


"Dasar wanita murahan."


"Pasti dia kasih tubuhnya untuk pak angga."


Begitulah ocehan karyawan wanita yang tak suka melihat angga bersama widia.


"Hmmm, aku takut nanti di serbu oleh fans-fans wanitamu." Ucap widia sambil terus berjalan mengikuti angga.


Dan angga hanya tersenyum saat mendengar ucapan widia.


Skip.


Kini widia sudah berada di ruangan kerja angga, dan setelah sampai ke ruangannya angga langsung pokus pada berkas-berkas yang sudah menumpuk di atas mejanya.


"Kau duduklah di sofa." Ucap angga sambil melanjutkan pekerjaannya.


"Baiklah pak bos."


Lalu widia duduk di atas sofa sambil melihat-lihat majalah yang ada di atas meja. Sesekali halisnya terangkat saat melihat-lihat foto-foto wanita yang memakai pakaian seksi.


1 Jam kemudian.

__ADS_1


Terlihat widia sudah mulai bosan tapi angga tetap pokus pada pakerjaannya.


2 Jam kemudian.


Widia sudah mengganti-ganti posisi duduknya agar tak bosan tapi tetap saja dia bosan.


"Angga."


"Ada apa widia."


"Aku pusing."


Angga yang mendegar widia pusing langsung berjalan ke arah widia.


"Kamu pusing kenapa widia?"


"Badan aku lemes banget."


"Kok bisa? Kita ke dokter aja yah."


"Gak mau."


"Tapi kamu sakit widia."


"Aku pusing terus badan aku lemes bukan sakit angga."


"Terus apa wi."


"Badan aku kekurangan asupan makanan pedes."


"Astaga widia, kamu tuh buat aku khawatir aja."


"Hehehe..."


"Ya udah kamu mau makan apa? Biar aku suruh riko belikan untukmu."


"Aku mau mie set, terus sosis bakar, terus basreng tapi jangan pake bumbu. Terus apa lagi yah..."


"Stop widia, itu semua makanan yang gak bergizi dan gak baik buat di konsumsi."


"Kamu tega lihat aku lemes? Kamu tega lihat aku menderita gak makan yang aku mau. Katanya sayang terus kenapa gak nurutin kemauan aku." Ucap widia sambil memasang ekspresi memelas.


Angga yang tak tahan melihat ekspresi widia, dia terpaksa harus menuruti permintaan widia.


"Baiklah-baiklah aku turuti keinginanmu."


Lalu angga menelpon riko untuk datang ke ruangannya.


Skip.


Tak beberapa lama riko sudah datang dan terlihat widia tengah menuliskan pesananya di sebuah kertas. Setelah selesai menuliskan pesanannya, Widia langsung memberikannya pada riko.


"Apa ini tuan?" Tanya riko yang masih tak mengerti.


"Itu adalah daftar makanan yang di pesan oleh widia, dan sekarang kau beli makanan-makanan itu dan jangan lupa belikan juga 1 paket makan siang yang biasa aku beli, 2 porsi. Ingat itu." Ucap angga.


"Baik tuan." Lalu riko langsung berjalan ke luar dari ruangan angga.


"Apa kau puas sekarang widia." Tanya angga.


"Aku belum puas karena makanannya belum datang."


"Tunggulah sebentar."

__ADS_1


"Baiklah."


Sambil menunggu pesanannya datang widia kembali berbaring di atas sofa dan angga kembali mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda.


__ADS_2