Aku Bukan Nona Malam

Aku Bukan Nona Malam
Eps. 72


__ADS_3

3 hari kemudian...


Kini widia tengah bersiap untuk pergi menemani sonia adik dari suaminya. Sementara angga hari ini sedang bekerja di perusahaan miliknya.


Tak beberapa lama datang sonia dengan mobil miliknya untuk menjemput widia, lalu widia langsung menaiki mobil sonia.


"Kak makasih yah udah mau nemenin aku jalan."


"Gak masalah kok, lagi pula aku juga bosen di rumah terus."


Lalu sonia langsung melajukan mobilnya ke jalan raya, di sepanjang jalan tak henti-hentinya sonia terus bercerita tentang kehidupan pribadinya. Dan widia setia mendengarkan cerita dari sonia.


Tak beberapa lama mobil sonia berhenti di sebuah caffe, lalu mereka berdua langsung turun dari dalam mobil dan berjalan memasuki caffe tersebut.


Kemudian sonia dan widia duduk di tempat paling pojok.


"Mau apa kita kemari?" Tany widia.


"Kata temen aku caffe ini lagi tenar, katanya penyanyi caffenya itu ganteng banget." Jelas sonia.


"Kamu ini yah! Inget pacar kamu."


"Hehehehe... Kali-kali kak kita itu sebagai wanita harus cuci mata."


"Iyah deh."


Lalu widia dan sonia memesan minuman, terlihat widia memainkan sedotan minuman miliknya.


"Kak, kak."


"Apa?" Sambil terus pokus pada minumannya.


"Penyanyi gantengnya udah dateng kak." Ujar sonia sambil menggoyang-goyangkan tubuh widia. "Ganteng banget loh kak."


Penasaran dengan ucapan sonia lalu mata widia mengikuti arah pandangan sonia. "Biasa aja." Pikir widia.


Terdengar suara sorakan dari para kaum hawa saat faizal menaiki panggung kecil yang ada di caffe tersebut.


"Terimakasih buat kalian semua, yang sudah mau menonton dan mendengarkan lagu saya. Hari ini saya akan menyanyikan lagu untuk kalian semua." Ucap faisal.


Lalu dia langsung memetik senar gitarnya.


Rasa sepi menghampiri


di saat aku sendiri


berharap kau menghadiri


meski hanya dalam mimpi


dalam relung hati ini


rasa ini belum mati


ingin milikimu lagi

__ADS_1


namun engkau telah pergi


kau selama ini ku cari


meski diriku harus terus berlari


mengejar dirimu yang telah lama pergi


tetapi apakah ini masih berarti?


Ku rindu di saat engkau tertawa


di saat engkau tersenyum


pada diriku


ku merindukan semua itu


dan kini kau telah pergi jauh


aku di sini yang selalu terus menunggumu


terus mengharapkanmu


cause i still loving you


***


Banyak tatapan mata kaum dari para kaum hawa saat mendengar suara faizal yang sangat merdu.


"Lumayan." Jawab widia. Entah kenapa ada perasaan familiar saat melihat pemuda tersebut. Widia merasa pernah melihatnya tapi dimana? Widia tak ingat.


Prok, Prok, Prok...


Terdengar suara tepuk tangan dari para pengunjung caffe saat faizal selesai menyanyikan lagi miliknya.


"Terimakasih."Ucapnya sambil membungkuk memberi hormat lalu faizal langsung pergi sebelum pergi sekilas matanya melihat wanita yang sudah lama dia cari.


***


Karena acara menyanyi sudah selesai sonia langsung mengajak widia untuk pulang.


"Kak ayo kita pulang!"Ajak sonia.


"Kok buru-buru? Minuman kamu juga bahkan belum habis loh."


"Tapi aku ke sini cuman pengen lihat faizal aja."


"Dasar kau ini yah! Ya udah ayo."


Lalu sonia dan widia langsung pergi meninggalkan caffe tersebut, dan widia meminta sonia untuk mengantarnya ke perusahaan angga saja.


Lalu sonia melajukan mobil miliknya ke arah perusahaan milik kakanya.


"Makasih yah sonia."

__ADS_1


"Akulah yang harusnya bilang makasih, kan kakak udah mau temenin aku."


Dan widia hanya tersenyum sebagai jawaban. "Ya udah kamu hati-hati di jalannya."


"Oke." Lalu mobil sonia langsung meninggalkan widia.


Setelah kepergian sonia, widia langsung masuk ke perusahaan angga. Banyak orang yang tersenyum padanya meski widia tahu jika di belakangnya mereka pasti menghujat widia dengan sumpah serapah mereka.


Kini widia sudah berada di ruangan angga terlihat angga tengah duduk bersantai di kursi kebesarannya.


"Angga." Panggil widia.


"Dengan siapa kau kemari?"


"Tadi dengan sonia."


Lalu angga menyuruh widia untuk duduk di pangkuannya.


"Aku merindukan aroma tubuhmu." Bisik angga.


"Kebiasaan. Baru tadi pagi kita ketemu."


Tanpa mereka sadari jika riko tengah mengintip dari celah pintu.


"Tak ku sangka tuan angga yang sangat kejam bisa di jinakkan oleh seorang wanita." Pikirnya.


"Aku tahu kau sedang mengintip. Riko. Keluarlah jika kau ingin gajihmu di potong bulan ini." Teriak angga.


Riko yang mendengar hal itu secara perlahan membuka pintu ruangan angga.


"Apa kau sekarang kurang kerjaan?" Tanya angga.


"Tidak, tidak tuan. Anu.. tadi saya mau mengantarkan undangan ini." Ucap riko sambil menyodorkan sebuah undangan.


"Apa ini?"


"Ini undangan makan malam dengan beberapa kolegat."


"Apakah undangan ini penting?"


"Tentu tuan."


"Baiklah jika penting aku akan datang bersama widia."


Widia yang mendengar hal itu langsung buka mulut. "Aku gak mau!"


"Why?" Tanya angga.


"Aku malu." Jawab widia.


"Istri seorang angga aji gumilar harus terbiasa menghadiri pesta seperti ini, angga saja pesta kali ini sebagai pelatihanmu." Ucap angga.


"Baiklah-baiklah." Jawab widia.


"Kau yang urus semuanya." Ucap angga pada riko.

__ADS_1


"Baik tuan." Lalu riko langsung meninggalkan sepasang suami istri yang tengah memadu kasih.


__ADS_2