
Di pagi hari yang cerah nampak widia tengah tertidur pulas lalu tak beberapa lama terdengar suara alarm yang berhasil membuat widia bangun.
"Hmmm..." Dengan mata yang masih menutup widia langsung mematikan alarm tersebut.
Kemudian tangannya meraba-raba tempat angga tidur tapi widia tak merasakan keberadaan angga, lalu mata widia seketika langsung terbuka.
"Kemana perginya dia?" Tanya widia pada dirinya sendiri.
Tak ingin memikirkan hal itu widia kembali menyelimuti tubuh polosnya dengan selimut, dan dia berniat untuk kembali tidur.
Di dalam pikirannya widia masih memikirkan kejadian semalam, saat dirinya dan angga melakukan sesuatu yang biasa sepasang suami istri lakukan.
Widia heran kenapa dulu saat dia di perkosa oleh angga dan sekarang sangat berbeda rasanya. Dulu yang dia rasanya hanyalah rasa sakit tapi sekarang kenikmatan yang widia rasakan.
Tak ingin memikirkan hal konyol itu lagi widia langsung beranjak ke kamar mandi, dia memilih untuk segera membersihkan tubuhnya.
Skip.
Setelah selesai mandi widia langsung memakai baju santai dan pergi ke ruang makan. Karena dia mengambil cuti untuk 3 hari jadi widia memilih untuk bersantai di rumah. Dan terlihat angga tengah berbicara di telpon dengan seseorang dari raut wajahnya nampak kaget dan bingung.
Rasa ingin tahu muncul di benak widia tapi widia tak mau mengganggu angga dan juga widia tak ingin mencampuri urusan pribadi angga.
Lalu widia berjalan ke dapur dan dia melihat sebuah catatan yang di tempel di kulkas.
"Kakak iparku tersayang, aku dan bunda membawa keponakkanku untuk menginap di rumah kami. Karena kami takut jika andi akan mengganggu malam pertama kalian."
Terlihat widia hanya tersenyum saat membaca pesan tersebut.
Lalu widia langsung mengambil beberapa bahan makanan dan membuat masakan untuk dirinya karena dia yakin jika angga pasti sudah makan.
Skip.
Kini makanan yang widia buat sudah jadi dan widia langsung memakan makanan tersebut, dan tak beberapa lama angga datang menghampiri widia.
"Widia, ada yang ingin aku bicarakan."
"Apa?" Jawab widia sambil mengunyah makanannya.
__ADS_1
"Anu..."
"Anu apa?"
"Aku bingung harus mulai dari mana."
"Katakan saja."
"Begini, aku memiliki seorang mantan kekasih."
"Terus?"
"Dan dia akan datang ke jakarta."
"Terus?"
"Dan kau ingat tentang syarat yang aku bilang jika aku tak boleh mengumbar jika kau adalah istriku."
"Iya terus?"
Terlihat mata widia sedikit membulat saat mendengar ucapan angga.
"Kenapa kau jadi setuju?"
"Memangnya salah jika aku setuju."
"Apa karena mantanmu akan datang ke jakarta?"
"Apa maksud dari ucapanmu itu."
"Tak ada maksud tapi itu benarkan?"
"Itu bukan urusanmu."
"Iya itu memang bukan urusanku, lagi pula kita cuman menikah hanya di atas kertas saja. Dan yah aku tak akan lagi mencampuri urusan pribadimu dan kau pun tak perlu mencampuri urusan pribadiku." Ucap widia sambil berjalan meninggalkan angga yang masih mematung.
Terlihat air mata widia menetes tapi dia langsung buru-buru menghapusnya.
__ADS_1
"Aku kira dia memang benar mencintaiku ternyara tidak, dari dulu aku hanyalah mainannya dan akan tetap seperti itu."
Mungkin keputusan untuk menikah dengan angga adalah kesalahan terbesarnya tapi demi andi, widia berusaha untuk menahan diri.
Kini terlihat angga diam mematung, angga tak menyangka jika yasmin akan kembali ke jakarta dan dia tak menyangka jika yasmin ingin kembali menjalin hubungan dengannya.
"Apa yang harus ku lakukan di satu sisi aku mencintai yasmi tapi sisi lain aku tak mau kehilangan widia."
Angga bingung harus berbuat apa. Tapi yang pasti angga harus memilih salah atu di antara dua wanita tersebut karena kau tak bisa mencintai dua wanita dalam satu waktu.
Di tempat lain..
Terlihat widia tengah membereskan baju-bajunya dia tak ingin tidur satu kamar dengan pria yang mencintai wanita lain dan widia memilih tidur di kamar tamu.
Dan mulai sekarang widia harus kembali menghapus rasa cintanya untuk angga, baru tadi malam dia bahagia dan tuhan sudah memberikan cobaan yang berat baginya.
"Widia apa yang kau lakukan." Tanya angga yang mendapati widia tengah membereskan barang-barang miliknya.
"Aku mau pindah kamar."
"Kenapa?"
"Aku tak mau sekamar dengan pria yang tak aku cintai."
"Kau tak bisa pindah kamar."
"Kenapa? itu hakku mau pindah kamar atau pun tidak."
"Aku suamimu widia jadi kau harus menuruti ucapanku."
"Suami kau bilang? Pria yang tak mencintai istrinya malah lebih mencintai wanita lain apa masih layak di sebut suami?"
"Apa maksumu widia?"
"Tak ada. Aku hanya sadar akan posisi ku sendiri."
Lalu widia langsung membawa barang-barang miliknya ke kamar tamu, terlihat angga hanya diam mematung. Angga tak menyangka jika widia akan marah besar dengan apa yang dia katakan tadi pagi.
__ADS_1