
Kini widia tinggal menunggu datangnya obat yang dia pesan, dan untuk sementara waktu widia harus bertingkah seperti biasa jangan sampai ibunya tahu jika dirinya sedang mengandung.
Sudah 4 hari dari waktu pemesanan, dan hari ini paketnya akan tiba. Terlihat widia sudah tak sabar ingin segera menerima paket tersebut.
Waktu sudah menunjukkan pukul 13.00, dan tak beberapa lama ada orang yang mengetuk pintu.
Dan terlihat bu rahayu membuka pintu.
"Siapa?" Tanya bu rahayu.
"Saya mengantarkan paket bu." Lalu kurir itu menyerahkan paket tersebut ke bu rahayu.
Terlihat bu rahayu kebingungan dengan paket tersebut, dan saat dia membaca keterangan dari paket itu, netral bu rahayu langsung membulat dengan langkah cepat dia langsung menghampiri widia yang tengah berada di dalam kamar.
"WIDIA." Teriak bu rahayu.
Widia di buat kanget dengan teriakan ibunya.
"Apa bu, kenapa harus teriak-teriak segala." Tanya widia.
__ADS_1
"Apa maksud ini." Sambil melemparkan paket tersebut ke wajah widia, terlihat widia sedikit kesakitan saat wajahnya di lempar oleh paket itu.
Widia langsung melihat benda yang di lempar oleh ibunya, seketika dia tak bisa bicara karena ibunya melihat paket yang dia pesan.
"Apa maksudnya itu widia, kenapa kamu memesan obat penggugur kandungan. JAWAB WIDIA." Bentak bu rahayu.
"A..ku..ha..mil.. Bu." Ucap widia lirih.
Bu rahayu langsung diam mematung saat mendengar ucapan widia.
"Astagfirullohalazim wi, anak siapa yang ada di dalam kandungan mu wi." Tanya bu rahayu sambil mengoyang-goyangkan pundak widia.
"Lantas apa maksud kamu memesan obat itu wi." Tany bu rahayu.
"Aku ingin mengugurkannya bu." Jawab widia.
"Astagfirullohalazim wi, istigfar wi istigfar, mengugurkan kandungan itu dosa wi itu sama dengan membunuh." Ucap bu rahayu menasehati.
"Jika aku mempertahankan anak ini, aku gak akan bisa sama mas irwan bu, ibu harus dukung aku." Ucap widia.
__ADS_1
Plak..
Satu tamparan mendarat di pipi widia, terlihat widia menatap ibunya sambil memengang pipi kanannya yang di tampar oleh ibunya.
"Anak itu titipan dari gusti Allah untuk mu wi, dan sekarang kamu mau mengugurkannya gitu aja, banyak orang yang ingin punya anak tapi mereka tak bisa dan kau malah ingin mengugurkannya." Bentak bu rahayu.
"Tapi bu, aku benci anak ini, dia telah merenggut kebahagianku." Ucap widia.
"Wi, ini semua sudah di takdirkan, jika seperti ini memang sudah takdirnya. Dan mungkin kamu dan den irwan memang tak berjodoh." Ucap bu rahayu.
Terlihat widia hanya bisa menangis memeluk kedua lututnya, dia tak sanggup meninggalkan irwan, orang yang sangat dia cintai.
Kini widia tengah memikirkan irwan, dia tak ingin membuat irwan menanggung malu akibat dirinya dan mungkin irwan memang bukan jodohnya.
Lalu widia segera mengkemasi barang-barangnya ke dalam koper, dan dia juga menyuruh ibunya segera berkemas.
"Kita harus pergi bu."
Ibunya hanya bisa menuruti ucapan widia, kini mereka pun langsung berkemas dan hendak meninggalkan kota jakarta.
__ADS_1
Terlihat widia hanya bisa menahan rasa sedihnya, dia tak ingin berpisah dengan irwan tapi apa boleh buat dia tak bisa bersama dengan irwan karena dia sedang mengandung anak orang lain.