
Terlihat kini widia memasuki apartemennya dan di dapatinya andi sedang memakan cemilan sambil nonton tv.
"Andi." Panggil widia.
"Ibu." Teriak andi sambil berlari menuju widia.
"Uhh, anak ibu gak nakalkan." Tanya widia.
"Gak bu, andi gak nakal."
"Dimana bi susi?"
"Bi susi lagi masak di dapur bu."
Lalu widia, langsung berjalan menuju kamarnya, dia terlihat sangat lelah. Ingin rasanya widia segera tidur tapi dia harus pergi ke suatu tempat dulu untuk membeli beberapa kebutuhannya.
Lalu widia langsung beranjak dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi, dia harus segera membersihkan badannya yang sangat lengket.
Skip.
Setelah selesai widia langsung berjalan menuju lemari dan mengambil beberapa pakaian yang pantas di gunakan, karena hari ini cukup gerah widia memilih kaos berwarna putih dan celana pendek dengan rambut di geray, siapa pun yang melihat pasti tak akan menyangka jika widia adalah wanita yang sudah memiliki anak.
Setelah puas dengan tampilannya widi langsung keluar dari kamar.
"Ibu mau kemana?" Tanya andi yang melihat ibunya memakai pakaian santai.
"Ibu mau ke supermarket dulu." Jawab widia.
"Andi ikut yah bu." Ucap andi.
"Gak andi, kamu di rumah aja sama bi susi."
__ADS_1
"Ya udah."
"Jangan marah dong, kamu mau beli apa nanti ibu beliin."
"Aku mau meli naget."
"Ya udah ibu nanti beliin, sekarang ibu pergi dulu yah."
"Iyah ibu, hati-hati di jalannya."
Sebelum pergi tak lupa widia mencium kening putranya.
Skip.
Kini widia tengah berjalan menuju supermarket terdekat, dan untungnya letaknya tak jauh dari tempat tinggal widia jadi dia tak perlu memakai taksi.
Di dalam supermarket...
Sambil membawa troli widia terus mencari barang kebutuhannya dan andi, dan juga membeli beberapa sayuran dan makanan. Tak lupa dia juga membeli makanan untuk bi susi dan juga makanan yang andi pesan.
"Aww.." Ringis pria itu.
"Maafkan saya, saya tak sengaja."
"Iyah tak apa." Saat pria itu menatap wajah widia seketika netralnya membulat.
"Widia."
Dan widia nampak terkejut dengan pria di hadapannya.
"Mas irwan."
__ADS_1
Seketika widia langsung berusaha kabur tapi tangan widia langsung di tangkap oleh irwan.
"Kau mau lari kemana widia." Ucap irwan sambil memegang tangan widia.
"Lepaskan mas, sakit." Ucap widia memberontak.
"Aku tak akan melepaskan sampai kau menjelaskan kenapa kau mengakhiri hubungan kita 8 tahun yang lalu widia."
Seketika widia langsung menatap irwan dengan mata berkaca-kaca.
"Aku tak pantas untukmu mas."
"Apa maksudmu widia."
Widia terus mencoba meleskan tangannya dari genggaman irwan lalu tanpa pikir panjang widia menginjak kaki irwan sehingga membuat irwan kesakitan, tak ingin menyia-nyiakan waktu widia langsung berlari menjauhi irwan tak lupa dia juga membawa troli yang berisi barang belanjaannya.
Dengan langkah buru-buru widia langsung pergi menuju kasir, dan setelah membayar semua barang belanjaannya widia langsung memberhentikan taksi.
"Widia." Teriak irwan.
Widia yang nampak panik saat melihat irwan, langsung buru-buru masuk ke dalam taksi.
"Cepetan bang." Ucap widia pada supir taksi tersebut.
Terlihat irwan menggerang frustasi karena dia tak bisa mendapat penjelasan dari widia.
"Kenapa kau dulu meninggalkanku widia dan sekarang kau bahkan seperti jijik melihat wajahku widia." Ucap irwan.
Di lain tempat...
Terlihat widia menghela nafas panjang, dan tak beberapa lama ada beberapa tetes air mata yang lolos dari matanya, dan widia langsung buru-buru menghapusnya.
__ADS_1
"Maafkan aku mas irwan. hiks, hiks, hiks..." Ucap widia sambil menangis.
Widia tak menyangka jika hari ini dia akan bertemu dengan irwan, bertemu dengan orang yang sangat widia cintai.