Aku Bukan Nona Malam

Aku Bukan Nona Malam
Eps. 107


__ADS_3

Saat semua orang tengah berbincang-bincang.


"Assalamu'alaikum." Ucap seseorang sambil mengucapkan salam.


"Wa'alaikum salam." Jawab semua orang serempak.


Lalu orang yang mengucapkan salam tersebut langsung masuk ke dalam rumah dan betapa terkejutnya saat melihat orang-orang yang ada di dalam rumahnya.


"Ibu." Panggil Widia sambil berjalan ke arah ibunya, lalu Widia langsung memeluk ibunya itu. "Ibu, Widia kangen sama ibu." Ucap Widia.


Dan Bu Rahayu nampak enggan membalas pelukan dari Widia tapi dia melihat kang sobur memberinya isyarat agar memeluk Widia.


Lalu Widia melepaskan pelukannya. "Ibu kenapa gak ngasih alamat ibu ke Widia?" Tanya Widia.


"Lebih baik ibumu, istirahat dulu wi. Mungkin ibumu masih cape." Ucap kang sobur.


Lalu Bu Rahayu langsung berjalan menuju kamarnya dan sekilas matanya melirik Angga. Dan Angga hanya diam sambil menundukkan kepalanya.


Setelah Bu Rahayu beristirahat dan membersihkan tubuhnya, kini terlihat Widia, Bu Rahayu, kang sobur dan juga Angga tengah duduk di ruang tamu. Sementara Andi tengah tertidur di kamar tamu.


"Ada apa kalian kemari?" Tanya Bu Rahayu to the points.


"Ka..mi.." Terlihat Widia berbicara gagap dia bingung harus mengatakan apa.


"Kami ke sini ingin menemui anda, karena Widia dan juga Andi sangat merindukan anda. Dan juga saya ingin meminta maaf atas apa yang saya lakukan di masa lalu pada Widia." Ucap Angga sambil menetap Bu Rahayu serius.


Dan Widia hanya diam membisu saat mendengar Angga mengucapkan kata maaf, karena Angga terkenal dengan orang yang tak pernah meminta maaf pada siapa pun.


Sementara itu Bu Rahayu nampak diam membisu, ada rasa kasihan pada anak dan menantunya tapi masih ada sedikit rasa marah pada menantunya itu.


Lalu kang sobur langsung menepuk pundak adiknya itu, dan tersenyum pada Bu Rahayu. Melihat hal itu Bu Rahayu hanya bisa menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Sebenarnya ibu masih marah padamu nak Angga, karena ibu ingat bagaimana dulu Widia sempat hampir gila karena ulahmu. Tapi, sekarang keadaannya berbeda kau sudah menjadi suami Widia dan itu artinya kau mau bertanggung jawab atas pada yang kau lakukan pada Widia meski terlambat ibu tetap menghargai hal itu. Dan lagi pula ibu juga bukan orang yang kejam karena keegoisan ibu sampai harus merusak kebahagiaan Widia dan juga Andi. Jadi ibu merestui pernikahan kalian berdua, tapi dengan satu syarat." Ucap Bu Rahayu.


"Syarat apa?" Tanya Angga.


"Kamu harus bisa membahagiakan Widia. Lahir maupun batinnya." Ucap Bu Rahayu.


Angga yang mendengar hal itu langsung senang. "Pasti, saya pasti akan membahagiakan Widia dan juga Andi." Ucap Angga. Lalu Angga langsung mencium tangan ibu Rahayu.


"Semoga kalian menjadi pasangan yang bahagia." Ucap bu Rahayu mendoakan.


"Amin." Jawab Angga dan juga Widia.


Karena hari sudah mulai sore, kini Widia dan Angga tengah beristirahat. Perjalanan dari Jakarta ke Bandung sangatlah melelahkan.


Terlihat Angga hanya bisa membaringkan tubuhnya di atas ranjang, sambil mata yang sudah mulai mengantuk. Secara perlahan angga langsung memejamkan matanya dan langsung terlelap tidur.


"Sayang, sayang, sayang. Bangun." Ucap Widia membangunkan Angga yang tengah tertidur.


"Cepat bangun ini sudah jam 7 malam." Ucap Widia.


Lalu Angga langsung membuka mata. "Bagaimana bisa sudah jam 7 malam?" Tanya Angga.


"Jika kau tak percaya lihat saja sendiri." Ucap Widia. Dan Angga langsung melihat jam di handphonenya dan bener saja sudah jam 7 malam.


"Sekarang kamu mandi, bentar lagi makan malam." Ucap Widia.


Lalu Angga langsung berjalan ke kamar mandi yang ada di belakang rumah, kini Angga sudah berada di kamar mandi. Dia nampak keheranan karena tak ada shower atau bak mandi.


Lalu Angga kembali mencari Widia dan ternyata Widia tengah menyiapkan makan malam.


"Sayang..." Panggil Angga.

__ADS_1


Widia yang mendengar Angga memanggilnya langsung menghampiri Angga.


"Ada apa?" Tanya Widia. Bukannya menjawab ucapan widia, Angga malah menarik tangan widia menuju kamar mandi.


"Ada apa sih, kenapa kau menarikku ke kamar mandi. Apa jangan-jangan kau ingin mengajakku berhubungan di kamar mandi. Ayolah Angga nanti saja." Ucap Widia.


Pletak...


Terdengar suara ketukan jidat Widia. "Pikiranmu itu kotor sekali Widia, aku mengajakmu ke sini bukan untuk itu." Ucap Angga.


"Lantas apa?" Tanya Widia.


"Kau lihat." Ucap Angga sambil menunjuk ke kamar mandi.


"Lihat apa?" Tanya Widia.


"Buka matamu Widia, kamar mandi ini tak ada shower atau pun bak mandi. Yang ada hanya sumur tua dan bahkan tak ada pompa air, terus aku mandi bagaimana jika tak ada air." Tanya Angga.


"Ya ampun Angga, kau pikir ini hotel." Ucap Widia lalu Widia berjalan menuju sumur tua. "Lihat ini, kau harus mengambil air dari sumurnya langsung menggunakan ember kecil ini." Jelas Widia. Lalu Widia langsung menimba air untuk memberikan contoh pada Angga.


Setelah selesai menimba air Widia langsung memasukkan air tersebut ke dalam ember yang lebih besar. "Aku sudah memberikan contohnya, sekarang kau bisa menimba dulu airnya, lalu kau mandi." Jelas Widia.


"Tapi sayang." Ucap Angga.


"Tapi apa lagi?" Tanya Widia.


"Aku tak bisa menimba air, bagaimana jika airnya berat dan aku tak sanggup mengangkatnya lalu aku terjatuh ke dalam sumur." Ucap Angga.


"Massa otot segeni gini gak bisa nimba air, terus otot itu kau pake apa? Hiasan? Udah ah aku mau nyiapin makan malam dulu." Lalu Widia langsung meninggalkan Angga.


Dengan berat hati Angga haru menimba air tersebut, sesekali dia tangannya terasa pegal karena dia tak biasa menimba air seperti ini.

__ADS_1


"Jika tahu akan begini aku tak mau datang kemari." Oceh Angga sambil terus menimba air.


__ADS_2