
Di dalam kamar terlihat widia duduk di tepi ranjang, lalu angga berjalan mendekati widia.
"Sayang?" Tanya angga.
"Apa mas angga." Jawab widia.
"Eh, kok panggil mas. Sejak kapan?" Tanya angga karena tak biasanya widia memanggilnya dengan kata 'Mas'.
"Enggak boleh?" Tanya widia jengkel.
"Enggak kok, boleh-boleh aja." Jawab angga. "Hem..."
"Apa?" Tanya widia.
"Aku mau tanya sesuatu, boleh?"
"Tanya apa?"
"Kalau nama panjang andi itu apa?"
"Nama panjang andi itu Andi Wahyudi. Emang kenapa?"
"Enggak, kamu dapet dari mana nama itu?"
"Hem, dari mana yah. Aku ngasal aja."
"Gak mungkin ngasal pasti ada alesannya."
"Hemm, kan andi lahir di bandung jadi aku namain andi wahyudi aja. Karena banyak tuh orang bandung yang namanya andi, jadi aku ngikut aja." Jawab widia santai.
Semantara angga hanya diam sambil menatap jengkel istrinya itu. "Kamu bilang kamu ngikut nama orang?"
"Iyah, emangnya kenapa?"
__ADS_1
"Pake nanya lagi. Kamu harusnya tahu nama andi itu kampungan banget tahu gak. Bahkan namaku saja lebih keren dari nama andi. Seharusnya kau pilih nama yang lebih bagus dan lebih cocok untuk anakku, masa nama anaknya Angga aji gumilar kampungan seperti itu."
Lalu widia hanya memutar bola matanya, bosan. Penyakit lebay angga sudah mulai kambuh lagi.
"Itu hakku lah, mau namain putraku seperti apa juga." Balas widia.
"Tak bisa seperti itu, dia juga putraku. Kita harus mengganti namanya."
"Ih, gak boleh. Aku udah nyaman panggil putraku dengan nama andi."
"Tapi nama itu kampungan widia."
Tak suka jika nama yang di berikan untuk putranya di sebut kampungan. "Hah? Kau bilang kampungan, terus emang namamu itu gak kampungan." Bentak widia.
"Oh, jelas gak kampungan. Angga Aji Gumilar. Itu nama yang sangat bagus." Ucap angga sambil menakan kata Angga aji gumilar.
"Cih, pokoknya aku gak mau dan gak rela jika nama putraku di ganti."
"Tapi nama itu kampungan widia."
"Tapi..."
Tok, tok, tok..
Sebelum angga ingin melanjutkan ucapannya, terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. Dengan geram angga langsung membuka pintu kamarnya dan ternyata pembantu rumah tangganya.
"Ada apa bi?" Tanya angga.
"Makan malamnya sudah siap tuan dan den andi juga sudah ada di meja makan." Ucapnya.
"Makasih bi."
Lalu angga dan widia langsung berjalan menuju meja makan, dan di sana sudah ada andi yang tengah duduk sambil menunggu kedatangan widia dan angga.
__ADS_1
Saat andi melihat kedua orang tuanya, terlihat rasa bingung saat melihat wajah ayah dan ibunya.
"Ayah, ibu!" Panggil andi.
"Ada apa nak?" Tanya widia.
"Muka kalian kenapa? Kaya yang lagi berantem gitu?" Tanya andi.
"Gak kok, tadi ibumu buat masalah." Ucap angga.
"Masalah apa?" Tanya andi.
"Biasa masalah besar tapi karena ayahmu ini sangat baik jadi ayah memaafkan kesalahan ibumu yang ceroboh itu." Ucap angga.
Lalu widia langsung menatap horor angga, karena angga yang mengatakan jika dirinya itu ceroboh.
"Hem, ibu harusnya bersyukur punya suami seperti ayah." Ucap andi.
"Kenapa ibu harus bersyukur?" Tanya widia dengan nada tak suka.
"Karena ayah orangnya pemaaf buktinya ayah memaafkan kesalahan ibu." Ucap andi.
"Harusnya kau tanya dulu apa kesalahan ibu pada ayahmu." Ucap widia.
"Oh, iyah-yah. Ayah memangnya kesalahan ibu apa?" Tanya andi.
Bukannya menjawab angga malah mengalihkan pembicaraan.
"Sudah-sudah, kita ini mau makan bukan mau ngobrol." Ucap angga.
Widia yang mendengar ucapan angga hanya memutar bola matanya bosan.
"Kebiasaan mengalihkan pembicaraan." Ucap widia pelan tapi masih bisa terdengar oleh angga.
__ADS_1
"Khem..." Dehem angga.
Lalu mereka memulai acara makan malam yang sempat tertunda karena perdebatan kecil.