Aku Bukan Nona Malam

Aku Bukan Nona Malam
Eps. 145


__ADS_3

Nampak Angga dan Widia tengah duduk di bangku taman yang berada di halaman belakang rumah mereka.


Terlihat Angga tengah mengelus dan sesekali mencium perut buncit milik Widia.


"Aku sudah tak sabar, Hem.. Kalau menurutmu nama apa yang cocok untuk anak kita nanti?" Tanya Angga pada istrinya.


"Terserah kau saja." Jawab Widia.


"Tapi yang jelas namanya harus bagus, dan mencerminkan nama anak seorang Angga." Ucap Angga bangga. Dan Widia hanya bisa memutar bola mata bosan.


"Mas, tolong ambillin mangga dong yang ada di kulkas." Pinta Widia.


"Oke, tunggu bentar yah." Ucap Angga, lalu Angga langsung pergi ke dapur untuk mengambil mangga yang Widia minta.


Nampak Widia melihat kupu-kupu yang berterbangan kesana-kemari. Terukir sebuah senyuman kebahagiaan di wajah Widia, dia sangat bahagia karena akhirnya dirinya dan juga Angga bisa hidup bahagia setelah sekian banyak lika-liku kehidupan mereka jalani bersama.


"Ini sayang." Ucap Angga.


"Kupasin." Pinta Widia.


"Baiklah, ibu ratu." Jawab Angga, lalu Angga pun mengupas kulit buah mangga.


Terlihat Widia memakan mangga tersebut, "Mangganya enak." Ucap Widia.


"Oh, jelas kan mangganya udah matang." Jawab Angga.


Lalu Angga menyuapi Widia dengan mangga yang tadi dia kupas dan di potong-potong, terlihat Angga dengan penuh perhatian menyuapi Widia. Dan Widia hanya tersenyum senang saat Angga memperlakukannya seperti itu.

__ADS_1


"Kapan kita akan membeli perlengkapan bayi?" Tanya Angga.


"Hem, gimana kalau besok?" Tanya Widia.


"Baiklah." Jawab Angga.


"Tapi kau pasti sibuk." Ucap Widia.


"Meski aku sesibuk apapun tapi aku pasti akan meluangkan waktu untuk istri kesayangan ku ini." Ucap Angga.


"Massa." Jawab Widia sambil tertawa.


"Kau tak percaya?" Tanya Angga.


"Tentu aku percaya." Jawab Widia.


"Oh, iya." Jawab Widia.


"Aku lupa berapa usia kandungan mu itu sayang?" Tanya Angga.


"Udah mau 7 bulan." Jawab Widia.


"Tinggal 2 bulan lagi yah." Jawab Angga.


"Kenapa?" Tanya Widia.


"Kok kenapa sih? Yah jelas aku udah gak sabar nunggu si Dede bayi ini lahir." Ucap Angga. Dan Widia hanya menatap senang suaminya itu, lalu Widia memegang kedua pipi suaminya itu.

__ADS_1


"Terimakasih." Ucap Widia.


"Terimakasih untuk apa?" Tanya Angga.


"Terimakasih untuk kebahagiaan yang telah kau berikan padaku." Ucap Widia.


"Kau tak perlu ucapkan terimakasih, harusnya aku yang berterimakasih." Ucap Angga.


"Kenapa?" Tanya Widia.


"Karena jika tanpamu, hidupku tak akan seperti ini." Jawab Angga.


Dan Widia hanya tersenyum sambil kembali membelai kedua pipi suaminya itu.


"I Love U." Ucap Widia.


"I Love U To, sayang." Jawab Angga.


Terlihat sebuah kebahagiaan dia mata Angga maupun Widia, mereka adalah dua orang yang saling melengkapi satu sama lain, baik itu berupa materi dan juga kasih sayang.


Tanpa Widia, mungkin Angga sekarang masihlah pria yang dulu. Pria yang sering bergonta-ganti pasangan setiap malam, dan pria yang tak akan menemukan kebahagiaannya.


Dan begitu pun Widia, tanpa Angga mungkin dia masih menjadi pemandu karaoke, meski berpacaran dengan Irwan tapi hubungan mereka tak akan pernah di restui oleh keluarga besar Irwan.


Jadi secara tak sadar, peristiwa yang awalnya pamit telah mempersatukan Angga dan Widia


dalam sebuah benang takdir yang telah di atur oleh Tuhan. Meski awalnya sebuah penderitaan tapi akhirnya berubah menjadi sebuah kebahagiaan.

__ADS_1


__ADS_2